BEI: Perusahaan Pelayaran dan Perkebunan akan IPO
Kamis, 5 Juli 2012 | 16:15
Sejumlah pelaku pasar modal bertemu saat peluncuran indeks baru di lantai Bursa Efek Indonesia, baru-baru ini. Foto: Dok Investor Daily JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan perusahaan pelayaran dan perkebunan merencanakan untuk melepas sahamnya ke publik melalui mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).
"Ada dua perusahaan yang akan melaksanakan IPO, perusahaan itu dari sektor pelayaran dan perkebunan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, nilai emisi dari penawaran umum saham perdana itu masing-masing diperkirakan mencapai Rp500 miliar hingga Rp1 triliun. "Dari mini expose, sepertinya mereka bisa IPO antara Juli-September ini. Mereka menggunakan laporan keuangan Maret 2012," kata dia.
Hoesen menambahkan, sejauh ini BEI belum merevisi target jumlah emiten sebanyak 25 perusahaan yang akan melaksanakan IPO di 2012.
Sepanjang tahun ini tercatat tujuh perusahaan telah mencatatkan sahamnya, yakni PT Mina Padi Investama (PADI), PT Tiphone Mobile Indonesia (TELE), PT Surya Esa Perkasa (ESSA). Kemudian, PT Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST), dan PT Supra Boga Lestari (RANC), PT Trisula International Tbk (TRIS), dan PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX).
Sementara calon emiten BEI yang akan mencatatkan sahamnya sebanyak enam perusahaan, yakni Toba Bara Sejahtera direncanakan pada Jumat (6/7), MNC Sky Vision (9/7), Global Teleshop (10/7), Tri Banyan Tirta (10/7), Gading Development (11/7), dan Bank Jatim (12/7).
"Jika terealisasi pencatatan saham perusahaan itu ,maka ada 13 emiten. Artinya, satu semester ini setengah dari target Bursa sudah terlewati," ujar Hoesen. (gor/ant)
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kenaikan Harga BBM Membuat Ekonomi Stabil
Multipolar Technology akan Lepas 20% Saham
Penjualan Aset Tak Terkait Pilpres
Mendag: EKonomi Indonesia Terbesar ke-15 di Dunia
Indonesian Bimmers Gelar Gathering di Buperta Cibubur
BBM Naik, Negara Berpotensi Menghemat Rp 40-50 Triliun
Perbankan Jangan Buru-Buru Naikkan Bunga Kredit