ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 19 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Randall Hart, Sukses Adalah Berguna bagi Orang Lain
Senin, 5 September 2011 | 12:05

Dalam urusan bisnis produk pemadam kebakaran, siapa tak kenal Randall Hart? Dialah penemu sekaligus pengusaha bahan kimia anti-api yang sukses memasarkan produknya di mancanegara. Orang Indonesia tulen ini meyakini satu hal, seseorang bisa dianggap sukses jika bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, jujur, dan tidak serakah.

Fokus pada setiap bidang yang digelutinya merupakan salah satu kunci sukses Presiden Direktur Hartindo Group Randall Hart dalam menapaki karier dan menjalani hidup ini. Bahkan, dengan kiat tersebut, pria kelahiran Surabaya, 16 Maret 1956, itu sukses merintis dan mengembangkan usaha dari hasil temuan ilmiahnya di bidang ramuan kimia untuk pemadam kebakaran, meski latar belakang pendidikan resminya adalah bidang robotik.

“Saya bersyukur karena hasil temuan saya telah dimanfaatkan banyak negara, terutama di Eropa dan AS,” kata Randall Hart kepada wartawan Investor Daily Amrozi Amenan di Surabaya, belum lama ini.

Di bawah bendera Hartindo Group yang dirintisnya, Randall memang telah membuktikan diri sebagai pengusaha yang tak sekadar jago kandang, tapi juga mampu unjuk gigi di banyak negara, seperti Malaysia, Thailand, Arab Saudi, Perancis, Inggris, dan AS.

Keputusan mengakuisisi 60% saham perusahaan ECoBlu yang bermarkas di New Jersey, AS, pada November 2010 dengan nilai transaksi US$ 20 juta kian mengokohkan bisnisnya di Negeri Paman Sam. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Saya sempat meniti karier sebagai production engineering Mobil Oil Indonesia sejak 1983 hingga 1985 dan sebagai petroleum engineering UK mulai 1986 hingga 1990, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri, yaitu Hartindo Group, sampai sekarang.

Pada sejumlah perusahaan yang berada di bawah bendera Hartindo Group, saya menjabat sebagai managing director, yakni PT Hart Industries Limited (UK), London, Inggris, sejak 1990, PT Hartindo Chemicatama Industri mulai 1992, Newstar Holdings Singapore sejak 1995, dan Newstar Chemicals Malaysia sejak 2000.

Itu semua berkaitan dengan latar belakang pendidikan Anda?
Setelah lulus dari SMA Pangudi Luhur di Jakarta, saya melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Trisakti Jakarta. Tetapi, pada usia 18 tahun, saya melanjutkan pendidikan di London, Inggris. Di sana saya tidak boleh terus melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi harus mengulang pendidikan SMA selama di Indonesia. Saya lantas masuk ke Advance Levelin Science (Haunslow Baraugh College London, UK). Setelah lulus, saya melanjutkan pendidikan pada jurusan mechanical engineering di Queen Mary College London University dan lulus pada 1980. Setelah menyelesaikan studi, saya memilih tinggal di Inggris selama hampir 20 tahun.

Kenapa Anda tidak menjadi ilmuwan atau akademisi?
Dengan berkarier seperti saat ini, kesempatan saya untuk mengembangkan hasil temuan saya berupa formula antikebakaran dapat saya lakukan. Saya juga bisa mencegah penyalahgunaan dari formula itu dari tujuan saat saya menemukannya. Jadi, saya bisa mengembangkan sekaligus mengontrolnya. Jika hanya sebagai ilmuwan, saya mungkin seperti banyak ilmuwan lainnya yang tidak dapat melihat hasil karyanya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, apalagi berguna bagi masyarakat. Hampir 90% ilmuwan meninggal atau sakit jiwa, 10% saja yang masih hidup.

Bisa dijelaskan lebih detail tentang teori dan penemuan Anda?
Sesuai dengan teori kimia yang ada, partikel terkecil di dalam setiap benda adalah atom berupa elektron yang diselimuti tujuh orbit. Dari berbagai percobaan yang saya lakukan, saya tuangkan menjadi teori saya itu. Jika elektron dipanaskan akan menghasilkan energi yang berusaha keluar dari orbitnya. Apabila sudah keluar dari orbitnya yang ketujuh, tenaga yang dimilikinya semakin besar, yang dikenal sebagai api. Itu berlaku pada setiap benda, hanya titiknya berbedabeda. Namun, kalau dapat menetralisasi elektron yang akan keluar dari orbitnya, kita dapat mencegah timbulnya api.

