ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pelabuhan Kalibaru Harus Segera Dibangun
Senin, 23 Juli 2012 | 14:20

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono didampingi pihak Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) melakukan peninjauan pelabuhan dari kapal air di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 20 April 2011. Foto ilustrasi: Investor Daily/TINO OKTAVIANO Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono didampingi pihak Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) melakukan peninjauan pelabuhan dari kapal air di Tanjung Priok, Jakarta Utara, 20 April 2011. Foto ilustrasi: Investor Daily/TINO OKTAVIANO

JAKARTA - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) meminta pemerintah untuk mempercepat pembangunan pelabuhan Kalibaru guna menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015 karena Pelabuhan Tanjung Priok sudah tidak mampu menampung kebutuhan peti kemas.

"Hingga akhir tahun, kebutuhan peti kemas mencapai 6 juta teus dan pada 2015 ketika AEC berlangsung, kebutuhannya diperkirakan mencapai 15 juta teus," kata Wakil Ketua DPP ALFI, Anwar Sata pada pertemuan dengan pihak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Jakarta, Senin.

Anwar menilai bahwa dibutuhkan komitmen dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (pemda) untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur.

"Sistem logistik nasional (sislognas) harus dibenahi dan butuh kerja sama antarinstansi pemerintah. Selama ini, pelabuhan di Indonesia hanya melayani lima hari kerja, sedangkan pelaku usaha harus mengirimkan barang selama tujuh hari seminggu," paparnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur, mengatakan sistem konektivitas di dalam negeri belum terlalu baik dan pelaku usaha berharap cetak biru sislognas dapat segera dikeluarkan pemerintah.

Pasalnya, sislognas tersebut merupakan acuan dalam rangka membenahi sistem logistik Indonesia dan mengintegrasikan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), konektivitas, AEC 2015, dan menurunkan biaya logistik dari 17% menjadi 10%.

"Cetak biru itu harus segera dikeluarkan dan di dalamnya sudah jelas capaiannya, instansi yang melaksanakan, waktu pelaksanaan dan lain-lain sudah jelas semua. Jangan kita kehilangan momentum, waktu terbuang, karena negara lain di ASEAN tengah membenahi sistem logistiknya," katanya.

Natsir menambahkan Filipina bahkan menggunakan waktu tiga tahun untuk membenahi logistiknya dari peringkat ke tujuh menjadi peringkat ke empat di ASEAN, sementara Indonesia masih berada di posisi ke enam. (ant/gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!