ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 29 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Ridwan Zachrie, Hidup Harus Dinamis
Senin, 1 Agustus 2011 | 10:58

Ingin sukses? Hiduplah dengan dinamis. Jangan pasif. Jangan statis. Jangan pernah berhenti berkarya. Jangan berhenti belajar. Dan, jangan ragu untuk berbuat hal positif. Setidaknya, itulah filosofi yang telah mengantarkan Ridwan Zachrie ke puncak pencapaian kariernya saat ini: menjadi eksekutif terpandang di Tanah Air. Lalu, apa kata Ridwan tentang proses transformasi diri?

Siapa tak kenal PT Recapital Advisors-Recapital Group? Sebagian besar pelaku bisnis di Tanah Air mengenal nama perusahaan investasi tersebut. Recapital merupakan salah satu perusahaan investasi terdepan di Indonesia yang juga termasuk dalam lima besar perusahaan investasi di lingkup regional.

Tentu saja perusahaan investasi yang didirikan pengusaha muda Sandiaga Salahuddin Uno dan Rosan P Roslani itu juga tak bisa lepas dari sosok Ridwan Zachrie. Maklum, pria kelahiran Jakarta, 27 April 1969 ini merupakan salah satu pengibar bendera Recapital yang punya andil besar dalam memajukan perusahaan tersebut. Ridwan sempat menduduki jabatan penting di Recapital Group, seperti komisaris di PT Asuransi Jiwa Recapital (2007-2011), hingga menjadi managing director di PT Recapital Advisors - Recapital Group (2006-2011). Sejak 2008, dia pun dipercaya menjadi salah satu komisaris di PT Recapital Securities.

Jalan hidup Ridwan Zachrie bisa dikatakan ‘mulus’. Dimulai pada 1991, ketika dia menjadi lulusan dengan nilai yang membanggakan (distinction) dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti, sekaligus menjadi lulusan tercepat dari fakultas hukum tersebut. Lulus dari Trisakti, selang beberapa tahun kemudian, Ridwan Zachrie berhasil meraih gelar master di bidang ekonomi dari London School of Economics dan gelar master di bidang hukum dari Indonesian Institute of Business Law, juga dengan nilai yang membanggakan. Ridwan kemudian melanjutkan pendidikannya hingga tingkat doktoral.

Ridwan Zachrie memulai karier profesionalnya sebagai staf, kemudian menjadi assistant manager di Citibank NA. Dia juga pernah menjabat sebagai assistant vice president di Hongkong and Shanghai Bank Corp (HSBC) dan vice president di PT Bank Mandiri Tbk.

Ridwan pun sempat bekerja untuk pemerintah sebagai diplomat yang bertanggung jawab menangani isu-isu perekonomian dan perdagangan. Pada masa jabatannya di Kementerian Luar Negeri tersebut, Ridwan yang pernah ditempatkan di Inggris dan Selandia Baru, dianugerahi penghargaan sebagai salah satu diplomat terbaik dari Indonesian School of Diplomacy.

Dalam lima tahun terakhir, Ridwan Zachrie mendedikasikan diri untuk menyosialisasikan kebijakan dan praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) di Indonesia. Dedikasinya dalam menyosialisasikan GCG telah membawanya menjadi pemenang United Kingdom (UK) Alumni Award 2008, sebuah program yang diprakarsai British Council Indonesia.

Sifat terbuka, teguh memegang prinsip, berjiwa sosial, dan selalu berpikir serta bertindak profesional yang melekat dalam diri Ridwan Zachrie tak bisa dilepaskan dari orangtuanya. Ayah Ridwan, Den Zachrie, adalah seorang diplomat. Sedangkan ibunya, Rubyanti Jasin, adalah putri pertama Jenderal Polisi (Purn) Mochammad Jasin dan Siti Aliyah Kessing.

Mochammad Jasin merupakan ‘proklamator’ berdirinya Kepolisian Indonesia pada 1945 dan ‘Bapak Brigade Mobil (Brimob) Indonesia’. Kini, Ridwan Zachrie dipercaya menjadi chief executive officer (CEO) di Tanri Abeng & Son (Tason) Holdings, perusahaan milik mantan Menneg Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng, yang bergerak di sektor perkebunan, energi, distribusi, dan investasi.

“Saya tertantang untuk membawa perusahaan ini ke tahap yang lebih maju,” ujar pria berkepribadian ramah tersebut.

