ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Bakrie Swasakti Targetkan Penjualan Rp1,4 Triliun
Rabu, 18 April 2012 | 17:01

JAKARTA- PT Bakrieland Development Tbk, melalui anak usahanya PT Bakrie Swasakti Utama, menargetkan penjualan properti sebesar Rp1,4 triliun hingga akhir tahun 2012.

"Target kami untuk penjualan properti tahun ini sebesar itu atau melebihi realisasi 2011 sebesar Rp1,2 triliun," kata Chief Marketing Officer Bakrie Swasakti Utama, Andre Rizki Makalam usai jumpa pers "topping off" The Empriyal di Jakarta, Selasa (18/4).

Dia mengatakan, untuk saat ini perusahaannya masih memfokuskan pemasaran penjualan pada kawasan superblock di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ia yakin kawasan yang termasuk dalam kawasan bisnis utama (central business district/CBD) di Jakarta ini masih diminati oleh pasar properti karena berada di wilayah strategis.

Dia menyebut, pada kuartal pertama tahun ini penjualan properti secara keseluruhan telah mencapai Rp180 miliar.

Pendapatan tersebut, katanya, didukung dengan penjualan kondotel The Grove Empyreal dan apartemen The Wafe yang berada di kawasan suberblock Rasuna Epicentrum.

Keduanya, lanjut Andre, telah menyumbang 70 persen penjualan properti pada tiga bulan pertama tahun ini.

"Dengan kata lain, target pendapatan kami pada tahun ini akan meningkat 20-30 persen dibandingkan tahun lalu," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan menjual aset yaitu sekitar tiga hektar area di wilayah Kuningan.

Sebelumnya, kata Andre, perusahaannya telah menjual tiga hektar area lahan di kawasan superlock Rasuna Epicentrum yang dibeli oleh PT Trakindo Utama.

Lahan tersebut nantinya akan dibangun oleh kontraktor PT Treta Jaya sebagai kawasan residensial dan perkantoran.

Menurutnya, sebagai kawasan terintegasi terbesar di Jakarta yaitu dengan luas lahan mencapai 53,5 hektar area, pihaknya akan siap untuk turut mengandeng pengembang lain.

Andre mengungkapkan, sebelumnya PT Agung Podomoro Land Tbk sempat berancana untuk membeli lahan di kawasan tersebut. Namun karena belum disepakati dari segi pembiayaan, sehingga keduanya batal menjalani transaksi penjualan.

Andre menambahkan, tahun ini perusahaannya akan melakukan beberapa serah terima penjualan kepada pembelinya, antara lain pada Mei akan disiapkan untuk serah terima unit Coral, sedangkan Sand siap diserah terima pada Juni.

Kedua unit tersebut termasuk dalam apartemen The Wafe.

"Tahun ini kami menargetkan sebagai tahun delivery, pada awal Oktober akan ada 'handover' (serah terima) di apartemen Master Piece, sedangkan untuk The Grove Empyreal akan diserah terima pada awal September," katanya.

"Bubble" properti Disinggung tentang pangsa pasar kondominium khususnya di Jakarta yang diduga paling beresiko terkena dampak gelembung pasar properti (bubble), dia menilai, hal itu hanya akan terdapat pada apartemen di kawasan pinggiran Jakarta.

"Kita lihat dari marketnya, banyak pengembang yang membangun apartemen tanpa adanya fasilitas, sedangkan kita membangun superblock,? katanya.

Menurut dia, pangsa pasar market untuk superblock Rasuna Epicentrum sebagian besar yaitu 50-60 persen adalah ekspatriat yang bekerja di wilayah Kuningan.

Kawasan superblock yang dikelolanya memang berdekatan dengan kedutaan besar dari negara tetangga.

Hal itu, tambahnya, lebih menguntungkan, karena kawasan terpusat tersebut mempunyai fasilitas serba ada.

Sebelumnya, Lembaga riset dan konsultan properti, Cushman & Wakefield memperkirakan sektor kondominium paling beresiko untuk terkena market bubble dibandingkan sektor perumahan, perkantoran, dan kawasan perindustrian.

Head of Research & Advisory, Cushman & Wakefield, Arif Rahardjo, mengatakan sektor kondominium memiliki resiko terjadinya bubble dikarenakan tingkat pertumbuhan pembangunan lebih tinggi daripada permintaan.

Dia menyatakan pada 2012-2013 ketersediaan kondominium akan meningkat pesat, sedangkan untuk permintaan masih bergerak stagnan.

"Sampai akhir 2012 permintaan untuk sektor kondominium diperkirakan baru akan terserap sebesar 67 persen. Padahal suplainya tahun ini hingga 2013 akan meningkat pesat," kata Arif. (ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close