ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pengganggu Nilai Tukar Rupiah
Oleh Agustinus Yohanes S | Rabu, 16 Januari 2013 | 10:16

Nasabah melakukan transaksi di money changer, kawasan Senen, Jakarta, belum lama ini.   Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Nasabah melakukan transaksi di money changer, kawasan Senen, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Awal tahun politik 2013 ditandai dengan turunnya nilai tukar rupiah pada level Rp 9.800 per dolar AS. Isu negatif deficit transaksi berjalan senilai lebih dari US$ 20 miliar menjadi penyebab turunnya nilai tukar rupiah tersebut. Sebagaimana diperkirakan banyak kalangan jauh sebelum nya, nilai ekspor Indonesia berpeluang menurun cukup besar akibat krisis ekonomi Eropa dan Amerika Serikat. Krisis ini akan menekan daya absorbsi negara tujuan ekspor terhadap produk dan komoditas dalam negeri.

Tidak hanya daya serap di pasar ekspor Eropa saja yang melemah, Negara tujuan ekspor lainnya seperti Tiongkok juga turut melemah terimbas krisis tersebut. Ekspor Tiongkok sendiri ke Eropa juga mengalami penurunan dan pertumbuhan ekonomi mereka pada 2012 sebesar 7,8%, padahal biasanya pertumbuhan ekonomi negeri Tirai Bambu tersebut mencapai dua digit.

Pada level tertentu, naik-turunnya nilai tukar masih dapat diterima sebagai fenomena volatilitas yang biasa terjadi di pasar uang. Tetapi pada tingkat tertentu kita harus waspadai karena hal tersebut bisa jadi sebagai sinyal meningkatnya ketidakstabilan nilai tukar yang dapat mengganggu stabilitas perekonomian nasional.

Naik-turunnya nilai tukar rupiah dalam rentang yang lebar menunjukkan peningkatan ketidakstabilan yang terjadi di pasar uang akibat meningkatnya ketidakpastian terhadap masa depan. Hal ini melahirkan persepsi negatif terhadap defisit transaksi berjalan, terutama berkaitan dengan masalah kinerja industri dan isu energi nasional yang menjadi faktor penentu tinggi rendahnya nilai ekspor impor Indonesia. Persepsi negatif itulah yang akhirnya akan memengaruhi stabilitas nilai tukar suatu mata uang.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close