ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Bukit Langkisau Kawasan Wisata Olahraga Dirgantara
Rabu, 27 Maret 2013 | 9:40

Raja Udara Asia Tenggara, peraih empat medali emas dan dua perak
SEA Games XXVI/2011, Thomas Widyananto, dengan pesawat Paramotor, di
atas kawasan Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Maret 2013. (Foto:
Thomas Widyananto) Raja Udara Asia Tenggara, peraih empat medali emas dan dua perak SEA Games XXVI/2011, Thomas Widyananto, dengan pesawat Paramotor, di atas kawasan Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Maret 2013. (Foto: Thomas Widyananto)

JAKARTA-Dipilihnya Desa Salido Bukit Langkisau, Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat sebagai lokasi Kejuaraan Dunia Ketepatan Mendarat menurut Barry Rozano, SH, Ketua Jatarupa, karena keinginan memperkenalkan lokasi terbang baru yang menantang untuk para atlit nasional dan dunia.

Selain alamnya yang indah, lokasinya sangat menguji kemampuan para penerbang. Berjarak tempuh 3 jam dengan mobil dari Padang, ibukota propinsi Sumatera Barat, para atlit akan lepas landas dengan meloncat dari bukit berketinggian 196 meter di atas permukaan tanah.

Lokasi pendaratan adalah dipantai, yang berjarak 600 meter garis lurus dari tempat take off. Sejajar dengan pantai terdapat sungai, sehingga para pilot tak boleh lengah jelang pendaratan.

Federasi Aeronautika Internasional (FAI), induk olahraga dirgantara dunia, juga sudah mengakuinya sebagai Kejuaraan Kategori 2 pada kalender kegiatan resminya tahun ini. Kategori 2 adalah kejuaraan yang diselenggarakan sebuah perkumpulan. Sedangkan Kategori 1 adalah kegiatan yang di gelar sebuah negara.

Ini merupakan keempat kalinya Indonesia menjadi tuan rumah salah satu Seri Dunia setelah di Batu, Malang, Jawa Timur pada 2011 dan kawasan pegunungan Puncak, Jawa Barat pada 2010 dan tahun lalu. Sudah sekitar 20 penerbang handal dunia asal Kroasia, Serbia, Slovenia, Bosnia Herzegovina, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Thailand, Vietnam dan China, serta 10 atlit nasional yang mendaftarkan diri.

Menurut Drs. Tagor Siagian, M.Si, Humas Panitia Pelaksana Seri I PGAWC Painan dalam siaran persnya, sekitar 100 atlit yang memenuhi persyaratan tingkat kemampuan terbang dunia, asal 20 negara diharapkan ikut. Acara berlangsung pada 26-28 April 2013.

sementara itu dalam surat elektroniknya pada pengurus Klab Jatarupa, Ketua Umum PGAWC dan FAI melihat minat besar terhadap olahraga Paralayang di Indonesia dan lokasi-lokasi sangat indah dan menantang untuk terbang, menjadi alasan diterimanya penawaran menjadi tuan rumah salah satu dari tujuh seri Piala Dunia tahun ini.

Namun itu juga bukti bahwa prestasi para penerbang Merah Putih sejak lima tahun silam, tidak dianggap remeh para petinggi olahraga Paralayang dunia.  Para penerbang puteri Indonesia berhasil menjadi Juara I Seri PGAWC selama tiga tahun berturutan setelah Ifa Kurniawati (2010), Milawati Sirin (2011) dan Lis Andriana tahun lalu. 

Sejak mengikuti ajang multicabang, para atlit Paralayang Indonesia juga selalu mencatat prestasi maksimal; merebut Juara Umum Asian Beach Games I di Bali pada 2008, lalu Juara Umum SEA Games XXVI/2011 dengan merebut 10 dari 12 buah medali emas yang diperebutkan. (*/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




7:25pm | Trafik Telkomsel Naik Saat Pem...
ya saya sangat setuju bahwa media sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat saat ini. dengan adanya media seperti fasilitas internet yang dapat diakses salah satunya oleh provider telkomsel memudahkan masyarakat untuk mendapatkan ...

3:30am | KPK Tetapkan Ketua BPK Sebagai...
Ayo dukung perjuangan kami, korban investasi PT. Exist Assetindo di www.facebook.com/korban.exist

Close