ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Energi Alternatif, Pilihan Masa Depan Indonesia
Oleh Uka Wikarya | Selasa, 8 Mei 2012 | 7:47

Ibu-ibu mencoba menuangkan minyak goreng bekas ke dalam kompor jelantah saat diuji coba, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/GAGARIN Ibu-ibu mencoba menuangkan minyak goreng bekas ke dalam kompor jelantah saat diuji coba, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/GAGARIN

Mengubah tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) bukan hal mudah, tapi itu harus dilakukan. Sejauh ini energi bauran masih jauh dari memuaskan. BBM masih menjadi bahan bakar utama di negeri ini, mencapai 50% lebih dari total pasokan energi nasional. Sementara itu, peran sumber energi lainnya masih sangat kecil.

Gas alam, misalnya, hanya me-masok sekitar 28% dari total bauran energi, sement ara batubara berada di angka 15%. Sumber-sumber energi alternatif non-fosil yang terbarukan malah hanya berperan di bawah 5%. Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan visi energi jangka panjang hingga 2025. Pada tahun itu, pemerintah berharap terjadi perubahan bauran energi di Indonesia, dengan tidak lagi menjadikan BBM sebagai bahan bakar utama. Pada tahun itu, peran BBM tinggal 20%, gas alam dan batubara 30%, sementara energi terbarukan, yaitu panas bumi dan biofuel berkontribusi sekitar 17%.

Biofuel dan Gas Alam
Ada cukup alasan untuk menyampaikan visi tersebut. Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang begitu besar. Dari sekian banyak potensi yang kita miliki, biofuel dan panas bumi merupakan dua sumber energi terbarukan yang paling potensial untuk dikembangkan. Ada beberapa alasan mengapa biofuel layak diperhitungkan.

Pertama, biofuel adalah bahan bakar ramah lingkungan. Kedua, ketersediaannya cukup berlimpah, dan ketiga, pengusahaan biofuel bersifat padat karya, sehingga industri ini dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi para petani di seluruh Tanah Air. Alasan lainnya adalah harga biofuel lebih stabil dan dapat lebih murah. Namun demikian pengusahaan biofuel di dalam negeri, saat ini, dianggap belum ekonomis.  Itulah makanya para investor belum termotivasi mengembangkan biofuel, karena harga keekonomiannya lebih tinggi daripada harga BBM bersubsidi.

Selain biofuel, energi gas alam sangat prospektif. Gas alam memiliki beberapa keuntungan, di antaranya ramah lingkungan, harga lebih murah, dan cadangan gas bumi yang cukup banyak. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan Indonesia memiliki cadangan gas alam sebesar 150 TFC, yang akan bertahan setidaknya selama 60 tahun lagi.

Hanya saja penggunaan bahan bakar gas (BBG) bagi kendaraan bermotor saat ini kurang layak secara finansial bagi para penggunanya. Memang harga BBG saat ini lebih murah, tapi selisihnya terlampau kecil dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi, sehingga selisih harga belum mampu menutupi biaya-biaya untuk pengadaan dan pemasangan converter kit, instalasi, dan tabung gas BBG. Jadi, pemberian subsidi BBM yang berlebihan pun ternyata tidak mendorong adanya migrasi penggunaan BBM ke BBG, atau tidak mendorong ke penggunaan energi alternatif.

Namun, kalau kita menengok ke belakang, hal yang sama juga terjadi saat pemerintah dan Pertamina mengonversi minyak tanah ke gas elpiji. Pada awalnya ide tersebut ditertawakan oleh berbagai pihak, apalagi menyusul maraknya tabung elpiji yang meledak. Pelan namun pasti, proses konversi minyak tanah semakin menunjukkan sinyal positif. Kita bisa melihat kalau konversi minyak tanah ini menjadi sebuah kesuksesan yang tidak terbantahkan.

Data yang dikeluarkan oleh Pertamina menyebutkan, lebih dari 50 juta tabung elpiji telah disalurkan ke seluruh masyarakat Indonesia di berbagai wilayah, mulai dari Sabang sampai Merauke. Tingkat konsumsi elpiji juga melonjak sangat berarti, dari hanya 1,1 juta ton pada 2007 menjadi lebih dari 4,7 juta ton pada 2011. Keberhasilan pemerintah dan Pertamina dalam konversi minyak tanah ke elpiji ini mendapat pengakuan dari negara-negara lain. Pada forum liquefied petroleum gas (LPG) internasional yang diadakan di Doha, Qatar, Oktober tahun lalu, negaranegara berkembang lainnya sangat berhasrat menjadikan program konversi minyak tanah di Indonesia sebagai model percontohan.

Iklim Bisnis yang Sehat
Kita sebenarnya tidak perlu khawatir terhadap ancaman krisis energi asalkan kita setuju untuk mulai bergerak dari sekarang. Selain gas bumi, Indonesia kaya akan potensi energi lainnya, seperti energi panas bumi. Berdasarkan data pemerintah, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia. Panas bumi merupakan bahan bakar yang potensial untuk digunakan di pusat pembangkit listrik. Dibandingkan dengan BBM, panas bumi dapat menghasilkan listrik dengan biaya yang bisa lebih murah.

Pertamina sudah membangun beberapa pusat pengembangan panas bumi, salah satunya yang terletak di daerah Kamojang, Garut. Saat ini, Pertamina mampu menghasilkan 1.194 MW dan akan melonjak menjadi 1.889 MW pada 2014, menjadikan Indonesia sebagai penghasil energi panas bumi terbesar di dunia. Permasalahan kesepakatan harga jual listrik dari pembangkit listrik panas bumi dengan pemerintah yang sering muncul saat ini seyogianya dapat diselesaikan dengan sebaikbaiknya demi pengembangan energi alternatif.

Memang ada beberapa masalah yang selama ini menghambat laju perkembangan energi alternative di Tanah Air, antara lain ketersediaan infrastruktur, pendanaan, pola pikir masyarakat dan koordinasi antara lembaga terkait. Menyelesaikan keempat masalah tersebut tidaklah mudah. Ini membutuhkan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan segenap masyarakat luas.

Langkah pertama yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah menciptakan iklim bisnis yang sehat dan menjanjikan untuk para calon investor. Untuk mempercepat pengembangan energi alternatif, mau tidak mau kita harus bekerja sama dengan negara lain karena mereka memiliki dana serta teknologi yang dibutuhkan.

Selama ini para investor dari negara lain bukannya tidak mau berinvestasi di Indonesia, sudah begitu banyak investor asing yang menyatakan ketertarikan mereka untuk menanamkan modal di sini. Masalah-masalah klasik yang selama ini menghambat perkembangan dunia usaha belum juga dapat dibenahi. Melihat adanya bahaya apabila kita terlalu bergantung dengan BBM, tampaknya kita semua harus bersatu mewujudkan energi alternatif untuk masa depan Indonesia.

Penulis adalah pengamat ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!