Seperti itulah teori yang saya ciptakan, di mana gas yang saya gunakan dapat menetralisasi electron yang dapat menjadi api. Karena waktu itu saya tidak pandai membuatnya, maka saya beri nama teori free radical.

Apa motivasi Anda waktu itu?
Saya tertarik mengembangkan temuan ilmiah saya itu karena tidak puas dengan teori konvensional pemadam api atau kebakaran yang dipercayai sebelumnya. Secara konvensional, teori pemadam api berbentuk segitiga. Ada tiga elemen yang dapat menimbulkan api, yaitu panas, oksigen, dan bahan bakar. Jika ketiga unsur ini bersatu dapat menimbulkan api. Sebaliknya, bila satu unsur dan elemen-elemen itu diambil, api akan padam. Teori ini tidak salah, hanya kurang lengkap.

Anda menemukannya tiba-tiba atau berdasarkan observasi sejak lama?
Ceritanya berawal saat saya mengerjakan proyek robot untuk mengambil sebutir telur dengan berat dan dimensi tertentu yang tidak boleh pecah. Dari 30 jenis telur yang dicampur menjadi satu, saya menghadapi sedikit masalah dengan bahan baku yang digunakan, di mana sendi tangan robot yang terbuat dari aluminium menjadi terlalu panas akibat gesekan-gesekan karena bergerak dengan sangat cepat, sehingga cara kerjanya menjadi tidak akurat lagi.

Tapi, masalah yang saya hadapi saat itu sebetulnya bukan dengan robotnya, melainkan dengan lubricant atau lubrikasi (pelumasan) yang digunakan. Saat itu, sekitar tahun 1979, para ilmuwan sudah dilarang menggunakan bahan lubrikasi karena menimbulkan polusi. Hidrokarbon juga tidak boleh digunakan. Oleh sebab itu, saya kemudian menggunakan bahan-bahan alami, yaitu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Saat membuat lubricant dari campuran minyak tumbuh-tumbuhan untuk memperbaiki kinerja robot dalam proyek yang tengah saya kerjakan, secara tidak sengaja ada kecelakaan kecil. Saya menemukan bahan kimia yang dapat memindahkan dan mencegah timbulnya api. Ketika lubricant yang saya buat sudah jadi, namun masih harus dites, gelas lubricant itu tersenggol dan jatuh. Gelas lubricant mengenai tungku pemanas.

Saat insiden itu, api yang tengah menyala seolah-olah tertiup angin dan menghindari bahan lubricant. Ketika itu, saya sebetulnya tidak terlalu memperhatikannya. Namun, salah seorang dosen saya, Profesor Evans, yang kebetulan berada di belakang saya memperhatikan kejadian itu. Kemudian ia meminta saya mengulang kejadian tersebut selama beberapa kali secara konsisten. Profesor Evans yang spesialis di bidang mekanik itu menyarankan saya memfokuskan diri pada masalah api, walaupun itu bukan bidang saya. Atas saran dia, kemudian saya mengikuti kursus kimia. Selain mengikuti kursus, saya banyak membaca di perpustakaan untuk mempelajari dan memperdalam masalah api secara langsung.

Dari situ saya dapat mengetahui bahwa bahan lubricant yang saya buat waktu itu, jika terkena panas akan mengeluarkan uap yang akan menyerang dan dapat memadamkan api yang sedang menyala. Hasil temuan itu akhirnya memberi pengaruh luar biasa bagi diri saya, karena temuan itu akhirnya dimanfaatkan masyarakat dunia. Tapi, temuan itu juga berkat Prof Evans yang memperhatikan apa yang saya kerjakan.

Berapa lama dan berapa banyak biaya yang Anda keluarkan?
Pada 1979, dari temuan awal itu, saya kembangkan dengan meramu formulasi kimia yang bisa digunakan untuk pemadam api. Bahan kimia itu saya beri nama proprietar y brand berupa larutan konsentrat. Dari larutan ini tercipta tiga jenis bahan kimia anti-api yang saya namakan Hartindo AF-21, AF-11, dan AF-31.

