ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

“Ajaran Ki Hadjar Dewantoro berlaku universal bagi para pemimpin di mana saja.”

MUHAMMAD AKBAR, Mendengar untuk Menangkap Ide
Senin, 18 Juni 2012 | 11:09

Dari hanya memimpin 40-50 anak buah, kini Muhammad Akbar mendapat amanat mengurusi lebih dari 5.000 karyawan di Unit Pengelola (UP) Transjakarta Busway. Tak ada perubahan pada gaya kepemimpinan yang dia terapkan.

“Saya selalu menerapkan pola memberi contoh. Daripada menyuruh atau mendikte anak buah, lebih baik saya mendengarkan apa yang ingin diungkapkan anak buah, berinteraksi, dan menangkap ide-ide mereka,” kata Akbar kepada wartawan Investor Daily Bani Saksono di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, itu adalah ajaran filosofis yang disampaikan Ki Hadjar Dewantoro, tokoh pendidikan pada masa pergerakan yang mendirikan organisasi kependidikan bernama Taman Siswa di Yogyakarta. “Ajaran Ki Hadjar itu berlaku universal bagi para pemimpin di mana saja,” ujar pria kelahiran Singaraja Bali, 14 Juli 1963 itu.

Contoh yang diberikan Muhammad Akbar di antaranya tidak gengsi naik angkutan umum seperti kereta rel listrik (KRL), bus Transjakarta (busway), bahkan ojek dari rumah ke kantornya. Pertimbangannya realistis. “Angkutan umum itu lebih cepat dan hemat ongkos dibandingkan naik mobil pribadi,” tutur Akbar.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya lahir di Singaraja, 14 Juli 1963. Saya menghabiskan masa kecil, sekolah SD hingga SMA, di Singaraja, Bali. Setelah itu melanjutkan ke program Diploma III Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) dengan status ikatan dinas Departemen Perhubungan (Dephub), kini Kementerian Perhubungan) pada 1982-1985. Jadi, saat diterima kerja di Dephub, langsung pendidikan ikatan dinas.

Selesai sekolah, saya ditempatkan di Direktorat Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (LLAJR) sampai 1990. Tak lama kemudian saya dipindahkan ke Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta. Lalu disekolahkan ke STTD program Diploma IV dari 1991 sampai 1992. Setelah itu, saya mendapat beasiswa ke LED University, Inggris, mengambil S-2 program studi Transport Planning Engineering pada  1992-1994. Pada 1998- 2004, saya menjabat sebagai kepala Area Traffic Controle System (ATCS), satu sistem pengendalian trafik lalu lintas.

Kemudian menjadi kepala Bidang Manajemen Rekayasa Lalu Lintas yang tugasnya lebih luas lagi, yaitu mengatur lalu lintas di Jakarta. Seperti mengatur jalur satu arah, dua arah, larangan belok kiri belok kanan, menyediakan rambu-rambu, serta sarana infrastruktur lalu lintas lainnya, termasuk infrastruktur busway yang meliputi halte-halte dan jembatan penyeberangan. Itu sampai Februari 2011, hingga kemudian saya diangkat menjadi kepala UP Transjakarta Busway.

Apa obsesi Anda?
Pokoknya saya di manapun ingin berkarya secara serius. Saya bekerja keras seolah-olah hidup saya itu masih lama. Kalau saya berpikir ditempatkan di satu jabatan hanya sebentar, saya nggak akan semangat. Saya selalu berpikir bahwa di tempat ini akan lama sekali, jadi saya ingin menikmati karya saya. Itu memotivasi saya untuk bekerja secara serius dan bersungguh-sungguh. Selain itu, saya harus berupaya beribadah sebaik-baiknya, seolah-olah besok akan mati. Dua hal itulah yang selalu ada dalam pikiran saya.

Bagaimana Anda menjaga keseimbangan antara keluarga dan karier?

Bagi saya, keluarga itu penting sekali. Keluarga itu penyemangat, tidak hanya penyemangat kerja, tapi juga penyemangat hidup, membuat hidup itu jadi penuh warna. Karena itu, keluarga sangat penting, yang utama. Karena penting, komunikasi dan waktu harus saya sediakan setiap saat. Di benak saya setiap hari, yang terlintas hanya dua, yaitu kerja dan keluarga, sehingga komunikasi dengan istri dan anak-anak selalu saya utamakan.

Apalagi sekarang kita memperoleh kemudahan karena ada alat komunikasi. Bisa email, atau short message services (SMS), dan BBM (BlackBerry Messenger). Anak saya dua, yang besar kelas 2 SMA dan bungsu kelas 2 SMP. Istri saya mengajar di Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB).

