80% PENYELUNDUPAN NARKOTIKA LEWAT AIR ASIA
Polisi Malaysia akan Ketat Awasi LCCT
Kamis, 12 April 2012 | 14:10
Petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya mengamati peralatan clandestine laboratory narkotika jenis sabu-sabu di ruko perumahan Duta Square, Jelambar, Jakarta Barat, 25 Januari 2011. Foto ilustrasi: Investor Daily/ ANTARA/Fanny Octavianus/nz/11 BATAM –Kepolisian Malaysia akan melakukan pengetatan pengawasan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Airport di Kuala Lumpur untuk mencegah terjadinya penyelundupan narkotika melalui udara dengan menumpang penerbangan Air Asia.
"Kami tidak nampik, ada yang diselundupkan ke Indonesia. Datang dari Malaysia menggunakan Air Asia. Untuk itu, kami akan memperketat pengawasan di LCCT," kata Senior Assistant Commisioner Polisi Diraja Malaysia, Zakaria bin Sudin.
Ia mengatakan hal itu menanggapi bahwa lebih dari 80% penyelundupan narkotika melalui udara menumpang pesawat Air Asia, karena maskapai penerbangan itu memiliki bandara sendiri yaitu LCCT Airport.
"Dari 21 kali penangkapan penyelundupan lewat udara, cuma dua melalui penerbangan lain. Yang lain, Air Asia," kata Kasubdit II Narkoba Mabes Polri Kombes Pol Siswandi setelah berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia di Batam, Kamis.
Ia mengatakan di Kuala Lumpur Malaysia, maskapai penerbangan Air Asia memiliki bandara sendiri yang berbeda dengan pelayanan dari maskapai penerbangan lain seperti Batavia Air dan lainnya yang lepas landas dan mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA).
"Tidak seperti di KLIA, pemeriksaan di LCCT relatif lebih longgar karena tidak dilengkapi sejumlah perlengkapan. Kelonggaran itulah yang dimanfaatkan oleh penyelundup narkotika untuk menerbangkan narkotika ke Indonesia," katanya.
Selain karena pemeriksaan di LCCT lebih longgar, katanya, penerbangan Air Asia juga lebih banyak ke Indonesia dibandingkan dengan maskapai lain. Air Asia melayani penerbangan dari Kuala Lumpur ke berbagai daerah di Indonesia. "Hampir seluruh penerbangannya pernah kami temui (kasus penyelundupan)," kata dia.
Zakaria bin Sudin mengatakan, pengetatan itu akan dilakukan dari seluruh sisi, baik penambahan personel maupun penambahan perlengkapan. "Kami bekerja sama dengan pihak berkuasa untuk menyekat, penukaran maklumat, siapa yang datang," kata dia.
Zakaria menambahkan mayoritas narkotika yang masuk ke Indonesia merupakan barang transit dari negara lain, bukan produksi Malaysia, meski pihaknya pernah menemukan pabrik narkotika di Malaysia. (gor/ant)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Maharani Diajak Berhubungan Intim dengan Fathanah di Hotel
Enam Terpidana Mati akan Dieksekusi
Ahmad Fathanah Mengaku Memberikan Sumbangan pada PKS
Penangkapan Aiptu LS Merupakan Upaya Paksa
Indonesia-Thailand Sepakati Alokasi Gas Blok East Natuna
76,67 Persen Pemilih Partai Demokrat akan Bermigrasi