Untuk menemukan bahan kimia tersebut, saya menghabiskan dana US$ 70 juta atau sekitar Rp 155 miliar dan membutuhkan waktu hampir tiga tahun. Penelitian saya mulai sejak 1976 dan pada 1979 saya temukan formula AF-21, kemudian pada 1981 saya temukan AF-11. Khusus AF-31, saya temukan pada 1990, tetapi baru diluncurkan pada 1995.

Bagaimana Anda meyakinkan hasil temuan itu ketika publik masih meyakini teori konvensional?

Produk kimia berbeda dengan produk lain, bisa diproduksi dan langsung bisa dijual. Sebab, untuk bisa diproduksi dan dipasarkan, produk kimia tersebut harus melalui proteksi konsumen, yakni melalui serangkaian tes yang membuktikan produk itu aman. Meski teori free radical telah saya patenkan di Inggris pada 1979, banyak pakar api di London dan Eropa belum melihatnya sebagai temuan yang pantas dihargai. Pelecehan ini terjadi karena alasan berbau rasis. Mereka tidak menghargai karya AF-32, misalnya, ditemukan oleh bangsa Asia, bukan orang Eropa atau bule lainnya.

Tapi, bagaimana pun, saya boleh berbangga hati, karena sudah lolos pada serangkaian tes uji laboratorium dan lebih penting lagi dengan tiga sertifikat yang diraih dari Inggris BS (British Standard) 5423, dari Singapura, SS (Singapore Standard) 232, serta dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Secara resmi telah banyak institusi yang mengakui formula tersebut. Bahkan, hasil temuan ini sempat memperoleh sederet penghargaan dari berbagai Negara dan lembaga internasional, termasuk dari dalam negeri.

Saya juga pernah dipanggil mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad untuk mendesain pemadam kebakaran pada peralatan militer Diraja Malaysia. Saya sempat masuk ke bunker-bunker rahasia militer Malaysia. Pemerintah Malaysia kemudian membutuhkan 380 ribu ton bahan pemadam kebakaran hasil temuan saya itu hingga saat ini.

Bagaimana respons masyarakat di Indonesia?
Produk temuan saya itu bisa diterima secara luas di Indonesia karena masyarakat belum melihat pentingnya fire safety. Sampai sekarang kesadaran tentang fire safety juga masih kurang. Apalagi di sini tidak ada kewajiban standar pemadaman api seperti di Eropa atau AS. Tapi, sejak awal, saya yakin secara bertahap masyarakat Indonesia, khususnya kalangan pengusaha, makin menyadari pentingnya melindungi aset-asetnya dari risiko kebakaran.

Perkembangan bisnis Hartindo Group seperti apa?
Hartindo Group lebih fokus pada pengembangan produk kimia tahan api di pasar global, mengingat produk ini lebih banyak digunakan di luar negeri, karena ketatnya standar keamanan. Hartindo telah mengembangkan pasarnya di beberapa Negara dan sekaligus membuka usahanya, seperti di Malaysia, Thailand, Arab Saudi, Perancis, Inggris, dan AS. Hartindo telah menguasai 80% di Newstar Chemical di Malaysia, Saudi Hartindo di Arab Saudi sebesar 40%, Hartindo Sarl di Perancis 40%, dan Hartindo Industry Ltd di Inggris 100%.

Untuk mengembangkan usahanya di AS, Hartindo pada November 2010 mengakuisisi 60% saham EcoBlu, perusahaan yang bermarkas di New Jersey, AS, senilai US$ 20 juta. Rencananya, kepemilikan saham di perusahaan housing timber itu akan ditingkatkan hingga 80%.

Seberapa ketat persaingannya?

Tidak ada bisnis tanpa pesaing. Namun, jaminan mutu dan keselamatan pada produk pemadam kebakaran tentunya menjadi modal untuk memenangkan setiap kompetisi. Dan produk yang saya tawarkan memiliki modal itu. Peluang ke depan tentu besar seiring makin tingginya kesadaran masyarakat untuk melindungi asetnya dari bencana kekabakaran.

Visi bisnis ke depan?
Hartindo akan mengembangkan pasar ekspor dan memperkuat basisnya di dalam negeri dengan menggandeng sejumlah industri manufaktur yang bergerak di bisnis perabot rumahtangga. Satu di antaranya PT Classic Carpet untuk pengembangan produk karpet tahan api. Kami ingin meningkatkan pendapatan kami dari produk bahan kimia yang tahun lalu bisa mencapai Rp 50 miliar dari 3 juta liter khusus pasar domestik.

