ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 20 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Kemenprin Kawal Proyek Industri Logam-Kimia Dasar
Selasa, 14 Agustus 2012 | 12:33

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mengawal ketat proyek-proyek industri dasar untuk memacu tumbuhnya industri hulu baik logam dasar maupun industri kimia dasar.

Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta, Selasa (14/8) mengatakan untuk memacu pertumbuhan industri itu pemerintah memberikan insentif pajak dan pembebasan bea masuk barang modal.

"Hal ini agar sektor industri hulu baik logam dasar seperti baja, aluminium, nikel dan tembaga, maupun industri kimia dasar seperti industri petrokimia mengalami pertumbuhan yang pesat,"katanya.

Proyek-proyek strategis yang sedang berjalan, menurut Hidayat, terdapat pada industri besi baja, industri petrokimia dan pupuk.

Pada sektor besi baja, PT Krakatau Posco telah memulai pembangunan tahap I pabrik di Cilegon dengan kapasitas 3 juta ton per tahun dengan investasi 2,8 miliar dolar AS.

Kemudian PT Batulicin Steel telah memulai pembangunan pabrik tahap I berkapasitas 1 juta ton per tahun dan PT Ferronikel Halmahera Timur sudah menanamkan modalnya sebesar 1,6 miliar dolar AS dengan kapasitas produksi mencapai 27.000 ton per tahun.

Pada industri petrokimia, lanjut Hidayat, PT Petrokimia Butadiene Indonesia telah berinvestasi sebesar Rp1,5 triliun dan PT Chandra Asri menanamkan modalnya sebesar Rp1,7 triliun. Selain itu, pemerintah akan merevitalisasi lima pabrik pupuk urea milik BUMN dengan investasi 3,7 miliar dolar AS.

"PT Petrokimia Butadiene Indonesia memiliki kapasitas 150.000 ton per tahun, PT Chandra Asri kapasitasnya 1 juta ton per tahun dan lima pabrik pupuk urea BUMN memiliki kapasitas 3,5 juta ton per tahun. Proyek-proyek tersebut akan selesai pada 2014," tuturnya.

Hidayat menuturkan, dengan realisasi pembangunan di sektor industri logam dasar maupun industri kimia dasar, maka sektor tersebut tidak akan kesulitan bahan baku.

"Selama ini, bahan baku untuk sektor logam dasar dan kimia dasar masih diimpor dan membuat biaya produksi semakin tinggi," ungkapnya.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close