ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Franz Magnis: Demokrasi Indonesia Seperti Toko Swalayan
Selasa, 14 Februari 2012 | 19:20

JAKARTA - Pakar filsafat politik Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia bisa dianalogikan seperti toko swalayan yang hanya melayani orang yang mempunyai uang.

"Di swalayan, kalau Anda tidak punya uang, maka pelayan toko tidak akan mendengarkan apapun permintaan Anda. Demikian pula demokrasi kita, hanya mereka yang punya modal materi lebih yang bisa berkuasa di negeri ini," kata Franz dalam seminar "Sarasehan Kebangsaan" di Jakarta, Selasa.

Franz menjelaskan bahwa dalam logika swalayan, pembeli adalah raja yang dilayani oleh penjual. Penjual dalam konteks demokrasi Indonesia menurut Franz adalah rakyat Indonesia. Merekalah yang akan melayani kebutuhan politisi yang membeli suara masyarakat.

"Padahal ide utama demokrasi adalah keterwakilan. Politisi adalah wakil yang seharusnya melayani kebutuhan orang yang diwakilinya, bukan sebaliknya," kata pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Diyarkara tersebut.

Dalam seminar yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia tersebut, Franz mengatakan bahwa demokrasi toko swalayan telah menyebabkan adanya ketidaktenangan di masyarakat.

"Memang ekonomi kita bagus, pertumbuhan maju terus, kemiskinan juga tidak terlalu ekstrem. Namun konflik sosial di daerah soal tanah seperti di Mesuji dan Bima menunjukkan bahwa masyarakat tidak tenang dan puas dengan kondisi ini," kata Franz.

Dia kemudian mengatakan bahwa ketidaktenangan masyarakat itu disebabkan oleh demokrasi yang dikorupsi, yaitu demokrasi yang menempatkan uang sebagai prinsip dasar interaksi politik.

"Penyebab yang lain, selain demokrasi yang dipraktikkan seperti manajemen toko swalayan, adalah tidak hadirnya kepemimpinan yang kuat dalam kehidupan bernegara kita. Kita ini seperti hidup dalam pesawat yang memakai mode 'autopilot'," kata Franz.

Pesawat bernama Indonesia ini, menurut Franz, telah dibiarkan terbang tanpa kendali dari manusia sehingga tujuan pendiri bangsa terancam tidak tercapai.

"Kita harus melihat sejarah agar jelas visi kita, arah ke mana kita akan menuju. Masa lalu itulah yang kita lupakan, makanya kita sekarang seakan tidak punya tujuan karena semua dibiarkan berjalan tanpa arah," kata Franz.

Franz melihat bahwa pendiri bangsa telah merumuskan tiga cita-cita yaitu, kemerdekaan terhadap segala bentuk penjajahan, keadilan, dan kebangsaan Indonesia. Ketiga unsur ini disinergikan dalam Pancasila.

"Cita-cita itulah yang seharusnya menjadi arah bagi pembangunan kita ke depan. Jangan sampai demokrasi kita berjalan tanpa arah dan menyebabkan wajahnya seperti toko swalayan," kata dia. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!