Film & TV Salah Satu Pendorong Utama Ekonomi
Rabu, 13 Juni 2012 | 16:23
Jajaran pimpinan Motion Picture Association (MPA) yang dipimpin Executive Vice President Chief Policy Officer Greg Frazier (enam dari kiri) bersama The US Embassy‘s Charge d‘ Affaires, Ted Osius (lima dari kiri) bertemu Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (1/8). Foto: Investor daily/ist JAKARTA- Industri film dan televisi nasional akan menjadi salah satu sektor utama pendorong ekonomi tumbuh lebih besar apabila pemerintah dan swasta mau bekerja sama mengembangkan industri kreatif tersebut.
“Hal ini terlihat dari studi lembaga konsultan dan penelitian dunia, Oxford Economic, yang pada 2010 menyebutkan, kontribusi langsung Industri Film dan Televisi Indonesia terhadap perekonomian mencapai Rp7,6 triliun yang juga menciptakan lapangan kerja baru sebanyak 191.000 orang,” kata President dan Managing Director Motion Picture Association (MPA) Asia Pasific, Mike Ellis dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan, hasil studi itu diharapkan menjadi penggerak ekonomi dan batu loncatan penting untuk pengembangan industri kreatif tersebut. “Potensinya yang besar itu juga menjadi salah satu alasan ekonomi untuk terus membina sektor industri film dan televisi,” ucapnya.
MPA merupakan suatu organisasi yang mempromosikan dan melindungi masyarakat film di Asia Pasific.
Menurut Mike Ellis, kontribusi ekonomi industri film dan televisi nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2010 mencapai Rp27,07 triliun atau 0,43% dari seluruh PDB nasional.
“Industri ini juga menciptakan lapangan kerja baru sebanyak 491.800 orang atau 0,45% dari lapangan kerja nasional, dan memberikan pendapatan pajak sebesar Rp2,818 triliun atau 0,39% dari total pendapatan pajak,” katanya.
Meski demikian, lanjut Mike, Indonesia sampai saat ini belum mencapai potensi tersebut karena jumlah layar bioskop masih belum dapat memenuhi kebutuhan penonton nasional.
“Hasil studi itu sendiri menunjukkan hanya ada 675 bioskop layar lebar yang tersedia saat ini untuk melayani 245 juta penduduk,” ujarnya.
Produsen film top Indonesia dan perwakilan dari Persatuan Produsen Film Indonesia (PPFI), Chand Parwez mengatakan, Indonesia masih belum dapat mengembangkan industri layar lebar sesuai dengan potensi yang ada.
“Pasarnya besar, penontonnya melimpah, namun upaya untuk mengembangkan ke arah sana masih banyak menghadapi hambatan,” katanya.
Di Malaysia misalnya pada 2011 sebanyak 639 film layar lebar dapat menghibur 28 juta penduduk. “Karena makin banyak film layar lebar akan menguntungkan baik bagi penonton maupun produsen,” ucapnya. (ant/gor)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
YLKI: KAI Naikkan Tarif Terselubung
OJK Setujui Pengurahan Lot Saham di BEI
Sritex Tawarkan Saham IPO Rp230-Rp385 Per Saham
Miliki Aset di Lahan Waduk Pluit, Jokowi Tindak Tegas Jakpro
Daya Tarik Investasi RI Tetap Tinggi
Tol Sumatera akan Dongkrak Ekonomi Jambi
11:58pm | OJK Setujui Pengurahan Lot Sah...
setuju tu, mantap. investor ecek ecek(investor kali lima) kayak saya, jadi punya kesempatan beli saham bca, mandiri, dll