ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 21 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

BPJS dan Urgensi Smart Healthcare
Oleh Totok Siswantara | Sabtu, 13 Juli 2013 | 9:14

Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Elvyn G Masassya didampingi Kabiro Humas Jamsostek Kuswahyudi memberi keterangan pers di sela seminar nasional PT Jamsostek Menuju Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kelas Dunia di Jakarta, Senin (13/5). Seminar tersebut merupakan persiapan transformasi BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan untuk merealisasikan jaminan social nasional bagi kesejahteraan rakyat. Foto: Investor Daily/GAGARIN Direktur Utama PT Jamsostek (Persero) Elvyn G Masassya didampingi Kabiro Humas Jamsostek Kuswahyudi memberi keterangan pers di sela seminar nasional PT Jamsostek Menuju Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kelas Dunia di Jakarta, Senin (13/5). Seminar tersebut merupakan persiapan transformasi BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan untuk merealisasikan jaminan social nasional bagi kesejahteraan rakyat. Foto: Investor Daily/GAGARIN

Pemberian jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ( BPJS ) yang dimulai tahun depan sebaiknya diantisipasi secara detail dengan berbagai simulasi di lapangan. Hal itu untuk mencegah terjadinya kekacauan pada awal program diberlakukan.

Selain belum memadainya jumlah iuran yang diputuskan oleh pemerintah, yakni sebesar Rp 19.225 per bulan untuk 86,4 juta peserta, kinerja BPJS Kesehatan juga dibayang-bayangi oleh masalah laten yakni adanya inekuitas atau maldistribution sistem kesehatan, mencakup keadilan dalam pembiayaan, kualitas dan ketanggapan pelayanan kesehatan  Akibat masalah laten tersebut, indeks dalam pencapaian tujuan system kesehatan untuk Indonesia belum menggembirakan karena berada di peringkat bawah di antara negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kunci penting untuk persiapan BPJS kesehatan agar kinerjanya bisa lancar adalah penerapan teknologi yang tepat di bidang kesehatan. Dengan demikian tingkat pencapaian outcome, input, dan efisiensi sistem kesehatan di seluruh Indonesia bisa berhasil dengan baik. Tak bisa dimungkiri lagi bahwa hingga kini masih banyak terjadi inekuitas tingkat pencapaian tujuan sistem kesehatan, terutama dalam aspek pembiayaan, baik di provinsi maupun di kabupaten/ kota.

TIK Bidang Kesehatan
Perkembangan konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengakselerasi kemajuan bidang kesehatan secara fantastis. Tata kelola kesehatan warga dunia sedang menuju smart healthcare, yaitu suatu sistem informasi kesehatan yang saling terkait dan dilengkapi berbagai aplikasi dan instrumen yang andal. Semuanya ini mengarah pada efektivitas, efisiensi, dan memacu inovasi. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa TIK berperan besar dalam meningkatkan layanan kesehatan warga dunia.

Penggunaan TIK dalam bidang kesehatan semakin meluas dan mudah diterapkan. Apalagi Google telah menyediakan layanan medical record service. Begitu juga dengan IBM yang memberikan inisiatif kepada kepada dunia lewat program smarter planet yang salah satu inisiatifnya adalah masalah kesehatan. Fakta menunjukkan, selama ini sistem manajemen rumah sakit (RS) di Indonesia sarat masalah, juga sarat dengan modus korupsi dan manipulasi data biaya perawatan.

Selama ini sistem yang dipakai dalam pembiayaan kesehatan pasien di sarana pelayanan kesehatan adalah dengan sistem fee for service (FFS) dimana pihak provider layanan kesehatan menarik biaya pada pasien untuk tiap jenis pelayanan yang diberikan. Setiap pemeriksaan dan tindakan akan dikenakan biaya sesuai dengan tarif yang ada di RS. Tarif ditentukan setelah pelayanan dilakukan. Sistem fee for service menimbulkan modus korupsi dan penyelewengan oleh pihak rumah sakit dalam jumlah yang besar. Karena tidak ada ketentuan sejak awal antara pihak rumah sakit dengan pasien. Juga tidak ada standar biaya maupun durasi perawatan atau length of stay.

