ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 20 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Anggodo Gunakan Putusan Ary Muladi Sebagai Novum
Kamis, 24 November 2011 | 15:21

JAKARTA- Terpidana percobaan penyuapan terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Anggodo Widjojo, menggunakan putusan Ary Muladi sebagai novum dalam mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA).

"Novum yang diajukan Anggodo untuk PK kali ini adalah putusan Ary Muladi yang menurut pengacara tidak sesuai dan bertentangan dengan perkara Anggodo," kata Jaksa KPK, Edi Hartoyo, saat ditanya wartawan di Pendagilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (24/11).

Dia juga menjelaskan bahwa novum telah diajukan oleh pihak Anggodo pada pekan lalu.

Edy mengatakan bahwa agenda Kamis ini hanya menandatangani berkas pengajuan PK yang akan dikirimkan ke MA.

"Jadi hari ini hanya tandatangan berkas," ungkap jaksa KPK ini.

Dalam persidangan administrasi PK di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini, kata Edy, pihak Anggodo tidak mengajukan saksi dan ahli.

Sementara Anggodo tidak mau berkomentar saat dimintai keterangan wartawan. "Saya tidak tahu, tanya pengacara saya saja ya," kata Anggodo.

Anggodo yang datang ke pengadilan dengan pengawalan ketat dari polisi selalu menghindar dari wartawan.

Penampilan Anggodo di pengadilan dengan mengenakan kacamata dan topi hitam ini didampingi oleh pengacaranya, Tri Harso Utomo.

Seperti diketahui, Anggodo mengajukan upaya hukum terakhir agar terlepas dari jeratan pidana.

Kuasa Hukum Anggodo mengatakan bahwa pihaknya mengajukan PK mempermasalahkan kekhilafan hakim dalam putusan kasasi.

Sebelumnya, Mahkamah Agung memberat hukuman Anggodo dari 5 tahun penjara menjadi 10 tahun dan denda Rp250 juta subsider lima bulan kurungan.

Anggodo dinyatakan terbukti melakukan pemufakatan jahat, serta terbukti sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan perkara korupsi.

Mahkamah menilai, Anggodo bersama-sama dengan Ary Muladi secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan permufakatan jahat untuk melakukan perbuatan korupsi yakni mencoba menyuap pimpinan dan penyidik KPK lebih dari Rp5 miliar dalam rangka menggagalkan penyidikan kasus korupsi Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan, yang melibatkan Anggoro yang kini buron ke luar negeri.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close