ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 21 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Merger Bursa Saham dan Sistem Pembayaran
Oleh Achmad Deni Daruri | Rabu, 3 Agustus 2011 | 8:54

Merger bukan hanya terjadi antarbursa efek tapi juga dengan nonbursa efek. Dalam hal bursa saham, merger tak lepas dari kepentingan untuk penciptaan strategi penguatan sistem pembayaran sehingga demutualisasi lebih diarahkan dalam konteks memaksimalkan shareholder value.

Merger bursa saham di dunia sebetulnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Kategori pertama adalah merger bursa untuk kepentingan anggota bursa itu sendiri. Kategori kedua adalah merger bursa untuk tujuan meningkatkan nilai kepemilikan dari pemegang saham. Kategori terakhir adalah merger bursa yang tidak hanya bermaksud memaksimalkan nilai kepemilikan saham tapi meningkatkannya melalui sinergi sistem pembayaran.

Contoh kategori pertama adalah merger antara Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 1 Desember 2007 yang kemudian menjadi Bursa Efek Indonesia. Langkah merger seperti ini juga diikuti oleh bursa saham dan bursa obligasi di Filipina. Merger dalam kategori ini biasanya terjadi di negara-negara yang perekonomiannya tidak memiliki perencanaan ekonomi yang ajek.

Contoh merger kategori kedua adalah merger antara bursa yang telah melakukan demutualisasi (proses perubahan struktur kepemilikan) tapi tidak dalam konteks penciptaan sinergi sistem pembayaran.

Sedangkan kategori ketiga merupakan bentuk merger bursa saham yang berorientasi kepada sinergi system pembayaran. Langkah seperti ini hamper sukses dilakukan Bursa Efek Singapura yang berencana mengakuisisi Bursa Efek Australia. Sayangnya, langkah strategis Bursa Efek Singapura tersebut tidak dapat berlanjut karena tidak mendapat dukungan dari kekuatan politik utama di Australia.

Jika langkah tersebut dapat berlangsung mulus, sudah dapat dipastikan sinergi antara sistem pembayaran Singapura dan Australia akan terjadi secara sistematis. Demutualisasi Bursa Efek Australia selanjutnya pasti akan membuka kesempatan bagi lembaga pembayaran, seperti bank pembayaran, untuk menciptakan nilai pemegang saham yang maksimal melalui sinergi sistem pembayaran.

Bersifat Integralistik
Tiongkok adalah contoh Negara yang mampu menyinergikan antara pengembangan bursa saham dan sistem pembayaran. Di Tiongkok, pengembangan bursa saham tidak terlepas dari pengembangan system pembayaran. Dengan demikian,   Negeri Tirai Bambu ini, perencanaan pembangunan sistem pembayaran, sektor keuangan, dan pasar saham dijalankan secara integral.

Itulah sesunggunya esensi dari pembangunan ekonomi di masa depan. Dengan langkah tersebut maka wajar apabila suatu saat kelak Tiongkok akan mampu menciptakan mata uangnya sebagai mata uang dunia. Langkah itu memang hanya dapat terjadi jika Tiongkok benar-benar mampu menyinergikan pasar modal dan system pembayaran di Asia Pasifik.

Itu pula yang sesungguhnya dilakukan Singapura dengan ambisinya mengakuisisi Bursa Efek Australia. Singapura sangat berkepentingan untuk mengalahkan Hong Kong sebagai pusat keuangan Asia. Dengan demikian langkah merger dengan Bursa Australia merupakan langkah kuda untuk menciptakan sinergi sistem keuangan, termasuk sistem pembayaran dengan bursa-bursa di Tiongkok.

Hal ini sangat diperlukan karena sinergi dalam sistem pembayaran bukan hanya menciptakan increasing return to scale bagi sistem pembayaran itu sendiri tapi juga sistem keuangan serta perekonomian secara keseluruhan. Sebaliknya, merger bursa efek yang tidak diikuti oleh demutualisasi akan kehilangan kesempatan untuk menciptakan kondisi increasing return to scale tersebut.

Kualitas sumber daya manusia dari bursa yang tidak melakukan demutualisasi akan semakin tertinggal. Demutualisasi memungkinkan bursa efek lain yang memiliki kekuatan dalam sistem pembayaran untuk bersinergi. Langkah lain yang dapat dilakukan oleh bursa yang tidak melakukan demutualisasi adalah akuisisi terhadap bursa efek yang melakukan demutualisasi.

Dalam era demutualisasi bursa efek maka penciptaan sistem pembayaran nasional harus berorientasi kepada penciptakan sinergi dengan sistem pembayaran yang memiliki kekuatan ekonomi. Dalam konteks di Indonesia maka sinergi dapat dilakukan dengan sistem pembayaran Singapura, Tiongkok, Hong Kong, Australia, atau Jepang. Sinergi dengan sistem pembayaran di Amerika Serikat juga harus diperhitungkan secara masak-masak.

Semua ini harus dikaji secara saksama. Namun, yang jelas, sistem pembayaran dengan hanya mengandalkan fire wall system pembayaran nasional semata kini sudah ketinggalan zaman. Begitu pula pembangunan sistem pembayaran yang tidak mengindahkan arah pembangunan pasar modal juga dipastikan sulit untuk berhasil. Dengan demikian cetak biru pembangunan ekonomi Indonesia bukan hanya harus diperbarui tetapi juga diarahkan kepada pembangunan yang bersifat integralistik.

Pentingnya Kualitas SDM
Sudah saatnya Bursa Efek Indonesia harus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya untuk menyongsong era baru ini. Karyawan bursa efek harus fasih berbahasa Inggris dan juga memiliki jenjang pendidikan setara dengan Strata-2 (S2). Tanpa itu, maka apa pun cetak biru pembangunan sektor pasar modal di Indonesia tidak akan mampu berlomba dengan sektor lain.

Tanpa kualitas sumber daya manusia yang mumpuni maka penciptaan sinergi antara pasar modal dan system pembayaran akan mengalami hambatan. Tidak diliriknya Indonesia oleh Bursa Singapura, Hong Kong, Jepang, dan Australia bukan karena potensi ekonomi pasar modal dan sistem pembayarannya yang lemah, tapi lebih karena kualitas sumber daya manusia di Bursa Efek Indonesia yang kurang memadai.

Akibatnya, pembangunan system pembayaran di Indonesia pun terkendala oleh hal tersebut. Padahal, efisiensi dalam sistem pembayaran akan menciptakan kondisi yang sangat vital bagi pembangunan di semua sektor ekonomi.

Penulis Presiden Direktur Center for Banking Crisis


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close