ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 20 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Kemenpora-Universitas Kirim 1000 Sarjana ke Desa
Rabu, 20 Juli 2011 | 15:57

JAKARTA - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan universitas di 33 provinsi melakukan kerja sama untuk mengirim 1.000 sarjana pada tahun 2011 ke pedesaan dalam program pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (SP3).

"Mereka akan berada di desa selama dua tahun untuk menggerakkan desa. Bisa jadi guru, pelatih olahraga, membantu pertanian atau peternakan," kata Menpora Andi Mallarangeng di sela Rakor Program SP3 dan Penandatanganan MoU Menpora dengan 33 Rektor Perguruan Tinggi, di Jakarta, Rabu.

Andi mengatakan, MoU tersebut merupakan revitalisasi program SP3. Bentuk revitalisasi itu antara lain dengan melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dalam merekrut dan menempatkan para sarjana. "Dulu tidak melibatkan perguruan tinggi. Yang merekrut Dinas Pemuda dan Olahraga. Banyak kampus tidak tahu program ini," katanya.

Selain itu, katanya, saat ini sarjana akan ditempatkan bukan di daerah asalnya. "Dulu ditempatkan di kampung halaman mereka," katanya.

Andi mengatakan para sarjana yang mengikuti program ini akan mendapatkan biaya hidup minimal. Oleh sebab itu, katanya, sarjana yang mengikuti program ini adalah yang mempunyai keinginan dan spirit untuk membangun desa.

Menurut Andi, program PSP3 adalah salah satu program unggulan kementeriannya. Ia mengharapkan dengan adanya program tersebut maka paling tidak mendapatkan dua manfaat yakni pertama nilai tambah untuk membangun desa. Kedua para sarjana yang mengikuti program dapat membangun kemampuan diri dan juga menjadi mengenal dan mencintai desa.

Andi mengatakan bahwa jumlah pemuda yang dikirim tahun ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Namun ia tidak menyebutkan jumlah tahun sebelumnya.

SP3 dimulai sejak tahun 1989 sebagai wujud keprihatinan pemerintah terhadap fenomena tingginya angka pengangguran pemuda di pedesaan, serta banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menjadi pencari kerja di perkotaan. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close