Untuk mengembangkan lebih jauh perusahaan ini, kami juga berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) perusahaan ini. Sebetulnya gagasan untuk mencatatkan saham di bursa sudah ada sejak lama. Namun, untuk go public dibutuhkan persiapan yang cukup dan momen yang tepat supaya manfaatnya bisa lebih besar. Kami harapkan bisa go public dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Tapi, kami akan coba dulu anak usaha, PT Sanindo Adi Perkasa. Tidak menutup kemungkinan Hartindo Group nantinya menyusul masuk bursa, terutama setelah ada kepastian soal hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Saya melihat di Indonesia belum ada kepastian soal HAKI pasca-IPO. Saya ingin, meski nantinya Hartindo Group menjadi perusahaan publik, hak paten dari temuan ilmiah tidak ikut menjadi milik publik, melainkan tetap ada pada saya.

Apa kiat kepemimpinan yang Anda terapkan?
Perusahaan saya ada di beberapa daerah dan negara. Agar bisa jalan, saya harus mampu mendelegasikan dan memberikan kewenangan sekaligus menyerahkan kepemimpinan kepada orang lain, dalam hal ini warga Negara setempat. Di sini saya perlu membangun kepercayaan. Bagaimanapun, perusahaan harus tetap beroperasi, meskipun saya tidak ada di sana.

Strategi Anda dalam memajukan perusahaan?
Banyak strategi yang saya gunakan, misalnya saat melakukan ekspansi perusahaan di negara lain tentu saya akan mempelajari kultur masyarakat dan politik negara tersebut. Untuk mendirikan perusahaan di Malaysia dan Indonesia, misalnya, treatment yang saya lakukan juga berbeda. Di Malaysia lebih murah jika saya menyewa daripada membeli, kondisi sebaliknya terjadi di Indonesia.

Apa definisi sukses menurut Anda?
Sukses bagi saya adalah jika saya bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Selain itu, jujur dan tidak serakah. Jika kita serakah dan tidak jujur, siapa yang ingin mengenal kita?

Itu kunci sukses Anda?
Penting juga dalam bisnis adalah fokus. Untuk mencapai sukses sepertisaat ini, saya tetap fokus. Tetap tekun dan gigih, untuk cita-cita, bidang usaha dan bisnis yang saya jalankan. Kemudian dalam mengembangkan usaha, perlu juga mengembangkan networking, yakni hubungan pertemanan. Tidak kalah pentingnya adalah konsisten dan komitmen pada apa yang kita kerjakan.

Apa arti keluarga bagi Anda?
Keluarga, istri dan anak, mendukung penuh karier dan bisnis saya. Mereka selalu memberi waktu jika saya perlu untuk lebih banyak di perpustakaan.

Obsesi Anda?
Saya ingin semua hasil penemuan saya benar-benar dapat dimanfaatkan seluruh umat manusia.

Alasan Anda kembali ke Indonesia?
Terus terang, saya kembali ke Indonesia karena kagum pada Pak BJ Habibie. Sebelumnya, sama sekali saya tidak pernah terpikir pulang ke Indonesia. Saya ingin tinggal di luar negeri. Tak hanya sekadar pulang kampung, saya sekaligus memboyong pabrik fire extinguisher dari London ke Cibitung dengan investasi Rp 10 miliar pada 1991. Dari Jakarta inilah saya akan mengendalikan berbagai pabrik saya di Singapura, Taiwan, dan Tiongkok.

Siapa tokoh inspiratif Anda?
Winston Churchill. Ada kata-kata bijaknya yang selalu ingat dan memberi insipirasi dalam berkarya dan bersemangat. Kata-kata itu adalah: “Semua orang pernah kesandung, tapi hanya 10% dari mereka yang bangkit dan menengok ke belakang untuk mengetahui apa yang membuat dirinya jatuh.”

Apa filosofi hidup yang Anda pegang?
Apa yang saya perbuat harus memberi manfaat kepada orang lain. Banyak pengalaman hidup yang mendorong saya mengambil filosofi itu bahwa saya bisa melakukan ini dan itu karena sebetulnya dari manfaat yang diberikan orang lain. Teori dan penemuan saya ini kan karena orang lain juga. Saya bermanfaat karena manfaat orang lain.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close