IPW: Pemerintah SBY Biarkan 'Pembantaian' Mudik Lebaran
Kamis, 8 September 2011 | 8:01
PII siap bantu memperbaiki infrastruktur jalan untuk meminimalisir kasus kecelakaan saar mudik Lebaran. Foto: Investor Daily/ ANTARA/Chris Ali/NZ/11 JAKARTA-Indonesia Police Wacth menilai pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih melakukan pembiaran terjadinya 'pembantaian" korban kecelakaan lalu lintas pada angkutan mudik lebaran 1432 Hijriah.
"Pemerintahan SBY masih membiarkan pemudik Lebaran 2011 menjadi korban "pembantaian" di jalanan. Terbukti dengan banyaknya jatuh korban tewas dalam musim mudik," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, di Jakarta, Rabu (7/9).
Dari data yang ada, pada lebaran 2009 korban tewas mencapai 702 orang, 2010 melonjak menjadi 746 orang. Sementara pada 2011 sebanyak 682 orang (sampai 6 September). Korban terbanyak adalah pemudik yang menggunakan sepeda motor Diperkirakan korban tewas melonjak hingga arus balik selesai.
"Ini menunjukkan sepertinya tidak ada upaya pembenahan signifikan dalam antisipasi mudik Lebaran. Padahal setiap lebaran, rata-rata 70% pemudik menggunakan sepeda motor," kata Neta.
Dari pantauan IPW, aparat kepolisian sudah kerja keras mengatur simpul-simpul kemacetan. Namun karena volume kendaraan terlalu banyak, sementara lebar jalan tidak bertambah, polisi tak bisa berbuat banyak dan hanya mengatur lalulintas yang macet total.
Menurut Neta untuk menghindari makin banyaknya kecelakaan dan korban tewas di jalanan, pemerintahan SBY sudah saatnya membuat strategi baru. Misalnya memperbanyak penggunaan kapal perang untuk mengangkut pemudik sepeda motor dari Tanjungpriok ke Cirebon atau Tanjungmas Semarang. Sebab, sebagian besar pemudik motor bertujuan ke Jabar bagian timur, Jateng dan Jatim.
"Jika strategi ini tidak dilakukan 'pembantaian' pemudik di jalanan akan kian mengerikan," katanya.(ant/hrb)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kejagung Jemput Paksa Tersangka Bioremediasi Chevron
BEI, Bursa Paling Atraktif di Dunia
Maharani Diajak Berhubungan Intim dengan Fathanah di Hotel
BEI Berharap Penurunan Jumlah Saham Segera Tereliminasi
Harum Energy Bagi Dividen Rp681 Miliar
Alam Sutera Refinancing Utang Rp 734 Miliar
Penolakan Ekspor CPO Diperkirakan Hanya Strategi AS
Enam Terpidana Mati akan Dieksekusi