ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

BI: Nilai Kredit Tumbuh 25% Terlalu Cepat
Jumat, 24 Agustus 2012 | 17:17

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan kredit yang diperkirakan mencapai 25 persen pada akhir tahun ini terlalu cepat sehingga dapat berpotensi memanas (overheating). Sebab itu, BI berupaya mengembalikan pertumbuhan kredit ke level 20 hingga 24 persen seperti tiga tahun belakangan.

Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, menilai pertumbuhan kredit harus disesuaikan dengan kondisi fundamental perekonomian yang saat ini tengah melambat.

“Pertumbuhan kredit yang terlalu cepat bisa mengganggu stabilitas perekonomian. Kredit 25 persen itu sedikit di atas tren jangka panjang. Kalau kita bandingkan pergerakan selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan 25 persen itu cenderung lebih tinggi,” ujar Halim, ketika ditemui di kompleks perkantoran BI di Jakarta, hari ini.

Untuk mengembalikan ke trennya, sebagai contoh 3-4 tahun terakhir, hanya di sekitar 20-24 persen. Hingga akhir Juni 2012, pertumbuhan kredit secara year on year (yoy) telah mencapai 25,8 persen atau hampir mencapai 26 persen atau melampaui tren tahunan di kisaran 20-24 persen.

BI mencatat, pertumbuhan kredit selama tahun 2011 sebesar 24,5persen pada 2010 sebesar 22,8 persen, dan 2009 hanya 10 persen akibat dampak krisis finansial global pada 2008. Menurut Halim, pada akhir tahun, pertumbuhan kredit akan berada di sekitar sesuai revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang dilakukan pada pertengahan tahun menjadi 25 persen.

“Kalau perbankan menargetkan kredit sesuai RBB sebesar 25 persen, tentunya pada akhir tahun akan di sekitar itu. Namun, ini bisa turun sedikit karena aturan rasio kredit terhadap agunan (loan to value/LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB),” ungkap Halim.

Selain kebijakan seperti LTV, sejumlah kenaikan harga di beberapa barang dan jasa dinilainya bisa mengurangi pertumbuhan kredit perbankan. (ID/grace dwitiya)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close