Bagi eksekutif berusia 41 tahun ini, dengan menjadi CEO di Tason Holdings, ia juga bisa mengekspresikan langsung gagasan-gagasannya. Itu karena ia tak lagi menjadi ‘orang kedua’. “Sekarang saya tidak lagi menjadi second man. Saya punya kesempatan untuk bisa memperluas exposure saya,” tutur Ridwan Zachrie.

Untuk mengetahui lebih jauh gagasan, prinsip, filosofi hidup, serta alasannya meninggalkan Recapital dan bergabung dengan Tason Holdings, wartawan Investor Daily Heriyono, Retno Ayuningtyas, Abdul Aziz, dan pewarta foto Eko S Hilman mewawancarai CEO berpenampilan klimis itu di kantornya, baru-baru ini. Berikut petikan lengkapnya.

Alasan Anda bergabung dengan Tason Holdings?
Kepindahan saya ke Tason dari Recapital karena ingin mencoba sebuah tantangan yang baru. Secara maturity, Recapital sudah cukup berkembang dan maju pesat. Organisasi di Recapital sebagai sebuah perusahaan yang modern juga sudah sangat bagus. Janji saya kepada Pak Rosan untuk creating sesuatu selama saya lima tahun menjadi managing director di Recapital sudah tercapai. Saya pun sudah membuat tim yang bisa meneruskan pekerjaan saya di Recapital.

Bukan karena Anda bosan menjadi ‘orang nomor dua’ di Recapital?
Ha, ha, ha. Ketika saya mendapat tawaran dari Pak Tanri Abeng, yang ada di benak saya adalah sudah waktunya saya tampil dan menjadi orang nomor satu di sebuah perusahaan. Saya pun berdiskusi dengan Pak Sandiaga dan Pak Rosan mengenai tawaran itu. Setelah mendapat izin dari Pak Sandiaga dan Pak Rosan, saya pun langsung mengambil opportunity tersebut.

Ada alasan lain?
Saya tertantang untuk membawa grup ini ke tahap yang lebih maju. Saya melihat grup ini punya opportunity yang cukup bagus. Apalagi di grup ini ada sosok Pak Tanri Abeng yang secara market sudah cukup menjual. Saya mendapat tawaran itu langsung dari Pak Tanri. Bagi saya, belajar sesuatu dari orang seperti Pak Tanri luar biasa. Ketika beliau bilang, kamu jadi CEO, buat saya itu merupakan sebuah penghargaan besar.

Meskipun sekarang saya menjadi CEO, day to day saya tetap harus belajar. Tason Holdings ingin mengubah citra dari perusahaan keluarga ke korporasi modern. Oleh sebab itu, mereka memasukkan profesional dari nonkeluarga. Jadi, bukan sekadar faktor salary, tapi challenge.

Kalau dulu di Recapital sebagai posisi managing director lebih kepada second man, di mana Pak Rosan yang running all the show, saya sebagai managing director lebih mengatur manajemen di dalam. Sekarang setelah jadi CEO di Tason, saya harus running all the show. Saya merasa punya modal cukup untuk posisi tersebut. Sekali lagi, ini masalah opportunity. Opportunity tidak datang dua kali. Sekarang saya tidak lagi menjadi second man, dan punya kesempatan untuk bias memperluas exposure saya.

Apa perbedaan mendasar antara perusahaan keluarga dan perusahaan modern?
Secara kasat mata tidak begitu mencolok. Namun, secara garis besar, dalam perusahaan yang isinya keluarga semua, keputusan yang diambil mencerminkan kepentingan keluarga semata, belum tentu korporasi. Tapi kalau ada profesional dari luar, ia bisa diajak memikirkan yang terbaik untuk perusahaan.

Tantangan terbesar Anda di Tason?
Tantangan di sini adalah creating value sesuatu yang baru. Mesti diakui, perusahaan keluarga itu lebih bersifat konvensional. Nah, tugas saya adalah bagaimana mentransfer perusahaan ini ke arah korporasi modern.

Apa yang pertama kali Anda lakukan?
Saya melakukan review para pegawai. Saya pun membuat rencana bisnis perusahaan ini akan fokus ke mana, berapa investasi yang dibutuhkan, dan lain sebagainya. Saya coba mentransformasi yang tadinya lebih ke family company menjadi modern company. Di perusahaan ini, involvement owner sudah terbentuk, tapi bagaimana agar involvement owner itu bisa saya transformasikan supaya bias menjadi lebih komprehensif. Dengan demikian, ketika duduk di manajemen untuk mengelola perusahaan, yang harus dicapai bukan saja kepentingan keluarga, tetapi juga kepentingan yang lebih luas.

