ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Desain Perluasan Bandara Ngurah Rai Sesuai Arsitektur Bali
Selasa, 17 Januari 2012 | 14:42

DENPASAR - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menilai, desain pembangunan perluasan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Kelurahan Tuban, Kabupaten Badung, Bali, sudah sesuai dengan arsitektur daerah setempat.

"Dulu, waktu desain awal memang beberapa modelnya saya tidak setuju, tower-nya itu semula dirancang seperti 'meru' (atap bangunan suci Hindu yang bertingkat). Saya protes, itu tidak boleh karena 'meru' merupakan bangunan suci. Jangan berbentuk 'meru' dan mereka setuju," kata Gubernur Pastika usai mengikuti sidang paripurna di DPRD Bali, Selasa.

Menurut Pastika, beberapa ketentuan lainnya mengenai bentuk (perwajahan) Bandara Ngurah Rai agar menyesuaikan dengan arsitektur Bali juga telah ditepati oleh pihak pelaksana proyek perluasan bandara.

"Beberapa tahun lalu, saya juga sudah minta mereka supaya sisi luar bangunan ada ciri khas Bali. Maksudnya agar ada kelihatan unsur Bali walaupun bandara itu bersifat fungsional. Di samping harus tetap menyesuaikan dengan alam sekitar, teknik, dan teknologi penerbangan yang jangan sampai keliru," ucapnya.

Termasuk teknik lampu kalau malam, lanjut dia, harus diperhitungkan karena tidak sama membuat sebuah bangunan bandara dengan bangunan gedung biasa.

"Oleh karena awalnya masih banyak sisi desain pembangunan perluasan bandara yang belum menyesuaikan dengan arsitektur Bali, makanya sempat mundur dan mereka mendesain ulang dengan melibatkan unsur arsitek daerah agar sesuai dengan bentuk tradisional dan arsitektur Bali," katanya.

Bahkan, dirinya waktu ditunjukkan desain awal beberapa tahun lalu juga sempat tidak setuju dengan luasnya area komersial di kawasan bandara. "Saya katakan, jika area komersial luas, itu berarti akan menyaingi pasar seni. Jadi orang malas ke pasar rakyat dan lebih membeli di bandara," ucapnya.

Ia menegaskan, terhadap berbagai kritik yang sempat disampaikannya, semua sudah ditepati oleh pihak pembangunan proyek. Termasuk mereka telah bekerja sama dengan arsitek daerah. Bahkan hingga mereka menambah biaya sebesar Rp25 miliar untuk perubahan itu karena berubah desain dan pertambahan arsitektur Bali "Itupun sudah pernah dipaparkan di Pemkab Badung, di depan para ahli, dan DPRD Bali. Jadi, saya kira tidak ada masalah," ujarnya.

Beberapa hari terakhir, sejumlah anggota DPRD Bali seperti Disel Astawa dan Ida Bagus Pada Kusuma sempat mengajukan kritikan terhadap desain pembangunan perluasan bandara yang dinilai mengabaikan ciri khas Bali. (tk/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!