ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 30 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Menegaskan Fungsi Profetis Tokoh Agama
Oleh Benny Susetyo | Sabtu, 19 Februari 2011 | 18:38


Suara keprihatinan yang disampaikan para tokoh agama terhadap kinerja pemerintah mestinya dipandang sebagai manifestasi dari fungsi profetis mereka. Para tokoh agama bukan hanya bertugas atau berfungsi sebagai penjaga rumah ibadah mereka. Mereka menjalankan fungsi moral.

Apabila negara kian jauh dari fungsinya untuk menjalankan atau menyelenggarakan kesejahteraan umum, agama, dan para pemimpinnya perlu datang untuk mengingatkan. Apabila para pemimpin pemerintahan sudah semakin melupakan tugasnya sebagai abdi negara, para tokoh agama perlu datang dan mengingatkan para pemimpin pemerintahan untuk kembali ke khitah.

Fungsi melindungi segenap tumpah darah dan membela nasib rakyat merupakan kewajiban negara yang sudah diamanatkan konstitusi. Karena itulah, ketika komponen tokoh agama memainkan fungsi kritiknya kepada kekuasaan, seharusnya semua pihak bisa memahami dan menjernihkan persoalan.

Pemerintah tidak selayaknya menganggap suara tokoh agama secara hitam-putih, dan menanggapinya secara berlebihan. Justru yang perlu dilakukan adalah bagaimana persoalan yang sudah diungkap oleh para tokoh agama menjadi perhatian untuk diselesaikan dan dicarikan jalan keluarnya. Dengan segala kekurangannya sebagai manusia, tokoh agama adalah panutan yang merepresentasikan kegalauan umatnya.

Memperjuangkan Keadilan
Perhatian dan kepeduliannya kepada sesamalah yang mendorong mereka bersuara lantang dan berkontribusi bagi kebaikan Indonesia sebagai bangsa. Mereka melihat ada ketidakadilan, ada penderitaan rakyat miskin di satu sisi, tapi ada segelintir elite yang hidup dalam kelimpahan. Para tokoh agama juga melihat ada perbedaan tajam antara janji atau apa yang dikatakan dan realias yang sesungguhnya di masyarakat.

Juga ada kesenjangan yang sangat lebar antara amanat undang-undang, program yang dicanangkan, janji-janji yang disampaikan dan kehidupan nyata sehari-hari.

Kondisi kesenjangan itu semakin lama bukannya semakin menyempit, malah semakin melebar dan memprihatinkan. Kemiskinan, pengangguran, kesempatan yang semakin sempit dalam meraih pendidikan yang memadai, masih harus berhadapan dengan praktik-praktik busuk yang terus berlangsung: korupsi, suapmenyuap, penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan.

Ironisnya, para penyelenggara negara seolah tak berdaya mengatasi semua itu. Mereka gagal memenuhi janjinya yang diucapkan saat kampanye pemilu, baik pemilu legislative maupun pemilihan presiden. Itulah yang membuat para tokoh agama gelisah. Mereka mewakili kegelisahan sebagian besar anak-anak bangsa ini yang tak kunjung mendapatkan solusi nyata dari negara. Di situlah letak kaum agamawan bertindak. Kita pernah mendengar aksi demo yang dimotori para biksu di Myanmar.

Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam aksi pawai anti-junta militer, memprotes berbagai ketidakadilan yang terjadi di negeri itu. Pelajaran utama yang kita petik dari fenomena tersebut adalah keberpihakan kaum agamawan dalam membela ketertindasan dan memperjuangkan keadilan.

Aksi para tokoh lintas agama di negeri ini pun bisa didudukkan dalam konteks bela rasa tersebut. Mereka galau menyaksikan penderitaan rakyat dan kegagalan para pemimpinnya dalam menyelenggarakan kesejahteraan umum dan menciptakan serta menjamin keamanan setiap warganya. Kesabaran hampir habis karena tak kunjung terdapat perubahan  yang lebih baik.

Kekuatan moralitas itulah yang sekarang ini ingin ditunjukkan kepada pemerintah. Tugas utama elite agama  adalah mengemban amanat hati nurani umatnya. Agamawan harus bisa merasakan penderitaan umatnya. Agamawan bukan mereka yang duduk manis di ruang-ruang ibadat dan mengabaikan atau bahkan pura-pura tidak tahu terdapat penderitaan yang sangat menyengat.

Agamawan bukanlah menara gading yang bersikap antirealitas sosial. Agamawan mempunyai peran sangat besar untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang dirusak oleh mereka-mereka yang berada di panggung kekuasaan. Agama tidak bisa berdiam diri dan hanya sekadar membebek kepada kekuasaan. Agama harus kritis terhadap realitas sosial yang tidak adil.

Agama dan para pemimpinnya harus mampu memelopori perubahan serta habitus baru dalam kehidupan ini. Agama harus memberikan kesempatan umat berpikir kritis, solidaritas, empati pada penderitaan dan mendorong proses perubahan tata nilai. Para agamawan harus berempati terhadap penderitaan umatnya, tak hanya berdoa, membuka dan membaca kitab suci, serta berkhotbah di mimbar-mimbar agama.

Mereka bisa menjadi katalisator perubahan, dan media kontrol terhadap kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan nilai-nilai universal. Agama berperan sebagai moralitas- etik yang menentang semua bentuk kekerasan, korupsi, kezaliman, dan kemiskinan.

Dalam situasi ini, agama akan menemukan nilai sosialnya, dan pada saat lainnya justru akan menyatukan berbagai agama dalam perjuangan nilai-nilai bersama untuk membela manusia tertindas.

Membangkitkan Optimisme
Tak usah takut dengan suara keras yang mereka dengungkan. Mereka tak membawa kepentingan apa pun dan siapa pun. Mereka tak berkerja untuk kepentingan politik sempit. Mereka membawa suara kenabian. Bahwa mereka bersuara keras, itu adalah wujud komitmen dan suara moral untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik.  Makanya, negara dan aparaturnya harus berusaha keras untuk menata negeri menjadi lebih baik.

Jadi tidak ada gunanya mempersoalkan segi-segi semantik kebohongan atau kegagalan. Jauh lebih penting adalah memahami substansi persoalan, yakni bagaimana mempersempit jurang antara janji yang diucapkan dan realisasinya dalam program-program konkret.

Kita semua sudah lelah dengan berbagai persoalan yang kita hadapi. Rakyat membutuhkan kembalinya energi positif untuk membangun optimisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kritik keras adalah vitamin untuk membangkitkan kembali optimisme tersebut. Terasa pahit, tapi buahnya pasti manis apabila kita semua menyadari itu, dan menerimanya dengan jujur dan tulus. ***

Penulis adalah rohaniawan dan budayawan


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!