Hambatan utama Anda?
Hambatan pertama dan terbesar adalah mengubah kultur. Selama ini baru business as usual, baru melihat perusahaan ini bagaimana meraih profit. Saya tertantang bagaimana membuat lebih dari itu, menjalankan bisnis day to day dan menjadi lebih strategis. Persoalannya adalah bagaimana memacu orang-orang agar bisa mengikuti sistem yang baru. Dan, itu belum tentu semuanya bisa. Saya membentuk tim baru. Tapi perubahan yang saya buat, kalau bisa, tanpa menimbulkan gejolak yang besar. Kalau melakukan revolusi tapi timbul gejolak besar, hasilnya juga belum tentu baik.

Kiat dan strategi yang Anda terapkan?
Jangan sampai begitu masuk, saya langsung merasa bisa mengubah semuanya. Harus dibangun ownership dari level tertinggi hingga paling bawah. Mereka harus merasa memiliki terhadap perubahan yang terjadi. Ini membutuhkan waktu. Soal kultur, sering perusahaan yang tumbuh dari bawah, karena akarnya dari keluarga, ketika datang orang lain pasti akan ada gesekan. Itu hal yang lumrah.

Sebab, tidak setiap orang mau ada perubahan. Ada yang sudah nyaman berada di comfort zone. Saya tanamkan, kalau seperti ini saja, growth tidak besar. Saya ingin  perusahaan keluarga ini bertahan lama. Maka saya dengan didukung tim dari keluarga Pak Tanri Abeng membuat policy baru. Saya membuat sebuah komite investasi, di mana ada anggota keluarga Pak Tanri juga di situ. Tujuan dan tugas komite adalah memutuskan strategi yang akan diambil perusahaan.

Anda punya gaya dan karakter kepemimpinan seperti apa?
Saya menghindari otoriter, saya demokratis, tetapi tetap harus strong. Nanti kalau terlalu dilepas bisa kayak bangsa kita. Harus strong lead. Makanya dibentuk komite, sebuah organinasi cerminan demokratis tapi tetap di bawah arahan, bahkan sampai yang paling bawah.

Nilai-nilai yang Anda terapkan di perusahaan?
Saya dari dulu selalu punya tiga pilar, yakni dalam berkarya selalu harus berinovasi, segala sesuatu mesti good governance, di mana pada akhirnya menciptakan sesuatu untuk kepentingan bangsa. Setiap aktivitas bisnis yang saya lakukan harus mencerminkan itu.

Apa obsesi Anda di perusahaan ini?
Saya ingin membawa grup ini ke next stage, ke level yang lebih tinggi, dan menjadi korporasi modern. Salah satu yang akan diupayakan adalah meng-go public-kan perusahaan di  bawah grup ini.

Ini menyangkut reputasi. Anda tidak takut gagal?
Apa pun pasti ada risikonya. Tetapi tentunya harus bisa diukur. Saya confidence, karena perusahaan ini dimiliki orang hebat yang pernah memimpin korporasi lebih besar. Faktor gagal itu kan karena ada shareholder yang tidak mendukung. Perusahaan ini mendapat dukungan dari shareholder.

Apakah ini pencapaian terakhir karier Anda?

Bisa saja, who never know. Ini suatu transformasi bagi diri saya. Saya masuk ke Recapital mentransformasi, dan berhasil. Ada rasa puas. Sekarang saya pindah di perusahaan lain dan menjadi pucuk pimpinan. Proses transformasi kali ini harus jauh lebih hebat. Bisa jadi ke depan, saya ingin membuat perusahaan sendiri, kita tidak pernah tahu.

Apa filosofi hidup Anda?
Hidup harus dinamis, jangan pernah berhenti berkarya di perusahaan sendiri atau orang lain. Jangan berhenti berbuat hal positif, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Arti keluarga bagi Anda?
Keluarga adalah sumber inspirasi saya. Tanpa mereka, saya tidak akan seperti ini. Kepada anak-anak dan istri, saya tanamkan juga nilai-nilai hidup dan filosofi yang saya pegang.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!