Anda sudah merasa tepat dengan karier sekarang?
Saya lahir dan besar di Bali. Jadi, ke Bali itu bukan jalan-jalan, tapi pulang kampung. Saya juga bingung, kalau ditanya apa cita-cita saya. Tapi selama hidup ini, saya selalu berusaha serius, sebenar-benarnya. Nanti hasilnya seperti apa, tidak terlalu saya pikirkan. Dulu, saat tamat SMA, saya ingin jadi insinyur. Saya ikut-ikutan ‘melamar’ ke Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI) melalui Sipenmaru, tapi gagal. Namun saya tidak merasa harus mengulangi ujian lagi agar bisa masuk ITB atau UI. Begitu gagal, ya sudah. Saya berpikir, Allah pasti akan memilihkan tempat yang terbaik buat saya. Tiba-tiba ada pengumuman penerimaan karyawan di Dephub (sekarang Kemenhub).

Ya sudah, saya langsung melamar. Ada juga lowongan kerja di PLN, saya lamar juga. Kedua-duanya diterima. Tapi karena yang di Dephub lebih dulu, saya masuk ke sana. Begitu diterima, saya langsung tugas belajar ke Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD). Ikatan dinas, untuk program Diploma III. Jadi, sebetulnya saya tak punya cita-cita ingin menjadi apa, mengalir saja. Setelah di Dephub ditugaskan di mana, saya nggak milih-milih. Ditugaskan di mana, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Itu saja.

Apa yang Anda rasakan saat ditunjuk memimpin UP Transjakarta Busway?
Saya merasa seperti masuk ke habitat sendiri. Sudah lama saya menganjurkan orang untuk menggunakan angkutan umum. Saya sudah menggunakan angkutan umum, sampai sekarang. Jadi, bisa langsung tune in. Di samping itu, dari awal pembangunan busway, saya juga ikut membidani kelahiran busway. Ketika itu saya bertanggung jawab menyediakan infrastruktur, halte, dan sistemnya, ikut membidani kelahiran busway di Jakarta.  Jadi, saat ditunjuk memimpin Transjakarta Busway, nggak aneh, karena masih di habitat sendiri.

Anda sebelumnya memimpin sedikit orang, dan sekarang menangani lebih dari 5.000 tenaga kerja. Tentu butuh kiat kepemimpinan yang berbeda?
Ya, memang, sebelumnya saya menjabat sebagai kepala Bidang Manajemen Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Anak buah waktu itu hanya berjumlah 40-50 orang. Ketika ditugaskan di busway, saya harus memimpin lebih dari 5.000 tenaga kerja.

Yang terlintas waktu itu, ini tantangan baru. Saya akan memimpin sekitar 5.000 orang dan akan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pasti banyak komplain atas pelayanan busway yang dirasakan kurang nyaman. Saya menyadari itu. Setiap bertugas, pasti ada tantangannya. Di tempat tugas yang orangnya sedikit pun, tantangan selalu ada. Jadi, itu tak membuat saya khawatir. Sebab, di manapun posisinya, pasti akan menghadapi tantangan baru.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Gaya sih dari dulu nggak berubah. Saya lebih suka gaya Ki Hadjar Dewantoro, pendiri Taman Siswa. Ing ngarso sung tulodho, di depan saya memberi contoh. Saya nggak menyuruh, tapi mencontohkan, antara lain selalu naik angkutan umum, termasuk Transjakarta dan KRL dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Sejak tinggal di Jakarta, masih kos, saya selalu naik kendaraan umum ke kantor. Ini pertimbangan rasional saja. Orang berkendaraan ingin yang lebih cepat, murah.

Dibandingkan naik kendaraan pribadi, saya bisa dapat dua-duanya, lebih murah, hemat, dan pasti lebih cepat, karena di Jakarta kemacetan masih menjadi kendala serius. Jadi, buat apa saya naik kendaraan pribadi, kalau harus bermacet-macet, capek di jalan? Apalagi saya menyadari, dengan naik kendaraan umum, berarti kita ikut menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM), mengurangi kemacetan, dan polusi udara. Soal kesadaran itu belakangan, yang penting pertimbangan rasional, naik kendaraan umum lebih hemat dan cepat.

Saya tidak merasa gengsi naik angkot, naik KRL, naik ojek. Saya berpikir rasional, ingin cepat dan murah. Justru aneh saja kalau orang karena gengsi, tapi mau menempuh perjalanan hingga berjam-jam. Itu biaya tinggi. Hanya karena gengsi harus mengorbankan sikap rasionalnya.

