ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Ritual Tawur Agung Kesanga di Pura Besakih
Senin, 11 Maret 2013 | 13:05

BESAKIH-Ritual upacara "Tawur Agung Kesanga" atau korban suci untuk keharmonisan alam semesta yang diselenggarakan di pelataran Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, dihadiri umat Hindu dari pelosok desa di Bali.

"Kegiatan upacara Tawur Agung Kesanga saat ini dalam tingkatan Tabuh Gentuh dengan menyembelih sejumlah hewan sebagai kurban suci," kata Jero Mangku Gede Pande, panitia kegiatan ritual tersebut kepada Antara di Besakih, Senin (11/3).

Ia mengatakan bahwa puluhan jenis bintang kurban melengkapi kegiatan ritual Tawur Kesanga berkaitan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935. Adapun binatang kurban kelengkapan upacara itu, antara lain, kerbau, sapi, kambing, kijang, angsa, itik, burung kerkuak, babi, ayam, dan kera.

"Semua jenis binatang kurban tersebut disucikan (mapepada) yang telah dilakukan pada hari Minggu (10/3) atau sehari sebelum kegiatan ritual ini," katanya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Gubernur Anak Agung Puspayoga, serta Bupati Karangasem I Wayan Geredeg berbaur dengan umat dari berbagai pelosok perdesaan di Pulau Dewata.

Kegiatan yang bermakna membersihkan alam semesta secara spiritual itu dipimpin oleh tiga rohaniawan, yakni Ida Pedanda Siwa, Ida Pedanda Buddha, dan Ida Rsi Bujangga Waisnawa.

Acara persembahyangan berlangsung khidmat yang diiringi dengan lantunan lagu-lagu kerohanian (kekidung) serta alunan instrumen gamelan Bali.

Selain itu, juga dipentaskan tarian wali Bali, yaitu Topeng Sidakarya dan Wayang Lemah serta kurban lainnya berupa Tabuh Rah atau sabung ayam.

Berdasarkan sejarah keberadaan Pura Agung Besakih merupakan tempat suci umat Hindu terbesar di Bali yang berada di kaki Gunung Agung itu mempunyai arti penting bagi kehidupan umat Hindu adalah tempat beristananya para Dewa.

Pura Besakih juga berfungsi sebagai Pura Rwa Bhineda, Sad Kahyangan Jagat, Padma Bhuana, dan pusat dari segala kegiatan upacara keagamaan.

Perhatian terhadap Pura Besakih dimulai sejak pemerintahan Raja Sri Udayana Warmadewa (pada tahun 1007) hingga pemerintahan raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan (pada tahun 1444 dan 1454 Masehi).

Perhatian besar sang raja itu dilanjutkan pada zaman penjajahan Hindia Belanda di Indonesia dalam bentuk restorasi secara besar-besaran terhadap beberapa kompleks bangunan suci yang rusak akibat bencana alam.(*/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!