ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Rawan Korupsi, Dahlan Iskan Usulkan Pembubaran Petral
Selasa, 21 Februari 2012 | 17:24

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengusulkan pembubaran anak usaha PT Pertamina, Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Usulan tersebut pun menurut Dahlan disetujui oleh Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan.

”Saya sudah melakukan pembicaraan dengan Dirut Pertamina terkait Petral. Pertamina sering terganggu citranya karena banyaknya isu mengenai Petral, dan dirutnya pun setuju,” ujar Dahlan Iskan di kantor Kementerian BUMN, hari ini.

Menurut Dahlan, selama ini Petral banyak diisukan sebagai tempat korupsi para pejabat Pertamina karena Petral merupakan anak perusahaan Pertamina yang terletak di Singapura.

Petral pun diisukan sengaja dikantorkan di Singapura agar lebih sulit dikontrol dan lebih mudah menyembunyikan segala sesuatu.

”Banyak yang isukan Petral dipakai tempat korupsi, tempat main-main karena Petral itu anak perusahaan Pertamina yang kantornya di Singapura sehingga lebih mudah menyembunyikan sesuatu atau lebih sulit mengontrolnya. Bahkan ada yang menuduh komisi yang diterima orang-orang tertentu dari transaksi Petral bisa berapa barel per tahun,” tutur Dahlan.

Banyaknya isu tersebut menurut Dahlan akan mengganggu para Direksi Pertamina dalam bekerja, terutama terkait dengan good corporate governance (GCG). Hal tersebutlah yang melandasi Dahlan untuk mengajak Dirut Pertamina Karen Agustiawan untuk membubarkan Petral.

”Awalnya Bu Karen mempertanyakan, jika dibubarkan, tugas Petral siapa yang gantikan dan saya jawab, saya tidak tahu. Tetapi akhirnya Bu Karen setuju dengan syarat, jika dibubarkan, tugas yang saat ini dilakukan oleh Petral jangan dikembalikan seperti dulu sebelum Petral berdiri,” terang Dahlan.

Dahlan menjelaskan, sebelum Petral didirikan, tugas-tugas yang saat ini dikerjakan oleh Petral, yakni membeli minyak mentah untuk dikelola di kilang minyak Pertamina dan membeli BBM di luar negeri ditangani oleh  dua direktur pertamina. Namun, menurut Dahlan, Karen menolak jika konsep tersebut dikembalikan karena dianggap lebih sulit dikontrol dan justru dapat merusak citra Pertamina.

”Ini menganggu kerja direksi pertamina yang sekarang mati-matian bangun good corporate governance. Bu Karen bilang sebaiknya Petral dibubarkan, atau pilihan kedua, ditarik ke dalam negeri, tetapi jangan dijadikan anak usaha Pertamina karena kalau ditarik dalam negeri, jadi anak usaha, nanti Pertamina akan kembali terbawa,” ungkap Dahlan.

Untuk itu, Dahlan pun mengusulkan agar tugas-tugas anak usaha Pertamina tersebut nantinya dapat ditangani oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Pasalnya, selama ini Petral menangani perdagangan minyak, yang serupa dengan lini bisnis PT PPI.

”Sebab, ini kan masalah trading. Tetapi ini baru gagasan. Yang jelas Pertamina tidak keberatan melepaskan Petral. Jadi jangan ada anggapan, Pertamina senang memiliki Petral. Jadi nanti Pertamina kalau tidak menangani Petral bisa seperti Petronas. Kalau dibandingkan Petronas lebih head on,  karena Petronas tidak dibebani tugas yang diberikan seperti Pertamina, yakni subsidi BBM,” terang dia.

Dahlan menegaskan pembubaran Petral tidak dimaksudkan untuk menghapuskan jejak jika seandainya korupsi terjadi pada tubuh Petral. Dia pun mempersilakan jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut ingin melakukan pemeriksaan terhadap anak perusahaan Pertamina tersebut.

”Kalau diperiksa atau tidak terserah KPK. Pertamina tidak takut, tetapi merasa terganggu,” ungkap dia. (beritasatu.com)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Close