ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Makna Sosial Mudik
Oleh Paulus Mujiran | Minggu, 19 Agustus 2012 | 8:25

Mudik adalah salah satu fenomena mengiringi hari raya Idul Fitri, hari kemenangan. Mudik dimengerti sebagai kembali ke udik, ditandai dengan migrasi kolosal jutaan manusia dari kota ke desa, tidak peduli strata dan status sosial seseorang.

Tahun ini pemudik diperkirakan meningkat hampir 3,43% dari tahun sebelumnya, atau naik dari 14.858.787 menjadi 15.368.468 pemudik. Meningkatnya arus mudik tidak lepas dari promosi yang gegap gempita maupun fasilitas mudik gratis yang disediakan banyak instansi.

Mudik yang menjadi khas Indonesia ini kian menarik karena dibalut dengan unsur tradisi yang menyebabkan orang mempunyai ikatan emosional dengan kampung halaman. Jika dilacak ke belakang, kebiasan mudik dapat ditemukan dari pendapat Koentjaraningrat (2002) yang membedakan antara masyarakat petani dan priyayi.

Dalam masyarakat petani, berkembang anggapan bahwa hidup itu susah, penuh penderitaan, karena itu peran penting para leluhur untuk meraih masa depan hidupnya.

Berbeda dengan masyarakat priyayi yang semua jaminan hidup telah tersedia, dalam masyarakat petani, untuk meraih kehidupan yang lebih tinggi diperlukan aksi atau kerja keras. Karena dibentuk dalam kultur petani, masih ada kerinduan untuk pulang kampung atau berkumpul dengan sanak saudara.

Saat paling tepat adalah pada hari raya Lebaran. Ini merupakan kesempatan paling baik untuk sowan kepada sesepuh, nyadran kepada leluhur dan silaturahim kepada sanak saudara yang masih berada di desa. Karena itu, mudik dimaksudkan memelihara relasi dengan para leluhur yang sudah meninggal. Dulu, di zaman kerajaan, juga ada tradisi serupa yang dilakukan untuk nyekar ke makam leluhur pada waktu-waktu tertentu.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi digital di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!