ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Ketergantungan Teknologi dari Luar Ancam Insinyur Dalam Negeri
Selasa, 27 November 2012 | 20:25

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (dua dari kiri) berbincang bersama (dari kiri ke kanan) Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar, Ketua Umum PII Said Didu, dan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak pada Kongres XIX PII, di Jakarta, Senin (26/11). S Foto: Investor daily/ant Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto (dua dari kiri) berbincang bersama (dari kiri ke kanan) Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar, Ketua Umum PII Said Didu, dan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak pada Kongres XIX PII, di Jakarta, Senin (26/11). S Foto: Investor daily/ant

JAKARTA - Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar mengatakan ketergantungan teknologi dari luar dalam mengelola sumber daya alam menjadi ancaman bagi pengembangan insinyur di dalam negeri yang jumlahnya masih minim.

"Pertumbuhan lapangan kerja dan pembangunan selama ini terlalu bertumpu pada modal dan investasi asing tanpa agenda pengembangan teknologi yang jelas," ujar Bobby usai pelantikan dirinya menjadi ketua baru menggantikan Said Didu, pada Kongres PII ke-19 di Jakarta, Selasa.

Hal itu, kata dia, terjadi karena pembangunan ekonomi nasional cenderung pragmatis, sehingga mendorong kalangan industri menempuh jalan pintas dengan membeli teknologi untuk barang modal, dibandingkan mengembangkan teknologi secara mandiri.

Akibatnya, ketergantungan industri nasional pada bahan baku dan barang modal impor semakin tinggi, yang menjauhkan Indonesia dari kemandirian ekonomi. Selain itu, pengembangan dan penguasaan teknologi secara nasional juga menjadi terbatas, yang mendorong minimnya minat masyarakat menjadi insinyur.

"Hal itu menjadi tantangan bagi teknokrat Indonesia," ujar Bobby. Ia khawatir tanpa pembenahan dan konsep pemberdayaan dan pengembangan teknologi yang jelas, Indonesia akan menjadi pengguna teknologi dari luar saja.

Oleh karena itu, ke depan, kata dia, PII secara aktif akan memberi masukan kepada pemerintah agar mendorong penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan rekayasa engineering dalam proses pembangunan.

"China merupakan contoh negara yang sukses mengembangkan teknologi untuk pembangunan dan layak dijadikan contoh oleh Indonesia," kata Bobby.

Pemerintah China secara masif, lanjut dia, melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi, pusat-pusat penelitian, dan perusahaan swasta untuk meninggalkan ketergantungan alih teknologi dari perusahaan asing.

Sementara itu itu Wakil Ketua PII Hermanto Dardak menambahkan peluang insinyur Indonesia untuk berkiprah dalam pembangunan sangat besar, seiring dengan pelaksanaan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Banyak proyek-proyek MP3EI yang membutuhkan insinyur, seperti pembangunan kawasan industri oleokimia Sei Mangke, pembangunan jalan tol, dan pembangunan smelter terkait akan dihentikannya ekspor barang mineral mentah pada 2014," kata Hermanto yang juga Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU).

Saat ini, kata dia, jumlah insinyur di Indonesia masih minim, hanya mencapai sekitar 650 ribu orang dibandingkan jumlah penduduk dan luas Indonesia yang besar. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!