ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber-sumber Energi Nasional
Oleh Widjajono Partowidagdo | Selasa, 7 Juni 2011 | 10:06

Banyak hal yang selalu tidak pas dengan kebijakan energi nasional kita. Ini bisa kita lihat dari sederetan persoalan yang tak pernah tuntas terkait pengelolaan minyak dan gas nasional.

Coba kita simak berbagai persoalan terkait ketersediaan energi yang kita miliki. Produksi dan cadangan terbukti minyak kita turun terus. Walaupun cadangan terbukti gas kita empat kali lipat cadangan minyak, tapi program konversi minyak ke gas domestik tidak berjalan mulus.

Program 10.000 MW pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara juga tidak berjalan mulus dan sebagian besar produksi batubara kita diekspor. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di luar Jawa kurang berkembang. Program bahan bakar nabati tidak berjalan seperti yang diharapkan. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) banyak yang tidak berfungsi lagi.

Di sisi lain, minyak kurang berkembang karena sistem fiskal dan iklim investasi yang kurang menarik. Gas kurang termanfaatkan untuk domestic karena harga domestik yang tidak menarik dan tidak disiapkannya infrastruktur yang memadai. Batubara 10.000 MW kurang berkembang karena terdapat masalah negosiasi, birokrasi, dan koordinasi. Kebanyakan batubara diekspor karena harga domestik yang kurang menarik dibandingkan harga ekspor.

PLTA kurang berkembang karena masalah birokrasi, koordinasi, promosi, dan kemauan politik untuk mengembangkan industri di luar Jawa. Panas bumi kurang berkembang karena harga domestik yang tidak menarik di masa lalu. Bioenergi juga kurang berkembang karena masalah harga, peraturan, insentif, birokrasi, koordinasi, dan litbang.

Surya dan bayu tidak terawat karena kurang dikembangkan, di samping masalah birokrasi dan koordinasi. Konservasi kurang berhasil karena harga energi murah, peraturan (kurangnya insentif untuk penghematan energi), dan kurangnya dukungan bagi litbang serta kurangnya peningkatan kemampuan nasional untuk itu.

Aman dan Murah
Menurut International Sustainable Energy Organization (ISEO), biaya energi terbarukan, seperti energi surya, energi angin, panas bumi, arus laut, dan hidrogen akan turun di masa depan, sedangkan PLTA akan naik, walaupun masih tetap rendah. Biaya energi tak terbarukan, seperti minyak, gas, batubara, dan nuklir akan naik di masa depan.

ISEO yang merilis World Energy Scenario 2000-2050 juga menyebutkan bahwa permintaan energi dunia tumbuh 2% per tahun, dan pada 2050 permintaannya akan dipenuhi oleh energi terbarukan, dengan  pertumbuhan 5,2% pertahun. Meski cadangan dunia cukup berlimpah dan bisa lebih bersih lingkungan, batubara tetap bukan pilihan, karena biayanya lebih mahal.

Lalu bagaimana dengan nuklir? Meski teknologi untuk pengelolaannya terus dikembangkan, energi nuklir bukan pilihan di masa mendatang. Berbagai tragedi kebocoran nuklir, terakhir kasus Fukushima, Jepang (2011), semakin membuktikan bahwa energi ini sangat tidak aman. Di Amerika Serikat, misalnya, 27 dari 104 reaktor nuklirnya pernah bocor.

Sementara itu, di Jepang, antara 1997-2007 telah terjadi kebocoran nuklir sebanyak delapan kali. Negara-negara Eropa bahkan telah berketetapan hati untuk menutup pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)-nya 2020. Selain tidak aman, nuklir bukanlah energi yang paling murah. Data dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis tahun lalu menyebutkan, pada 2050 biaya energi nuklir, batubara, gas, dan tentu saja minyak, akan jauh lebih tinggi dari energi terbarukan.

Jadi, kita sebaiknya mengabaikan saja rencana pembangunan energi nuklir. Selain, aspek biaya dan keamanan, kita toh memiliki energi tak terbarukan yang nyaris tanpa batas. Hingga 2030, kita masih bisa mencukupi kebutuhan dengan menggunakan energi Kita masih bisa mencukupi kebutuhan dengan menggunakan kekayaan energi domestik (minyak, gas, batubara, panas bumi), dan energi terbarukan yang ketersediaannya sangat berlimpah (air, surya, angin, laut, biofuel, dan biogas). Namun, untuk hal ini kita membutuhkan kemampuan nasional untuk memproduksikan energi terbarukan dan konservasi energi.

Kita juga memerlukan kebijakan harga dan infrastruktur serta peningkatan iklim investasi untuk mengoptimalkan penggunaan energi domestik. Kita harapkan Pertamina dan perusahaanperusahaan nasional minyak dan gas bumi dapat meningkatkan produksi di dalam dan di luar negeri. Kita tidak perlu kalah dengan Petronas (Malaysia) yang bisa merambah dunia dalam pengelolaan migas. Namun, untuk melangkah lebih jauh menuju pemain kelas dunia dalam industri migas, kita memang harus memperbaiki sistem fiskal dan iklim investasi serta sistem informasi untuk meningkatkan investasi internasional migas di Indonesia.

Terobosan teknologi (Nano) juga diperlukan agar biaya pengelolaan energi terbarukan bisa lebih murah di masa depan. Konservasi atau penghematan energi harus terus dikembangkan. Karena itu, pemakaian mobil irit bensin seperti yang dihasilkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dan upaya-upaya penghematan energi lainnya perlu didukung dan dikembangkan secara nasional.

Pilihan yang Benar
Untuk menghindari krisis energi di masa mendatang kita memang perlu mengoptimalkan pemanfaatan energi di Indonesia, baik dari sisi pemanfaatan sumber daya maupun penggunaannya yang efektif (irit). Kita membutuhkan kerja sama dengan keterbukaan, kejujuran, kerja keras, dan cerdas dari seluruh bangsa Indonesia.

Kita perlu melakukan hal-hal yang benar untuk negeri ini, walaupun hal itu kerap sangat sulit dilakukan. Bagaimanapun ini pilihan yang harus kita lakukan. Karena kalau tidak demikian, seperti kata Yasadipura, kakek Ranggawarsita, “Waniya ing gampang, wediya ing pakewuh, sabarang nora tumeka (sukailah kemudahan, takutilah kesulitan, maka tidak ada yang diperoleh).”

Persoalan energi nasional memang tak bisa diselesaikan hanya dengan menggulirkan wacana demi wacana. Persoalan energi nasional juga bukan hanya urusan pemerintah saja, melainkan masalah semua komponen bangsa yang bisa teratasi dengan adanya pemimpin yang adil, pengusaha yang tangguh, akademisi yang mampu mengamalkan ilmunya, dan masyarakat yang mau bersabar, mandiri, dan hidup hemat.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Teknologi Pertambangan dan Perminyakan ITB


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!