ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

SIMPOSIUM RUMPUT LAUT INTERNASIONAL DI BALI,

ARLI Menyayangkan Indonesia tak Banyak Siapkan Makalah
Senin, 15 April 2013 | 11:51

Petani mengangkut hasil panen rumput laut untuk dikeringkan di Perkampungan Nelayan Kelurahan Mansapa, Nunukan Selatan, Nunukan Kaltim, Sabtu (19/1). Dalam sebulan seorang petani mampu menghasilkan 1-3 ton rumput laut kering siap jual. Foto: Investor Daily/ ANTARA/M Rusman/Koz/nz/13. Petani mengangkut hasil panen rumput laut untuk dikeringkan di Perkampungan Nelayan Kelurahan Mansapa, Nunukan Selatan, Nunukan Kaltim, Sabtu (19/1). Dalam sebulan seorang petani mampu menghasilkan 1-3 ton rumput laut kering siap jual. Foto: Investor Daily/ ANTARA/M Rusman/Koz/nz/13.

JAKARTA- Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menyayangkan Indonesia tak banyak menyiapkan makalah dalam ajang "International Seaweed Symposium (ISS)" atau simposium mengenai komoditas rumput laut internasional di Bali, 21-26 April 2013.

"Perwakilan dari 50 negara rencananya hadir pada acara tersebut, namun sangat disayangkan makalah yang akan dipresentasikan masih kurang banyak dari Indonesia dibanding negara lain seperti Malaysia," kata Ketua ARLI Safari Azis dalam konferensi pers yang digelar di Menara Kadin, Jakarta, Senin, seperti dilansir Antara.

ISS merupakan pertemuan ilmiah dan bisnis yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan pertama kali diselenggarakan di Edinburg, Inggris, pada 1952.

Indonesia terpilih sebagai penyelenggara ISS ke-21 di Bali pada 2013 yang telah ditentukan pada pelaksanaan ISS ke-20 di Ensenada, Meksiko, pada tahun 2010.

"Terpilihnya Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut merupakan hasil suatu perjuangan yang panjang dan menjadi suatu kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk menunjukkan berbagai hasil yang telah dicapai sebagai produsen dan pengelola rumput laut," katanya.

Safari memaparkan bahwa acara ISS di Bali itu akan bertemakan "Seaweed Science for Sustainable Prosperity" yang menekankan pentingnya peran penelitian ilmiah dalam pengembangan budidaya dan pemanfaatan rumput laut.

Ia juga menuturkan acara tersebut terdiri atas berbagai program seperti pembahasan berbagai hasil penelitian, pameran dagang, dan temu bisnis. "Diharapkan acara ISS ke-21 ini akan dapat menjadi daya ungkit untuk memperkuat industri rumput laut nasional," katanya.

Penyelenggaraan ISS ke-21 didukung oleh sejumlah instansi antara lain Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengatakan bahwa pihaknya selalu memfasilitasi dan mendukung asosiasi yang akan menggelar kegiatan baik berskala nasional maupun internasional.

"Apalagi komoditas rumput laut Indonesia dan turunannya memiliki banyak nilai tambah sehingga diharapkan juga dapat menambah entrepreneur (wirausahawan) sehingga selaras dengan tugas Kadin," kata Yugi Prayanto.

Yugi juga menegaskan bahwa setelah melakukan perjalanan keliling nusantara Kadin melihat komoditas tersebut sangat prospektif. (*/gor)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!