Karena itu pentingnya menggunakan standar Indonesia Case Base Groups (INA CBG’s ), yaitu standar perhitungan biaya berbasis pada kelompok diagnosis penyakit yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Pada prinsipnya hal itu seperti paket biaya, dimana setiap penanganan pasien menggunakan prinsip kendali mutu dan biaya lewat system informasi terpadu. Selama ini pihak manajemen RS cenderung meninggikan harga pelayanan secara tidak wajar. Kondisi itulah yang harus dirubah melalui ketentuan BPJS kesehatan, sehingga biaya pelayanan kesehatan menjadi lebih rasional.

Pada 2014, seluruh rakyat Indonesia sudah ditargetkan mendapatkan jaminan kesehatan atau yang dikenal dengan istilah universal coverage. Untuk itu, dibutuhkan dukungan sistem, infrastruktur serta sumber daya manusia (SDM) yang andal agar program jaminan kesehatan tersebut dapat berjalan secara efektif. Sistem pembayaran prospektif RS perlu diterapkan dengan dukungan tekonologi informasi yang tepat. Dengan demikian mekanisme pembayaran prospektif di RS bisa lancar, bebas korupsi, dan mudah dikontrol.

Sistem Informasi Terpadu
Ada dua sistem pembayaran prospektif yang berbasis teknologi informasi terpadu. Pertama, system diagnostic related group (DRG). Definisi DRG secara sederhana adalah mekanisme pembayaran dengan biaya satuan per diagnosis. Bukan biaya satuan per pelayanan medis maupun non medis yang diberikan kepada seorang pasien.

Dalam pembayaran DRG, pihak RS maupun pihak pembayar tidak lagi merinci pelayanan apa saja yang telah diberikan kepada seorang pasien. Rumah sakit hanya menyampaikan diagnois pasien waktu pulang dan memasukan kode DRG untuk diagnosis tersebut dalam sistem informasi terpadu. Tentunya besarnya tagihan untuk diagnosis tersebut telah disepakati oleh seluruh rumah sakit dan pihak BPJS atau badan asuransi dengan tariff yang telah ditetapkan.

Kedua adalah sistem casemix Ina-CBG’s yaitu suatu sistem informasi pengklasifikasian dari tahapan perawatan pasien yang dirancang untuk menciptakan kelaskelas yang relatif homogen dalam hal sumber daya yang digunakan dan berisikan pasien-pasien dengan karakteristik klinik yang sejenis. Cara pembayaran perawatan pasien berdasarkan diagnosis atau kasus-kasus yang relative sama. Pihak RS akan mendapatkan pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang dihabiskan untuk suatu kelompok diagnosis.

Setiap pasien yang dirawat di sebuah RS diklasifikasikan ke dalam kelompok yang sejenis dengan gejala klinis yang sama serta biaya perawatan yang relatif sama. Kedua sistem di atas sangat tergantung kepada infrastruktur TIK sehingga diperlukan audit system informasi secara baik agar modus korupsi tidak bergeser dari yang manual menjadi modus elektronik atau digital.

Masyarakat berharapan agar sistem kesehatan di negeri ini bisa lebih adaptif dengan kemajuan dunia di bidang riset dan teknologi kesehatan. Riset tentang sistem kesehatan juga sangat penting untuk menunjang industri alat kesehatan. Apalagi pada saat ini kondisi industri alat kesehatan di Indonesia tengah berusaha meningkatkan produksi dan penjualan seiring melonjaknya pesanan dari berbagai lembaga dan masyarakat.

Industri alat kesehatan akan terus berkembang seiring dengan pentingnya program digitalisasi rekam medis yang merupakan aspek vital bagi kesehatan seluruh warga negara. Implikasinya rumah sakit dan klinik kesehatan semuanya akan terhubung dalam sistem informasi terpadu, sehingga masing-masing warga bisa melihat data rekam medisnya secara elektronis. Masalah itu sangat penting mengingat data telah menunjukan banyaknya kesalahan perawatan yang menimpa warga. Data menunjukkan di Amerika Serikat sekitar seratus ribu pasien tercatat meninggal setiap tahun karena medical error atau kesalahan perawatan. Itu terjadi dalam pelayanan kesehatan karena tidak akuratnya rekam medis terhadap diri pasien.

Totok Siswantara, pengkaji transformasi teknologi dan infrastruktur


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close