ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Jambi, Potret Ekonomi Indonesia
Senin, 13 Februari 2012 | 11:38

Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu (ketiga dari kiri) menerima penghargaan Adinegoro saat penganugerahan pada acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2012 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jambi, Kamis (9/2). Penghargaan Adinegoro diberikan untuk kategori Tajuk Rencana Terbaik. Foto: Investor Daily/ist Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu (ketiga dari kiri) menerima penghargaan Adinegoro saat penganugerahan pada acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2012 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jambi, Kamis (9/2). Penghargaan Adinegoro diberikan untuk kategori Tajuk Rencana Terbaik. Foto: Investor Daily/ist

Jambi adalah sebuah Indonesia mini. Potret provinsi kaya ini ada lah potret Indonesia. Pertumbuhan ekonominya jauh di atas pertumbuhan nasional. Ekspor meningkat pesat. Tapi, angka kemiskinan masih besar. Mayoritas rakyat hidup pas-pasan, bahkan cenderung dekat garis kemiskinan. Jambi adalah contoh pertumbuhan ekonomi yang eksklusif, sebuah pertumbuhan yang tidak berkualitas. Pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang.

Pada 2011, ekonomi Jambi melaju 8,2%, jauh di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional, 6,5%. Tapi, laju pertumbuhan sebesar ini dihela oleh dua sektor capital intensive, yakni pertambangan dan perkebunan. Kontribusi kedua sektor terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) lebih dari 50%. Sektor pertanian yang menyerap sekitar 80% tenaga kerja justru hanya memberikan kontribusi 6% terhadap PDRB.

Rektor Universitas Jambi Aulia Tasman mengakui, kesenjangan ekonomi di wilayahnya cukup besar meski tidak setajam sejumlah provinsi lain. Namun, buat provinsi kaya sumber daya alam dengan penduduk yang hanya berjumlah 3 juta jiwa, kesenjangan yang tak kunjung turun itu berpotensi melebar dan memicu masalah sosial yang tidak diinginkan jika tidak ada upaya terencana dan sistematis untuk mengatasinya.

Jambi adalah penghasil CPO nomor empat dan produsen karet nomor tiga terbesar di Indonesia. Untuk pinang merah, Jambi adalah produsen nomor satu. Provinsi ini juga penghasil migas dan berbagai jenis produk pertambangan, terutama batubara. Tapi, semua produk sumber daya alam ini diekspor.

Pekerja Jambi didominasi tenaga tidak terampil dengan pendidikan maksimal SD. Sebagian warga usia sekolah memilih bekerja di kebun sawit daripada melanjutkan pendidikan. Kondisi ini cukup memprihatinkan untuk jangka panjang. Jambi bakal kekurangan tenaga terdidik dan terampil pada masa akan datang. Anak-anak muda itu sudah merasa cukup puas dengan menjadi pekerja kasar di kebun sawit.

Pertumbuhan ekonomi yang eksklusif atau tidak berkualitas tidak bisa terus-menerus dibiarkan, melainkan harus diubah menjadi pertumbuhan inklusif. Pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya didorong oleh sektor usaha padat modal. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas hanya bisa dicapai jika kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor usaha padat karya, yakni pertanian dan industri manufaktur.

Ke depan, sektor pertanian dan industri harus dibangun. Agar petani bisa hidup layak, konversi lahan pertanian menjadi perkebunan perlu dicegah. Perkebunan milik rakyat dilindungi lewat penerapan pola intiplasma. Cukup sudah peralihan lahan dari petani kepada pengusaha besar. Petani yang belum memiliki lahan justru harus diberikan lahan.

Untuk meningkatkan pendapatan rakyat, mereka yang bekerja sebagai petani plasma perlu diberikan kegiatan tambahan untuk mengisi waktu luang yang cukup panjang. Di luar kegiatan perawatan dan panen sawit, petani bisa dibimbing untuk menggemukkan sapi sambil bertani dan budi daya ikan. Kotoran sapi dikumpulkan untuk pembuatan pupuk organik. Kencing sapi, setelah diberikan bakteri tertentu, terbukti menyuburkan ikan kolam.

Anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tidak boleh dibiarkan asyik bekerja di kebun sawit. Mereka wajib disekolahkan. Alokasi dana APBN hingga 20% cukup untuk mendorong anak Indonesia mengenyami pendidikan hingga SLTA. Hanya dengan pendidikan yang baik, Indonesia memiliki tenaga kerja bermutu dan pendapatan yang memadai hanya bisa digapai oleh tenaga kerja terampil dan terdidik.

Jambi laksana kebun bagi warga asing. Datang sebagai investor, mereka mendapatkan izin untuk menanamkan modalnya di sektor perkebunan dan pertambangan. Hasil pengerukan sumber daya alam ini, semuanya, diekspor. Perusahaan pertambangan dan perkebunan milik pengusaha nasional pun tidak jauh beda dengan asing. Semua poduk primer usaha berbasis sumber daya alam ini diekspor. Tidak ada nilai tambah berarti yang diterima rakyat setempat selain upah murah.

Program pembangunan industri manufaktur perlu segera direalisasikan. Berada di Koridor I bersama provinsi se-Sumatera, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Jambi termasuk wilayah yang harus mengembangkan industri pengolahan sawit, karet, batubara, dan berbagai produk berbasis sumber daya alam.

Para pengusaha diwajibkan membangun industri pengolahan untuk memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi rakyat Jambi dan bangsa Indonesia. Kita mengharapkan agar isu hilirisasi tidak sekadar wacana dalam MP3EI, melainkan program aksi yang benar-benar hendak dijalankan. Agar klaster-klaster industri di Jambi bisa segera dikembangkan, infrastruktur transportasi segera dibangun.

Bandara, pelabuhan, dan jalan raya di Jambi saat ini tidak layak untuk mendukung pembangunan industri manufaktur dan upaya akselerasi pembangunan Sumatera. Jalan raya baru, greatway dan highway Trans-Sumatera, juga jembatan Selat Sunda, akan memberikan dampak sangat besar bagi pengembangan Jambi dan ekonomi dua pulau besar, Jawa dan Sumatera.

Pembangkit listrik tenaga batubara yang dibangun di Jambi akan dengan mudah dipasok ke Jawa jika jembatan Selat Sunda sudah berfungsi. Jambi adalah potret ekonomi Indonesia yang diwarnai sejumlah paradoks. Nilai tambah kekayaan alam dinikmati asing dan segelintir orang Indonesia. Tingginya laju pertumbuhan ekonomi didorong oleh sektor usaha padat modal.

Pertanian, sektor usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja, tidak banyak memberikan kontribusi terhadap PDRB. Masih banyak warga yang hidup di bawah miskin di negeri kaya sumber daya alam. Pekerja didominasi tenaga tidak terampil. Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2012, yang dipusatkan di Jambi kiranya menjadi momentum perbaikan ekonomi Jambi, perbaikan ekonomi Indonesia. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!