ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 26 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

4 Strategi Bumi Resources Pangkas Utang
Jumat, 14 September 2012 | 16:28

JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada 27 Agustus lalu menunda pencairan dana investasi sebesar US$ 423 juta pada PT Recapital Asset Management. Padahal, jika dana tersebut cair, Bumi bisa mempercepat penyelesaian utangnya ke CIC senilai US$ 638 juta (Rp 6,38 triliun) yang jatuh tempo pada Oktober 2012 mendatang. Alhasil, bisa mengurangi beban bunga dan utang perseroan yang mencapai Rp 30 triliun hingga 2014 mendatang.

Lalu apa skenario kelompok usaha Bakrie di sektor batubara ini guna menutupi utangnya yang menggunung ke depan?

Direktur Bumi Dileep Srivastava mengatakan, perseroan sengaja menunda penarikan investasi di Recapital karena kondisi pasar finansial global tengah bergejolak. Jika dana investasi ditarik, akan berdampak negatif terhadap perseroan. Untuk itu, perseroan memutuskan memperpanjang investasi di Recapital.

"Dana investasi itu bukan pinjaman, sehingga tidak ada risiko gagal bayar atau apapun, termasuk jika ada keterlambatan saat penarikan.  Kalau kami ambil dananya sekarang, investasinya tidak berkembang,” ujar Dileep kepada Beritasatu.com, di Jakarta, hari ini.

Bumi dan Recapital saat ini sedang melakukan pembicaraan terkait jadwal baru penarikan investasi. "Pembahasan tengah dilakukan antara Bumi Resources dan Recapital terkait jadwal pembayaran yang baru," kata Direktur Bumi Plc, Nick von Schirnding dalam keterangan yang dipublikasi, Selasa (28/8).

Berdasarkan sumber Beritasatu.com, kontrak tersebut diperpanjang untuk setahun ke depan. Meski demikian, dana tersebut bisa dicairkan lebih awal tergantung kesepakatan lebih lanjut. Bumi lebih memilih mencari pinjaman dengan bunga lebih murah, dibanding mencairkan investasinya di Recapital.

Soal pembayaran utang, Dileep mengungkapkan, perseroan tetap akan mempercepat cicilan utang kedua ke CIC. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban bunga. "Kami berinisiatif membayar lebih awal dari yang dijadwalkan," kata Dileep.
 
Menurut Dileep, jatuh tempo utang Bumi Resources ke CIC yang tersisa US$ 1,3 miliar dari total US$ 1,9 miliar masih lama, yakni pada Oktober 2013. "Namun, kita masih berniat untuk membayar lebih awal dari tanggal jatuh tempo ini, tapi tidak ada paksaan atau waktu yang kaku," kata Dileep.

Dileep juga berkilah, jika Bumi Resources tidak membayar utang US$ 637 juta ke CIC pada Oktober 2012 mendatang, perseroan tidak akan mengalami gagal bayar. "Jadi jika kami tidak membayar pada bulan Oktober tahun ini, kita tidak default," kata Dileep.
 
Namun, teka-teki sumber pembiayaan Bumi Resources untuk membayar utang masih menjadi misteri. Untuk mencari pinjaman ke bank lokal sepertinya sudah mustahil mengingat sejak beberapa tahun terakhir, tidak ada bank lokal yang mau mengucuri pinjaman ke Bumi Resources.

Sedangkan jika  mencari utangan ke institusional global dinilai sebagian kalangan sudah maksimal. Credit Suisse atau CIC salah satu contoh lembaga keuangan dunia yang masih mau memberikan pinjaman ke Bumi Resources dengan tingkat bunga yang sangat tinggi.

Menyikapi hal itu, Dileep menyatakan, Bumi Resorces akan memperkuat arus kas perusahaan dengan meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya produksi. Selain itu, perseroan juga akan menciptakan nilai tambah dengan memaksimalkan aset-aset yang minoritas.

Di sisi lain, kata Dileep, Bumi akan berupaya menurunkan utang dan beban bunga. Caranya, dengan mencari pinjaman dengan bunga yang lebih rendah dari beban yang selama ini ditanggung. Sayangnya dia tidak menjelaskan lebih lanjut sumber pendanaan tersebut.

Dia hanya mengungkapkan, perseroan akan mengurangi biaya bunga hingga 50 persen dan menurunkan utang/EBITDA menjadi ke 1x dalam dua tahun ke depan. "Kami memiliki sejumlah opsi untuk pembiayaan kembali utang, saat ini masih dalam tahap pembahasan," kata Dileep.

Jika pinjaman mentok, Bumi Resources juga berencana melego sebagian kepemilikannya di Bumi Resorces Mineral Tbk (BRM) guna mendapatkan suntikan dana segar. Menurutnya, saat ini perseroan masih melakukan pembicaraan dengan para calon investor. "Kita akan mencari mitra strategis di BRM," kata Dileep.

Sumber Beritasatu.com mengatakan, Bumi berencana menjual kepemilikannya di BRM sebesar 20 persen pada akhir tahun 2012. Saham tersebut ditawarkan ke sejumlah investor global asal China dan Eropa. Nilai penjualan 20 persen saham BRM ditaksir mencapai US$ 400 juta-US$ 500 juta.

Pada akhir Agustus lalu, saham Bumi anjlok. Nilai kapitalisasi pasar Bumidi Bursa Efek Indonesia (BEI)  tersisa Rp13,9 triliun pada perdagangan Rabu (29/ 8). Nilai kapitalisasi itu tergerus Rp 40 triliun atau 74 persen dibandingkan posisi tertinggi tahun ini sebesar Rp 54 triliun.

Saham Bumi sempat mencapai harga tertinggi pada 3 Februari 2012 sebesar Rp2.600. Namun, pada perdagangan 29/8, saham Bumi turun Rp90 (11,8 persen) menjadi Rp670. Hingga pukul 15.15 JATS (14/9), saham Bumi naik Rp80 (10,53 persen) mencapai Rp840 dari perdagangan sebelumnya Rp740.  (BS/whisnu bagus)

Utang Bumi yang jatuh tempo:

1. 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun).
2. 2013 mencapai US$1,1 miliar
3. 2014 mencapai US$635 juta
4. 2015 sebesar US$313 juta
4, 2016 sebesar US$450 juta
5. 2017 sebesar US$700 juta.
Jika disederhanakan, hingga 2014 Bumi harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$ 3 miliar (Rp 30 triliun).
Sumber laporan keuangan Bumi 2011


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!