ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

“ Passion-lah yang membuat pengusaha menjadi besar. Selama passion seorang pengusaha masih menyala-nyala, bisnis yang digelutinya bakal berkembang terus.”

ANDIANTO SETIABUDI, Passion Harus Terus Menyala
Senin, 6 Agustus 2012 | 11:39

Dua dekade lalu, Andianto Setiabudi belum apa-apa. Ia hanya anak seorang pengusaha biscuit yang mencoba meneruskan jejak bisnis orangtuanya. Tapi kegigihan, keuletan, dan naluri bisnisnya yang tajam telah membimbing pria kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1962 ini dari satu bisnis ke bisnis lain, sampai akhirnya ia berhasil mengantarkan Cipaganti sebagai salah satu perusahaan transportasi terpadu paling sukses di Tanah Air.

Tak hanya bisnis transportasi, Andianto Setiabudi juga merambah sejumlah sektor bisnis lainnya, dari mulai properti, penyewaan alat-alat berat, hingga bank perkreditan rakyat (BPR) syariah.

Ternyata Andianto bisa survive berkat kemampuannya memelihara gairah (passion) bisnis. “Yang menyebabkan seorang pengusaha itu besar kan passion-nya,” ujar bungsu dari empat bersaudara itu kepada wartawati Investor Daily Inneke T Lady di Bandung, baru-baru ini.

Berikut petikan wawancara tersebut.

Bisa cerita perjalanan karier dan bisnis Anda?
Pada usia delapan tahun, saya mengikuti orangtua, pindah dari Banjarmasin ke Surabaya. Kemudian orangtua saya pindah lagi ke Banjarmasin karena usaha di Surabaya kurang berhasil. Pada 1974, orangtua saya pindah ke Bandung, melanjutkan usaha biskuit saat di Banjarmasin, dengan merek baru Panda. Tetapi usaha ini hanya bertahan setahun, pada 1975 ditutup.

Selanjutnya saya membuat kue tambang yang berhasil menembus Cirebon, Sukabumi, hingga Jakarta. Selepas SMA pada 1981, saya tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, karena saya memiliki keinginan memperbaiki pendapatan keluarga dan memperbesar bisnis makanan ringan. Bahkan saya sempat berpikir untuk bisa memiliki pabrik biskuit sekelas pabrik biskuit Marie milik Om saya.

Saya kemudian membeli rumah dan pabrik biskuit di Kiaracondong, Bandung. Setelah usaha kue tambang, kacang sukro, dan kacang bandung, saya menambah usaha bisnis kerupuk. Tapi kemudian Gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus, sehingga stok aci (bahan baku utama kerupuk) susah didapat. Di samping itu muncul saingan baru. Mulai 1984-1985, usaha makanan ringan benar-benar sepi. Kendaraan operasional menganggur. Akhirnya kendaraan-kendaraan itu saya perbaiki, kemudian dijual.

Pada 1984, saya memutuskan untuk membuka usaha jual beli mobil. Tadinya saya cuma ngompreng di showroom teman saya di Jl Cibadak, Bandung. Saya nungguin di situ. Kalau laku, saya bayar Rp 50 ribu per mobil.

Pada 1985, saya menyewa tempat di Jl Cipaganti No 84 Bandung. Selama dua tahun, saya meyakinkan diri dulu bahwa bisnis mobil itu bisa dikembangkan dengan baik. Baru kemudian saya menutup bisnis makanan ringan. Modalnya saya pakai sebagian untuk mengembangkan showroom mobil bekas itu, namanya Cipaganti Motor, sesuai nama jalan.

Selama enam tahun bisa saya kembangkan, sampai punya beberapa showroom di Bandung dan mengelola kurang lebih lima showroom dengan jumlah armada sekitar 150 unit. Mobilnya macam-macam, ada sedan, jeep, minibus, tapi waktu itu saya hanya fokus ke merek-merek mobil yang banyak dipakai mahasiswa. Makanya, “putarannya” cepat sekali. Jadi, kalau stoknya 150 mobil, diputar sebulan bisa dapat 225 mobil.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!