ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Mensos Harapkan Penyandang Cacat Optimalkan Potensinya
Kamis, 31 Maret 2011 | 0:14

JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri mengharapkan agar para penyandang cacat yang berada di panti bisa mengoptimalkan potensinya di bidang keterampilan agar bisa bersaing dengan yang lain.

"Maksimalkan potensi yang dimiliki selama mengikuti bimbingan dua tahun di panti ini," kata Salim saat mengunjungi dan memantau langsung Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Wirajaya Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu.

Ia mengatakan, di 10 wilayah di Indonesia ada sebanyak 35 panti di bawah naungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemsos, namun jumlah itu tidak sebanding dengan ribuan panti asuhan yang didirikan pihak swasta.

"Banyak panti-panti terbatas UPT (Unit Pelaksana Teknis). Di sepuluh wilayah Tanah Air hanya 35 panti. Yang dimiliki masyarakat mungkin ratusan, bahkan ribuan," tuturnya.

Kendati demikian, keberadaan panti menunjukkan kepedulian pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemsos) dalam bentuk pembangunan berkeadilan. "Kita tidak melihat suku, golongan dan kondisi sosial seseorang, namun kita akan membantu warga penyandang cacat agar bisa mandiri," tuturnya.

Kepala PSBD Wirajaya Makassar, Muhammad Dasri, mengatakan, jumlah penyandang cacat tubuh yang ada di PSBD sebanyak 200 orang yang berasal dari 15 provinsi yang ada di wilayah Timur dengan masa pembinaan selama dua tahun.

"Setelah dua tahun, mereka akan dikembalikan kepada keluarganya agar bisa mandiri. Bahkan, ada alumnusnya yang telah sukses dalam usaha menjahitnya," tuturnya.

Namun, lanjut dia, ada pula yang tidak memberikan kontribusi selepas menempuh pendidikan karena orangtuanya terlalu memanjakan anaknya yang menderita cacat tubuh, meski sudah dibekali keterampilan.

Ia mengaku bantuan dari berbagai pihak telah banyak diterima oleh penyandang cacat tubuh yang usianya berkisar 17 hingga 35 tahun itu, namun panti yang berdiri sejak 1954 ini belum berencana menggandeng pihak swasta atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing.

Menurut dia, dana APBN dari pemerintah sudah lebih dari cukup dan sumber daya manusia yang bertugas memutar roda-roda kehidupan di panti seluas 4,7 hektar ini juga dinilainya sudah lebih dari cukup.

"Di sini ada 19 peksos (pekerja sosial) sudah cukup, bahkan terbanyak di panti UPT (Unit Pelaksana Teknis), jadi rasionya 1:10," ujar Dasri yang berencana mengarahkan pegawai di bawah institusinya untuk memiliki gelar sarjana profesi tersebut.

PSBD Wirajaya, satu dari 35 panti milik Kemsos ini berdiri di areal seluas 4,7 hektar. Penyandang cacat yang menempuh bimbingan, berasal dari kawasan Timur Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara dan sebagian Kalimantan. (gor/ant)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close