RI-Ekuador Jajaki Peluang Kerja Sama Energi
Minggu, 24 Juni 2012 | 3:44
blok migas
QUITO-Pemerintah Indonesia dan Ekuador menjajaki sejumlah
peluang kerja sama di bidang energi, pertanian, kehutanan, telekomunikasi, dan
upaya mengatasi kejahatan transnasional.
Penjajakan peluang peningkatan kerja sama bilateral itu dilakukan oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Rafael Correa Delgado di Istana
Carondelet, Quito, Ekuador, Sabtu waktu setempat.
"Hubungan antara Indonesia dan Ekuador baik dan terus berkembang tapi
menurut saya masih ada ruang untuk meningkatkan kembali," kata Presiden
Yudhoyono.
Presiden kemudian mencontohkan sejumlah peluang kerja sama antara lain di
bidang energi dan pertambangan, pertanian, kehutanan dan lingkungan hidup,
telekomunikasi, upaya mengatasi kejahatan lintas batas dan kerja sama di forum
global. Namun pada kesempatan itu tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai
peluang masing-masing kerja sama tersebut.
"Saya senang pembicaraan (bilateral) sangat produktif dan kita ingin
mengimplementasikannya di waktu mendatang," katanya.
Kepala Negara kemudian memuji sambutan ramah Ekuador dalam kunjungan kenegaraan
pertama Presiden Republik Indonesia di salah satu negara Amerika Latin itu.
Sementara itu Presiden Correa menyampaikan harapannya untuk peningkatan kerja
sama kedua negara.
Ia terutama menggarisbawahi kerja sama di bidang perminyakan, keamanan, dan
kelautan.
"Ekuador memiliki kawasan laut lima kali daratan sehingga kita memiliki
potensi besar untuk dikembangkan," katanya seraya mengemukakan harapannya
Indonesia dapat berbagi pengalaman sebagai negara dengan 17 ribu pulau.
Hubungan diplomatik RI-Ekuador dibuka pada 29 April 1980. Indonesia membuka
kantor kedutaan di Quito, ibu kota Ekuador, pada 11 November 2010, namun Dubes
Saut Maruli Gultom baru resmi menempati posnya pada 15 Maret 2012. Sedangkan
Dubes Ekuador untuk Indonesia Alberto Calderon Ledesma resmi diangkat pada 1
Februari 2010.
Indonesia-Ekuador telah memiliki sejumlah perjanjian kerja sama, antara lain di
bidang ekonomi dan teknik (2005), pertukaran nota pembentukan komisi bersama
(2006), MoU pembentukan konsultasi bilateral (2006), MoU kerja sama energi dan
pertambangan (2006), dan MoU kerja sama telekomunikasi (2006).
Kedua negara juga memiliki MoU kerja sama antara pusat pendidikan dan pelatihan
Kementerian Luar Negeri RI dan Akademi Diplomatik Ekuador (2006), MoU kerja
sama kebudayaan (2006), dan MoU pertukaran nota pemberian bebas visa bagi
pemegang paspor biasa (2008).
Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan tersebut, antara lain, Menko
Perekonomian Hatta Rajasa, Menlu Marty Natalegawa, Mendag Gita Wirjawan, dan
Sekretaris Kabinet Dipo Alam. (ant/hrb)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Maharani Diajak Berhubungan Intim dengan Fathanah di Hotel
Enam Terpidana Mati akan Dieksekusi
Penangkapan Aiptu LS Merupakan Upaya Paksa
Ahmad Fathanah Mengaku Memberikan Sumbangan pada PKS
76,67 Persen Pemilih Partai Demokrat akan Bermigrasi
Ekonomi RI Lebih Stabil dari Tiongkok dan India