ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 24 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

BPS: Impor November Tertinggi dalam Sejarah
Senin, 3 Januari 2011 | 15:14

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai total impor selama November 2010 yang mencapai 13,07 miliar dolar Amerika Serikat (AS), tertinggi sepanjang sejarah impor Indonesia. Namun, kondisi ini dinilai bukan sebagai ancaman ekspor karena konten impor kebanyakan terdiri atas bahan baku dan barang modal.

"Ini rekor baru dalam impor kita. Ini juga yang tertinggi sepanjang sejarah impor. Rekor sebelumnya terjadi pada Juli 2010 dengan nilai 12,6 miliar dolar AS," kata Kepala BPS Rusman Heriawan saat menyampaikan berita resmi statistik di kantor BPS Jakarta, Senin.

Nilai impor Indonesia selama November 2010, menurut dia, naik 7,85 persen dibanding nilai impor bulan sebelumnya dan naik 48,29 persen dibanding nilai impor November 2009.

Pada November 2010, impor nonmigas tercatat naik 3,99 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi 10,12 miliar dolar AS, sedangkan impor migas tercatat naik 23,60 persen menjadi 2,95 miliar dolar AS.

"Nilai impor nonmigas terbesar selama November berasal dari golongan barang mesin dan peralatan mekanik yang sebesar 1,88 miliar dolar AS," kata Rusman seperti dikutip Antara.

Dalam kurun Januari-November 2010, menurut data BPS, nilai total impor Indonesia mencapai 122,58 miliar dolar AS atau naik 41,66 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam kurun waktu itu, nilai impor nonmigas tercatat mencapai 97,81 miliar dolar AS dan impor migas nilainya sebanyak 24,77 miliar dolar AS.

Lebih lanjut Rusman menjelaskan, peningkatan impor pada November 2010 maupun selama Januari- November 2010 lebih tinggi dari peningkatan ekspornya.

"Namun, ini jangan dianggap sebagai ancaman ekspor karena konten impor kebanyakan terdiri atas bahan baku dan barang modal," katanya.

Peningkatan impor bahan baku dan barang modal, menurut dia, merupakan indikasi peningkatan kinerja industri yang selanjutnya akan menopang pertumbuhan ekonomi.

Menurut data BPS, selama Januari-November 2010 kenaikan nilai impor bahan baku dan penolong sebesar 43 persen serta impor barang modal 35,20 persen dibanding periode yang sama tahun 2009.

Dalam hal ini impor barang nonmigas paling banyak meliputi mesin dan peralatan mesin (18,61 persen), mesin dan peralatan listrik (14,48 persen), besi dan baja (5,86 persen), kendaraan bermotor dan bagiannya 5,37 persen dan bahan kimia organik (4,92 persen).

Negara pemasok barang impor terbesar selama Januari-November 2010, menurut data BPS, terdiri atas China dengan pangsa 18,09 persen, Jepang dengan pangsa 15,70 persen, dan Singapura dengan pangsa 9,37 persen.

"Pangsa impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,09 persen dan 27 negara Uni Eropa sebesar 9,08 persen," kata Rusman. (tk)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close