Ing madyo mangun karso, di tengah-tengah anak buah, saya mencoba berinteraksi, mendengarkan apa yang mereka katakan, untuk menangkap apa ide-ide mereka. Dan Tut wuri handayani, di belakang saya mendorong dan memberi mereka motivasi. Dalam satu organisasi itu ada tiga faktor. Pertama, faktor pemimpinnya. Kedua, bidang atau lingkungan yang dipimpin. Ketiga, yang dipimpin. Faktor lingkungan, kita juga harus tahu apa sistemnya, tantangannya, dukungannya. Faktor yang dipimpin, kita harus tahu tingkat kemampuan, kinerja, dan kepercayaannya.

Anda sudah merasa berhasil memimpin Transjakarta Busway?
Ya, ada beberapa hal. Misalnya, selama satu tahun ini, kami memperpanjang jam pelayanan, dari semula hingga pukul 22.00, menjadi 23.00 WIB. Bahkan, mudah-mudahan jika armadanya sudah mencukupi, nantinya bus Transjakarta beroperasi hingga 24 jam penuh. Itu salah satu obsesi saya. Desainnya sudah ada, tinggal menunggu busnya.

Kemudian meningkatkan kenyamanan di halte dengan menambah kipas angin agar penumpang nyaman saat menunggu bus. Saya juga membuat area khusus penumpang wanita dalam bus. Saya ingin menciptakan citra bahwa busway itu juga memberi rasa aman bagi penumpang wanita.

Bagaimana dengan orang-orang berdasi?
Sebetulnya yang dibutuhkan setiap angkutan umum itu adalah kecepatan. Nyaman ya, tapi yang penting kecepatan. Kedua, kenyamanan. Nyaman juga bisa diwujudkan dengan kendaraan ber-AC yang bersih. Dibandingkan kendaraan pribadi, ya pasti lebih
nyaman kendaraan pribadi.

Tapi sekarang juga sudah banyak eksekutif, orang-orang berdasi yang menggunakan busway. Lihat saja saat jam makan siang, bus-bus Transjakarta banyak dipenuhi orang berdasi dan orang-orag bule di sepanjang Sudirman – Thamrin. Bagi mereka, naik Transjakarta bahkan sudah menjadi style, gaya. Tidak gengsi lagi naik busway.

Contoh lainnya, kalau pagi hari, ratusan mobil pribadi berbagai merek parkir di Terminal Ragunan. Pemiliknya berganti naik busway. Dan masih banyak lagi penumang yang diantar istrinya dari rumah ke halte busway untuk naik bus Transjakarta. Boleh dibilang, mereka orang kelompok menengah. Artinya, mereka merasakan kenyamanan naik busway. Tapi kami tetap ingin terus meningkatkan kenyamanan penumpang.

Saya juga sudah melakukan program naik busway gratis. Minimal sehari setahun orang gratis naik busway. Ini untuk menyosialisasikan busway kepada masyarakat dan memberikan kesempatan kepada warga Jakarta untuk mengeksplorasinya. Dengan pengalaman ini, mereka diharapkan naik busway seterusnya.

Dalam waktu dekat, kami akan menerapkan tiket elektronik (e-ticketing). Selama ini kan menggunakan tiket kertas. Tiket elektronik sedang disiapkan di koridor VI (Ragunan – Dukuh Atas). Diharapkan Juni-Juli, seluruh koridor sudah menerapkan tiket elektronis yang lebih modern dan praktis.

Dari tiket kertas ke tiket elektronik, berarti akan mengurangi tenaga kerja?

Tidak, karena kami juga masih membutuhkan tenaga untuk mengawasi saat penumpang melewati gate.

Apa masalah paling krusial selama Anda menangani urusan pelayanan umum?

Secara pribadi tidak ada. Kalau menyangkut operasional busway, pasti ada kendala. Misalnya belum sterilnya jalur busway, terutama saat jam sibuk, itu sangat terasa gangguannya, karena belum adanya kesadaran masyarakat untuk menaati aturan lalu lintas.

Uniknya, saat jalur tak steril, penumpang komplainnya tidak ke para pelanggar lalu lintas tersebut, tapi ke manajemen busway. Kok nggak bisa mensterilkan jalur busway. Itu kami terima. Kami koordinasikan dengan pihak lain, baik Dishub maupun Polda Metro Jaya, bagaimana mensterilkan jalur busway. Memang sangat disayangkan karena kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas masih sangat kurang. Kendala lainnya, masih sedikitnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). Itu mengakibatkan lamanya antrean, sehingga waktu tunggu bus menjadi lama. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!