ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 23 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

BI: Investor Asing Masih Terus Tarik Dana
Selasa, 29 November 2011 | 16:23

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat dalam satu bulan terakhir investor asing masih melakukan penarikan dana atas investasinya di instrumen portofolio di Indonesia seperti di Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

"Tekanan terhadap pasar keuangan dari krisis ekonomi Eropa terus berlanjut dan berdampak ke semua negara termasuk Indonesia, dan itu mempengaruhi nilai tukar rupiah, karena beberapa investor asing mereposisi portofolio dengan menjual investasinya di Indonesia," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Moneter BI Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa.

Dijelaskan Perry, nilai investasi asing di SBN pada 25 November sebesar Rp219,4 triliun atau turun sekitar Rp400 miliar dibanding posisi 31 Oktober sebesar Rp219, 8 triliun. Sementara pada SBI turun dari Rp30,9 triliun pada 31 Oktober menjadi Rp21,9 triliun pada 25 Nopember.

“Penarikan dana asing itu disebabkan perkembangan krisis ekonomi di Eropa yang belum ada kepastian penyelesaiannya, dan bahkan cenderung memburuk dengan penurunan rating utang beberapa negara seperti Spanyol, Portugis, Belgia dan Hungaria,” katanya.

Keluarnya investor asing itu, lanjutnya juga berpengaruh pada pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp9.000 per dolar AS, meski nilai pelemahannya, belum terlalu buruk dibanding negara-negara di kawasan.

Sejak 31 Agustus sampai 25 November, Rupiah melemah 5,8% atau lebih baik dari Ringgit Malaysia yang terdepresiasi 6,7%, dan Won Korea 8,2%. Namun, lebih buruk dibanding Bath Thailand dan Peso Filipina yang hanya melemah masing-masing 4,2% dan 3,2%.

Dengan tekanan di pasar keuangan ini, Perry menyatakan BI berkomitmen untuk terus berada di pasar uang dan pasar obligasi Pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah, dengan melakukan intervensi menjual valas dan membeli SBN di pasar sekunder. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close