RAPBN 2013
Presiden Tak Isyaratkan Kenaikan BBM
Jumat, 17 Agustus 2012 | 4:12
Presiden SBY. FOTO : Abror/presidensby.info
JAKARTA-Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak
mengisyaratkan kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada
2013.
Saat menyampaikan keterangan pemerintah atas RAPBN 2013 dan nota keuangannya
dalam rapat paripurna DPR di Jakarta, Kamis malam (16/8), Presiden hanya
mengatakan, pengendalian subsidi BBM akan dilakukan melalui perbaikan mekanisme
penyaluran subsidi yang lebih efisien, efektif, dan tepat sasaran.
"Subsidi BBM harus kita kendalikan. Kita akan melanjutkan upaya perbaikan
mekanisme penyaluran subsidi agar lebih efisien, efektif, dan tepat
sasaran," katanya.
Menurut Presiden, volume BBM bersubsidi akan dikendalikan melalui optimalisasi
program konversi minyak tanah ke elpiji tabung 3 kg dan peningkatan pemanfaatan
energi alternatif seperti bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar gas (BBG).
"Serta, pembatasan pemakaian volume konsumsi BBM bersubsidi secara
bertahap," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengisyaratkan, kemungkinan
kenaikan harga BBM pada 2013 untuk mengurangi subsidi yang terlalu besar.
Menurut dia, harga BBM bersubsidi akan naik Rp1.500 per liter seperti rencana
2012.
Pemerintah mengalokasikan belanja subsidi BBM, elpiji 3 kg, dan LGV dalam RAPBN
2013 sebesar Rp193,8 triliun.
Secara total, alokasi belanja subsidi RAPBN 2013 sebesar Rp316,1 triliun atau
naik Rp48 triliun (18 persen) dari beban anggaran subsidi, termasuk cadangan
energi Rp23 triliun, dibandingkan APBN-P 2012 sebesar Rp268,1 triliun.
Anggaran subsidi itu terdiri dari BBM, elpiji 3 kilogram, dan LGV sebesar
Rp193,8 triliun, listrik Rp80,9 triliun, dan nonenergi Rp41,4 triliun.
Subsidi nonenergi itu terdiri dari pangan Rp17,2 triliun, pupuk Rp15,9 triliun,
benih Rp137,9 miliar, kewajiban pelayanan publik Rp2 triliun, bunga kredit
program Rp1,2 triliun, dan pajak Rp4,8 triliun.
Belanja subsidi sebesar Rp316,1 triliun merupakan bagian belanja nonkementerian
dan lembaga RAPBN 2013 yang dianggarkan Rp591,6 triliun.
Anggaran nonkementerian dan lembaga lainnya adalah pembayaran bunga utang
Rp113,2 triliun dan lain-lain Rp162,3 triliun.
Pemerintah merencanakan total pendapatan dalam RAPBN 2013 sebesar Rp1.507,7
triliun dengan anggaran belanja Rp1.657,9 triliun yang berarti mengalami
defisit sebesar Rp150,2 triliun atau 1,6 persen dari PDB.
Nilai defisit tersebut turun dari APBN P 2012 sebesar 2,23 persen dari PDB.
RABPN 2013 disusun berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,8 persen, laju
inflasi 4,9 persen, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara untuk 3 bulan lima
persen, harga minyak 100 dolar AS per barel, "lifting" minyak 900.000
barel per hari, dan "lifting" gas 1,36 juta barel setara minyak per
hari. (ant/hrb)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kejagung Jemput Paksa Tersangka Bioremediasi Chevron
BEI, Bursa Paling Atraktif di Dunia
Maharani Diajak Berhubungan Intim dengan Fathanah di Hotel
BEI Berharap Penurunan Jumlah Saham Segera Tereliminasi
Harum Energy Bagi Dividen Rp681 Miliar
Alam Sutera Refinancing Utang Rp 734 Miliar
Penolakan Ekspor CPO Diperkirakan Hanya Strategi AS
Pertamina Incar Blok Migas di Oman