ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Lapan: Perbedaan Idul Fitri karena Penyimpangan Astronomi
Senin, 29 Agustus 2011 | 23:59

Sejumlah karyawan melambaikan tangan atas keberangkatan nasabah BRI dalam Program Mudik Bersama Kupedes-Simpedes BRI 2011 yang dilepas Direktur UMKM PT BRI Djarot Kusumayakti dan Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Royke Lumowa di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Kamis (25/8). BRI memberangkatkan gratis 3.500 nasabah dalam program ke-8 kalinya ini menuju kampung halaman dengan 68 bus AC ke Jatim dan Jateng. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO Sejumlah karyawan melambaikan tangan atas keberangkatan nasabah BRI dalam Program Mudik Bersama Kupedes-Simpedes BRI 2011 yang dilepas Direktur UMKM PT BRI Djarot Kusumayakti dan Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Royke Lumowa di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, Kamis (25/8). BRI memberangkatkan gratis 3.500 nasabah dalam program ke-8 kalinya ini menuju kampung halaman dengan 68 bus AC ke Jatim dan Jateng. Foto: Investor Daily/TINO OKTAVIANO

JAKARTA- Perbedaan Idul Fitri terjadi karena adanya penggunaan perhitungan yang menyimpang dari kelaziman astronomi modern, kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin.

"Penyimpangan dari kelaziman astronomi modern ini dengan masih digunakannya metode lama dalam hisab dan rukyat. Metode lama ini misalnya, hisab urfi hanya dengan periode tetap, dengan pasang air laut serta metode wujudul hilal," kata Thomas Djamaluddin di Jakarta, Selasa.

Pakar astronomi ini menyayangkan ormas Islam yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal.

"Kalau kriteria menggunakan hisab wujudul hilal tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433 (2012), 1434 (2013), dan 1435 (2014) juga akan berbeda dan masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara, 'mari kita saling menghormati," katanya.

Menurut dia, perbedaan Idul Fitri itu akan terus berulang, yakni ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk, contohnya pada kasus penentuan Idul Fitri 2011 yakni saat Maghrib 29 Ramadhan/29 Agustus, bulan sudah positif, tetapi tingginya di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang.

Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011, padahal saat itu bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati sesuai dalil syar'i.

"Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya, tidak ada yang istimewa," katanya.

Sedangkan metode Imkan Rukyat adalah tren baru astronomi yang berupaya menyelaraskan dengan dalil syar'i, ujar alumni ITB yang mengaku sering mengkritik metode hisab rukyat berbagai ormas Islam itu. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!