Kiemas: Proses Perdamaian Butuh Waktu Panjang
Kamis, 23 Februari 2012 | 13:52
Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif (kanan) saat peluncuran buku “Empat Pilar Untuk Satu Indonesia: Visi Kebangsaan dan Pluralisme Taufiq Kiemas" di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (22/2). Tampak Ketua MPR Taufiq Kiemas disalami Tokoh Golkar Akbar Tandjung, disaksikan sejumlah tokoh, antara lain mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimlie Assidiqie, Wakil Ketua MPR Meilani Leimena Suharli, Adnan Buyung Nasution, dan Megawati Soekarnoputri. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN JAKARTA - Ketua MPR RI Taufiq Kiemas mengatakan keyakinannya bahwa kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF) menginginkan perdamaian namun proses perdamaian tersebut membutuhkan waktu yang panjang.
"Mereka (MILF) pada dasarnya ingin damai, tapi proses perdamaian ini kan butuh waktu yang panjang," kata Taufiq Kiemas di kediaman Jl Teuku Umar Jakarta, Kamis. Saat menerima delegasi tim perunding perdamaian MILF dengan pemerintah Filipina untuk memberikan masukan atas proses perundingan yang sedang berjalan.
Delegasi MILF dipimpin oleh Ketua Abdullah M Hassan, dengan anggota delegasi; Atty datu Michaek Mastura, Abhud Syed Lingga, Abdullah Camlian, Bato Mohamd Zainodin, Ali Buisan, Sukrey ali Saaber. Sementara Ketua MPR Taufik Kiemas didampingi wakil ketua MPR Meilani, dan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.
Lebih lanjut Kiemas menegaskan, yang penting adalah bagaimana mengatur soal sumber daya alam atau mineral yang ada di wilayah Moro secara adil. "Bagaimana hal ini bisa mencukupi Filipina dan juga Moro, harus adil," kata Kiemas.
Ia mengakui bahwa proses perdamaian memang membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, tambahnya, diperlukan komitmen kedua belah pihak yang sedang berunding.
Sementara Abdullah mengaku senang bisa diterima oleh Ketua MPR Taufik Kiemas. Menurut Abdullah, beberapa nasihat yang disampaikan menjadi modal yang baik. "Beberapa nasehat yang disampaikan Pak Taufiq Kiemas akan kita jalankan," kata Abdullah.
Sedangkan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengaku pihaknya memiliki kepentingan dalam proses perdamaian antara MILF dan pemerintah Filipina. Din mengaku Muhammadiyah lah yang mengundang delegasi MILF ini.
"Muhammadiyah berkepentingan agar proses perdamaian bisa berlangsung dengan damai. Ini salah satu wujud peran serta Muhammadiyah dalam menwujudkan perdamaian," kata Din. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!