ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 19 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Jokowi:Lestarikan Pasar Tradisional
Jumat, 17 Juni 2011 | 12:48

SOLO-Pengembalian nama pasar barang antik "Windujenar" di Solo kembali menjadi "Tri Windu" tidak lain hanya untuk melestarikan sejarah yang ada dan sekaligus juga untuk menjaga nama pasar tersebut yang telah di kenal secara internasional itu tidak hilang.

"Pasar Tri Windu yang menjual barang-barang antik itu secara internasional sudah dikenal, tetapi setelah diubah menjadi Windu Jenar banyak pembeli dari luar negeri bingung, maka ini namanya dikembalikan lagi sesuai aslinya," kata Wali Kota Surakarta Joko Widodo di Solo, Jumat (17/6).

Ketika meresmikan perubahan nama pasar barang antik didampingi Wakil Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Joko Widodo mengatakan, melalui perubahan nama ini diharapkan para wisatawan utamany yang asal dari mancanegara tidak bingung lagi.

"Sekarang ini memang sudah banyak wisatawan yang datang ke pasar barang antik ini, tetapi dengan dikembalikan namanya sesuai aslinya diharapkan bisa tambah ramai lagi," kata Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi itu.

Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Kota Surakarta Subagio, mengatakan pasar ini dibangun oleh masa Pemerintahan Mangkunegoro VII yaitu tahun 1936 dan telah mengalami perbaikan beberapa kali dan yang terakhir pada tahun 2008/2009 dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta dengan menghabiskan dana sekitar Rp6,5 miliar.

Pasar barang antik Tri Windu yang dibangun menghabiskan dana sekitar Rp6,5 miliar itu terdiri dari 212 kios dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas lainnya termasuk halaman yang luas yang setiap Sabtu malam dijadikan ajang tempat pentas kesenian rakyat.

Menyinggung mengenai pandapatan asli daerah (PAD) yang dipungut dari penarikan restribusi pasar, Subagio mengatakan target tahun 2011 sebesar Rp20,3 miliar dan sampai sekarang telah terealisasi sebesar 45%.

Target PAD sebanyak tersebut di tarik dari pungutan retribusi 43 pasar yang ada di daerah ini baik untuk pasar tradisional maupun modern.

"PAD dari pungutan retribusi pasar memeng di sini termasuk andalan, maka keberadaan pasar-pasar tradisional juga diperhatikan untuk pembangunannya," katanya.

Pembangunan pasar-pasar tradisional di Solo juga terus dilakukan agar mampu bersaing dengan pasar modern dan tahun ini juga dilakukan pembangunan Pasar Ayu yang tahap pertama menelan dana Rp2,7 miliar dan tahun ini dianggarkan lagi Rp1,1 miliar.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close