ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pancasila, Inspirasi Pidato Obama
Jumat, 19 April 2013 | 11:11

MASYARAKAT Indonesia patut berbangga dan mungkin perlu kembali belajar tentang pemahaman nilai-nilai Pancasila kepada Presiden Amerika Serikat Barrack Obama. Ini diungkapkan politikus Partai Republik, Michael Patrick Leahy, bahwa pesan Obama dalam pidato mirip dengan pidato presiden Indonesia yang pertama, Soekarno, tentang Pancasila.

Dalam laman American Thinker beberapa waktu lalu, dengan lugas Leahy mengutip dan membeberkan sejarah Bung Karno mengusung Pancasila dalam rapat 1 Juni 1945. Leahly menjabarkan juga bahwa Bung Karno menekankan prinsip dasar Indonesia yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijkasanaan dalam Permusayawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Salah satu bagian pidato Obama, yang menyinggung nasionalisme baru Amerika Serikat, sangat sesuai dengan sila kelima Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia. Analisa Leahly, kemungkinan faktor pendorong yang menginspirasi Obama mencetuskan nasionalisme baru AS adalah karena pengalaman yang pernah bersekolah di Indonesia. Di sekolahnya Obama dikenalkan dengan nilai-nilai Pancasila.

Berikut, antara lain, isi pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945: "Dalam sila Keadilan Sosial, jangan ada lagi kemiskinan di Indonesia yang merdeka. Apakah rakyat Indonesia ingin Indonesia yang merdeka tapi kelompok kapitalisme juga merajalela. Atau sebaliknya, kesejahteraan untuk seluruh rakyat. Di mana tiap orang bisa makan dengan cukup.”

Sementara, pidato Obama di Osawatomie berbunyi “Mereka (kaum Republik) ingin kembali ke filosofi usang yang tidak memihak ke kelompok kelas menengah AS bertahun-tahun ini. Filosofi mereka sederhana, kita dianggap akan sejahtera kalau semua orang dibebaskan untuk bermain dengan aturannya sendiri-sendiri. Well, saya di sini mengatakan mereka salah. Saya di sini menegaskan kalau rakyat AS akan jauh lebih besar kalau bersama-sama ketimbang sendiri-sendiri. Saya percaya AS akan berjaya kalau semua masyarakat mendapat kesempatan yang sama, ketika semua orang mendapat bagian yang adil, dan semua orang bermain di dalam aturan yang disetujui bersama.”

Pidato Obama seperti antiklimaks dengan kondisi di Indonesia saat ini yang jauh terkesan meninggalkan nilai-nilai Pancasila karena dinilai kurang relevan dengan keadaan sekarang. Pidato Obama tersebut bisa memberi energi positif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Tina Diyah
Jl Pancoran Timur Raya
Jakarta Selatan


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close