ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pertamina Tak Perlu Regulasi Beli Minyak Mentah KKKS
Minggu, 29 Januari 2012 | 21:24

JAKARTA - Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi menilai, PT Pertamina (Persero) tidak memerlukan regulasi pemerintah untuk membeli minyak mentah bagian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Juru Bicara BP Migas Gde Pradnyana di Jakarta, Minggu, mengatakan KKKS akan menjual bagian minyaknya dengan pertimbangan bisnis seperti harga dan volume angkut. "KKKS bebas menjual bagian minyaknya ke mana pun. Bisa dijual ke kilang domestik seperti Cilacap, Balikpapan, dan Balongan. Atau, ke kilang luar negeri misalnya Singapura, Australia, dan China. Pertimbangannya lebih ke bisnis komersial saja," katanya.

Hal senada dikemukakan pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurut dia, KKKS akan menjual bagian minyaknya selama memang memberi keuntungan baginya.

Kalaupun ada regulasi, lanjutnya, maka harus menjamin kedua belah pihak yakni Pertamina dan KKKS tidak merugi. "Jangan hanya mengatur kewajiban untuk memasok ke dalam negeri saja. Namun, juga mengatur hak kontraktor dalam hal ini harga jual yang wajar," ujarnya.

Gde mencontohkan, untuk volume kecil, KKKS akan menjual minyaknya ke kilang yang terdekat, karena lebih ekonomis. Lalu, menurut dia, KKKS tentunya juga akan menjual minyaknya ke Pertamina dengan harga yang menguntungkan. "Tanpa diregulasi pun KKKS akan menjual minyak bagiannya tersebut ke kilang Pertamina," ujarnya.

Ia juga mengatakan, selain harga dan volume, tidak semua "crude" dapat diolah kilang Pertamina, seperti jenis minyak yang mengandung merkuri.

Di sisi lain, Gde mengatakan, kalau ingin meningkatkan ketahanan minyak, maka Pertamina mestinya memperbesar jumlah cadangannya melalui kegiatan eksplorasi secara intensif.

Namun sayangnya, menurut dia, Pertamina kurang melakukan kegiatan eksplorasi seperti terlihat saat inspeksi mendadak BP Migas ke beberapa daerah awal Januari 2012. "Ketika Kepala BP Migas ke Sorong, Papua Barat, tergambar betapa minimnya kegiatan eksplorasi Pertamina di sana," ujarnya.

Pertamina, lanjutnya, mestinya mengaktifkan eksplorasi di Lapangan Klamono, Papua, yang potensinya masih cukup besar.

BP Migas juga berharap, Pertamina bisa menghidupkan lagi Kilang Kasim berkapasitas 10.000 barel per hari di Sorong dengan memanfaatkan potensi yang ada. "Minimnya kegiatan eksplorasi lapangan-lapangan Pertamina juga terjadi di Kalimantan Timur dan lainnya," ujarnya.

Gde menambahkan, agresivitas Pertamina mengakuisisi lapangan di Indonesia tidak akan menambah cadangan nasional. "Ketahanan minyak kita akan meningkat kalau cadangan di dalam negeri ditingkatkan atau mengakuisisi lapangan di luar negeri dan bukan di sini," ujarnya. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close