ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

JIKA DJAKARTA LLOYD DILIKUIDASI

Dahlan Janjikan Syahril Japarin Posisi Baru
Rabu, 18 April 2012 | 13:16

Menteri BUMN Dahlan Iskan mencoba kamera milik sebuah stasiun televisi swasta nasional yang merekam keterangan pers dari sejumlah LSM penggiat antikorupsi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 25 Januari 2012.  Foto: Investor Daily/ ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pras/12 Menteri BUMN Dahlan Iskan mencoba kamera milik sebuah stasiun televisi swasta nasional yang merekam keterangan pers dari sejumlah LSM penggiat antikorupsi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 25 Januari 2012. Foto: Investor Daily/ ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pras/12

JAKARTA - Menteri BUMN Dahlan Iskan berjanji menempatkan Direktur Utama Djakarta Lloyd Syahril Japarin di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain, bila perusahaan pelayaran pelat merah ini resmi dilikuidasi.

"Direktur Utama Djakarta Lloyd ini masih muda dan saya akan berikan tempat yang baik bagi dia," kata Dahlan pada acara BUMN Breakfast Meeting di kantor pusat Antam Persero, Jakarta, Rabu.

Dahlan menilai sosok Syahril adalah seorang direksi pejuang yang rela memperjuangkan perusahaannya agar 'hidup' kembali. Terlebih, Syaril berkenan diangkat menjadi Direktur Utama Djakarta Lloyd di tengah carut marut perusahaan.

"Dia berjuang mati-matian untuk membangun Djakarta Lloyd dalam ketidakberdayaannya," tuturnya.

Dahlan mengakui Djakarta Lloyd seharusnya dapat diselamatkan, namun penyelamatannya cukup memakan waktu. Contohnya, pemerintah mampu membelikan kapal untuk Djakarta Lloyd, namun disita oleh pihak lain dan seterusnya.

"Makanya, sampai kapanpun kalau kita beli kapal dan terus disita, ya susah begini caranya," tambahnya.

Djakarta Lloyd memiliki utang melalui SLA Rp2,2 triliun, kreditor Rp1,2 triliun, utang PT Bank Mandiri Persero yang terdiri atas utang US$4,2 juta dan bunga US$2,3 juta. Perusahaan itu mengalami kesulitan likuiditas dan tidak mampu membayar kewajiban, termasuk gaji karyawan.

Perusahaan itu mengalami kerugian sejak 2006 dengan akumulasi kerugian sampai dengan 2010 diperkirakan sebesar Rp1,1 triliun. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!