ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Harga Saham Perbankan Berpotensi Naik 25%. 2011, Profitabilitas Bank Tetap Tinggi
Oleh Hari Gunarto dan Eva Fitriani | Selasa, 14 Desember 2010 | 8:05

JAKARTA – Fundamental perbankan nasional makin kokoh dan kinerjanya diprediksi tetap bagus hingga tahun depan. Profitabilitas masih menggiurkan ditopang margin bunga bersih (NIM) dan fee based income yang tinggi, ekspansi kredit yang agresif, dan permodalan yang kuat.

Disokong pertumbuhan ekonomi minimal 6% tahun depan, perbankan diprediksi mampu meraih pertumbuhan laba bersih sekitar 25%. Demikian pula harga saham perbankan berpotensi naik 25-40% sepanjang 2011.

Demikian rangkuman pendapat Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang, analis Waterfront Securities Indonesia Isfhan Helmy Arsad, analis pasar modal dan investasi Fendi Susiyanto, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Djarot Kusumajakti, Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Pahala Mansury, dan peneliti Bank Indonesia Suhaedi.

Mereka dihubungi Investor Daily di Jakarta, Senin (13/12). Mereka menyatakan bahwa performa perbankan di Indonesia tergolong terbaik di Asean, terutama dari sisi profitabilitas dan pertumbuhan laba. Itulah sebabnya, investor masih memburu saham perbankan kendati rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) relatif lebih tinggi dibanding perbankan regional.

Sedangkan rasio harga terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) relative kompetitif di kawasan regional.

Genjot Modal
Edwin Sebayang, Isfhan Helmy, dan Fendi Susiyanto menyatakan, kinerja perbankan nasional dan kemampuan mencetak laba atau profitabilitas sangat bagus. Performa ini diyakini berlanjut hingga tahun depan. Menurut Edwin dan Isfhan, dengan laba yang sangat tinggi, bank-bank juga menyisihkan laba ditahan dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 2009, laba bersih bank umum tumbuh 47,7%. Pada 2008 pertumbuhan laba negatif karena krisis global sedangkan pada 2007 tumbuh 23,6%. Khusus untuk 10 bank dengan aset terbesar, per kuartal III-2010 pertumbuhan labanya mencapai 41%.

Selain itu, kata Edwin dan Isfhan, perbankan di Indonesia sedang getol menggenjot permodalan. Karena itu, banyak bank yang menggelar rights issue dan menerbitkan obligasi. “Memang permodalan perbankan di Indonesia tertinggal dibanding kompetitornya di regional,” kata Edwin.

Sejumlah bank yang menerbitkan rights issue dalam jumlah signifikan adalah BNI, Bank Mandiri, Bank Danamon, dan CIMB Niaga. Dengan permodalan yang kuat, lanjut Edwin dan Isfhan, kemampuan bank untuk ekspansi usaha, terutama kredit juga sangat tinggi. Ekspansi kredit tahun depan diperkirakan mencapai 22- 25%, didukung oleh pertumbuhan ekonomi nasional yang di atas 6% dan sektor-sektor yang umumnya tumbuh tinggi. “Semua itu akan berujung pada kemampuan bank untuk mendongkrak laba,” ungkap Edwin.

Dengan kondisi positif tersebut, kata Edwin dan Isfhan, tidak masalah jika PBV perbankan nasional relatif lebih tinggi dibanding perbankan regional.

Sedangkan ditinjau dari segi PER, Edwin melihat PER perbankan nasional masih kompetitif disbanding regional. PBV perbankan nasional ratarata sebesar 3,5 kali, sedangkan bank-bank di regional antara 1,28 hingga 2,8 kali. Sedangkan PER untuk bank-bank papan atas nasional berada di level 15-26, sementara perbankan regional berkisar 11-23.

Isfhan Helmy menambahkan, saham perbankan di Indonesia masih sangat prospektif kendati PBV-nya relatif tinggi. Sedangkan PER-nya cukup rendah, apalagi dibanding sektor lain. “PER saham sektor konsumsi sudah 30%,” kata Isfhan.


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!