ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan Masih Terkendala
Rabu, 7 Maret 2012 | 23:30

YOGYAKARTA - Implementasi education for sustainable development atau pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan di masyarakat masih menghadapi kendala dan tantangan, kata sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sunyoto Usman.

"Kendala dan tantangan itu bukan hanya karena masalah mengembangkan metode yang relevan untuk mempertahankan dan memelihara keanekaragaman serta kelestarian biohayati, tetapi juga berpapasan dengan kemauan dan pengetahuan masyarakat," katanya di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia pada lokakarya "Pengembangan Modul Implementasi Education for Sustainable Development (EfSD) Berbasis Pemberdayaan Masyarakat", sesuatu yang dianggap baik dan ilmiah di ruang kuliah tidak serta merta dapat diterima masyarakat.

"Hal itu karena mungkin ada yang bertentangan dengan keyakinan, keinginan, dan ritual yang telah lama tumbuh dan berkembang dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, implementasi EfSD memerlukan strategi agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan," katanya.

Ia mengatakan alternatif strategi tersebut perlu dibangun berdasarkan asumsi bahwa dalam masyarakat sebenarnya terdapat pengetahuan tentang masalah yang muncul sebagai konsekuensi dari degradasi lingkungan.

Namun, kata dia, masyarakat tidak berdaya mengembangkan pengetahuan semacam itu, karena selalu kalah dengan kepentingan bisnis produk dari konspirasi atau persekongkolan antara penguasa dan pengusaha.

"Strategi alternatif tersebut juga melihat bahwa implementasi EfSD akan sulit memperoleh hasil optimal ketika mengabaikan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan tata kelola dan mekanisme delivery yang menyertainya," kata Sunyoto.

Menurut dia, dalam alternatif strategi yang ditawarkan tersebut setidaknya tetap memperhatikan beberapa hal, di antaranya kondisi struktur sosial kelompok yang menjadi sasaran atau subjek EfSD.

Dekan Fakultas Biologi UGM Retno Peni Sancayaningsih mengatakan melalui implementasi EfSD yang berbasis riset dan komunitas, UGM akan lebih mudah melakukan kolaborasi internasional.

"UGM mempunyai banyak potensi baik materi pembelajaran maupun hasil riset yang telah mengarah kepada EfSD. Dalam hal ini perlu dipilih program yang paling siap dan bersifat strategis untuk diarahkan menjadi program EfSD," katanya. (ant/gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!