ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 28 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Harapan Baru dari Reshuffle
Senin, 10 Oktober 2011 | 12:17

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wapres Boediono dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa berjalan bersama saat akan meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) beberapa waktu lalu.  Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wapres Boediono dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa berjalan bersama saat akan meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) beberapa waktu lalu. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Reshuffle kabinet diharapkan memberikan harapan baru bagi rakyat yang sudah tak sabar melihat ketertinggalan negeri ini dari sejumlah negara yang pada beberapa dekade lalu berada di garis yang sama, bahkan jauh di belakang Indonesia. Pergantian kabinet diharapkan mampu mendorong akselerasi pembangunan dan memulihkan kembali kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Seperti dijelaskan juru bicara Istana Negara, simulasi reshuffle kabinet sudah dirampungkan. Akhir pekan ini, Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II hasil reshuffle sudah bisa diumumkan. Tanggal 21 Oktober 2011, para menteri KIB II genap dua tahun, sebuah rentang waktu yang cukup untuk menampilkan kinerja. Saat ini, Presiden SBY sudah memiliki data cukup untuk memberikan penilaian kepada masing-masing menterinya.

Meski tidak diumumkan menteri yang memiliki rapor merah dan biru, rakyat sudah bisa mengetahui menteri yang bekerja benar dan yang tidak. Juga menteri yang bersih dan menteri yang berlumuran korupsi. Harapan baru akan muncul jika para menteri yang berkinerja buru dan yang sudah berindikasi korupsi disingkirkan dari kabinet. Memindahkan mereka ke pos lain di KIB II sama saja dengan memindahkan masalah, bukan menyelesaikan masalah, apalagi membuat akselerasi pembangunan.

Reshuffle kabinet hendaknya tidak menyingkirkan menteri yang sudah berkinerja bagus hanya lantaran menteri bersangkutan dinilai “menghambat” operasi kepentingan tertentu. Isu pergantian Menkeu sarat dengan benturan kepentingan. Menkeu dianggap menghambat kepentingan tertentu. Salah satu kekuatan ekonomi Indonesia saat ini adalah stabilitas fiskal. Dengan mempertahankan defisit bujet di bawah 2% dari PDB, Menkeu sesungguhnya sudah berandil besar dalam menjaga stabilitas fiskal.

Dalam sebulan terakhir ini, Menkeu Agus Martowardojo diisukan akan digantikan oleh Gita Wiryawan, ketua BKPM saat ini. Sebagai mantan investment banker yang bekerja di JP Morgan, perusahaan multinasional papan atas, Gita memiliki kapasitas untuk menjadi menkeu. Apalagi figur ini dikabarkan sangat dekat dengan Presiden SBY.

Tapi, Agus Martowardojo, mantan bankir dengan jabatan terakhir dirut PT Bank Mandiri Tbk, adalah figur yang sudah memberikan bukti. Agus dikabarkan kurang disukai karena tiga hal. Pertama, sikap ngototnya agar 7% saham PT Newmont Nusa Tenggara dibeli oleh pemerintah. Kedua, sikap tegasnya terhadap DPR RI ditafsirkan sebagai kurang luwes untuk “berkompromi”. Ketiga, sejumlah rekan menterinya menilai, Agus mencairkan dana APBN laiknya bankir mencairkan kredit bank. Begitu ketat, sehingga realisasi anggaran kementerian tidak sesuai jadwal dan menumpuk di akhir tahun.

Tiga alasan ini sama sekali tidak relevan. Dalam kasus Newmont, menkeu bukan berjuang untuk kepentingan pribadi, melainkan kepentingan negara. Ketegasan Agus terhadap DPR sangat penting karena setiap anggota Panitia Anggaran DPR memiliki agenda dan kepentingan. Bila diakomodasi tanpa filter oleh menkeu, anggaran untuk rakyat bakal sekadar retorika. Keterlambatan pencairan dana APBN lebih disebabkan oleh ketidaksiapan masing-masing kementerian. Hampir semua kementerian memasuki tahun fiscal baru tanpa program yang jelas dan rinci. Akibatnya, realisasi belanja APBN menumpuk di kuartal keempat. Keterlambatan ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum Agus menjadi menkeu.

Berbagai isu miring dialami juga oleh sejumlah menteri yang berkinerja bagus. Menjelang reshuffle, berbagai kelompok kepentingan berusaha mendudukkan calonnya di kabinet. Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, dan Kementerian BUMN termasuk pos yang paling diincar karena dinilai mudah mendulang uang. Menjelang kampanye pemilu legislatif yang tinggal dua tahun lagi, parpol berusaha dengan berbagai cara agar mendapatkan jatah menteri. Parpol yang selama dua tahun pertama masuk dalam Sekretariat Gabungan (Setgab) takkan sudi kenikmatan mereka berkurang, apalagi berakhir. Dalam kondisi seperti ini, Presiden SBY yang takkan mungkin maju lagi dalam Pilpres 2014 melakukan pergantian kabinet. Idealnya, dalam menentukan pergantian kabinet, Presiden tidak perlu mempertimbangkan parpol.

Menteri yang dipertahankan dan menteri baru yang menggantikan menteri bermasalah semata-mata berdasarkan pertimbangan profesionalisme, bukan politik dagang sapi. Bisa saja menteri profesional berasal dari parpol. Namun, jika tidak ada calon dari parpol yang profesional, menteri bisa diambil dari luar partai. Presiden tidak perlu mengkhawatirkan dukungan DPR RI terhadap pemerintah. Sepanjang pemerintah datang dengan program yang bagus, yang benar- benar pro-rakyat, parlemen akan mendukung. Jika parlemen mengada-ada dan berulah, rakyat akan memberikan tekanan kepada DPR agar mereka mendukung program pemerintah. Sejarah menunjukkan, rezim Soeharto bukan ditumbangkan oleh parlemen, melainkan oleh kekuatan rakyat.

Akan sangat mengecewakan rakyat jika anggota KIB pasca-reshuffle masih juga terdiri atas figur yang tidak becus dan tidak bersih. Setelah 10 tahun menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, selayaknya SBY meninggalkan legacy dan warisan itu hanya mungkin tercipta jika presiden didukung oleh menteri yang profesional, bersih, dan memiliki kepemimpinan. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!