ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Basrizal Koto, Berkah dari Kebiasaan Bangun Pagi
Oleh Ely Rahmawati | Jumat, 21 Oktober 2011 | 13:27

Dalam bisnis properti, sosok Basrizal Koto mulai dikenal publik lewat proyek Minang Plaza, Basko Hotel, dan superblok Green City. Semuanya merupakan proyek terbesar di Sumatera. Sebelum menjadi saudagar, Basrizal Koto bergelut dengan kemiskinan. Kesuksesannya diraih berkat kebiasaan bangun pagi.

“Untuk memulai usaha, sebaiknya laksanakan sebelum matahari terbit. Tidak ada saudagar atau pedagang yang sukses jika memulai dagangannya pada siang hari. Memang tidak semua usaha atau jasa bisa dilakukan di pagi buta, namun bisa direncanakan sejak pagi. Setelah itu, berdoalah kepada Allah SWT agar usaha kita mudah dan mendapat keuntungan,” papar pria yang akrab disapa Basko itu kepada Investor Daily, belum lama ini.

Basko menuturkan, kebiasaan bangun pagi masih memberinya berkah hingga sekarang, di kala dirinya sudah sukses dan memiliki banyak perusahaan. “Setiap pagi, saya rutin menelepon direktur-direktur saya. Dari percakapan tersebut, timbullah ide untuk kemajuan perusahaan,” ujar pria asal Minang tersebut.

Saat ini, Basko Group memiliki sejumlah usaha antara lain, peternakan sapi seluas 300 hektare di Pekanbaru, Riau, jaringan media cetak Haluan di setiap wilayah Sumatera dan Batam, perusahaan karoseri mobil, percetakan, properti, dan perhotelan. Setelah merajai Sumatera dan sekitarnya, Basko Group berniat merambah Jakarta melalui proyek perkantoran TB Simatupang.

Kesuksesan Basko menjadi saudagar juga tidak lepas dari kerja kerasnya. Berasal dari keluarga miskin di kampung Limau Puruik, Padang, Sumatera Barat, Basko harus putus sekolah sejak kelas lima Sekolah Dasar (SD) dan merantau ke Pekanbaru. “Bagi saya, kemiskinan itu untuk dilawan, bukan dinikmati,” tegas dia.

Nasihat Amak

Pada usia 12 tahun, Basko merantau dengan tekad memperbaiki ekonomi keluarga. Dia mulai bekerja sebagai kenek oplet, penjahit, hingga makelar mobil. “Dalam menghadapi suka duka, saya selalu mengingat nasihat amak (ibu, dalam bahasa Minang), untuk bisa membawa diri dan tidak cengeng,” ujar ayah dari 10 anak itu.

Kini, setelah sukses, Basko juga selalu mengikuti segala nasihat dari amak. Menurutnya kekayaan yang melimpah dan kesuksesan menjadi saudagar tidak ada artinya bila tidak hormat pada orangtua.

Setelah menjadi saudagar, Basko pun memiliki hobi baru yakni main golf. Permainan golf kerap menjadi ajang pertemuan antarpengusaha, rekan bisnis, hingga para pejabat. “Saya bermain golf hampir setiap hari. Dari sinilah, kami banyak membicarakan kemajuan usaha hingga proyek terbaru dari sejumlah tokoh penting,” ucap Basko. (*)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!