ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 April 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Masih Rendah
Selasa, 29 Maret 2011 | 11:37

JAKARTA - Tingkat pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif di Indonesia masih sangat rendah baru 15,3% bayi yang mendapat ASI ekslusif hingga enam bulan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010.

"Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan kualitas SDM secara umum," kata Dirjen Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan dr Budiharja dalam seminar tentang Peningkatan Pemberian ASI Ekslusif bagi Bayi dalam Mendukung MDG di Jakarta, Selasa.

Budiharja menjelaskan, hingga 80% perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas, sehingga sangat penting untuk mendapatkan ASI yang mengandung protein, karbohidrat, lemak dan mineral yang dibutuhkan bayi.

"Oleh karena itu diperlukan pemberian ASI ekslusif selama enam bulan dan dapat dilanjutkan hingga dua tahun," ujarnya.

Kesadaran masyarakat dalam pemberian ASI ekslusif yang masih rendah menjadi salah satu alasan masih sangat sedikitnya bayi yang mendapat ASI ekslusif itu.

Masalah itu juga diperparah dengan gencarnya promosi susu formula dan kurangnya dukungan dari masyarakat termasuk institusi yang mempekerjakan perempuan yang belum memberikan tempat dan kesempatan bagi ibu untuk menyusui di tempat kerja.

Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) ASI yang sedang disusun, pemerintah akan mengatur mengenai promosi atau iklan dari susu formula termasuk melarang petugas kesehatan bekerjasama dengan produsen susu.

"RPP akan jadi bahan regulasi utama bagi promosi susu formula. Akan dipikirkan bagaimana caranya (melakukan pembatasan)," ujar Budiharja.

Di RPP yang sedang mengalami harmonisasi di Kementerian Hukum dan HAM itu juga akan diatur mengenai ruang menyusui atau ruang laktasi di perusahaan yaang harus dilengkapi dengan keberadaan lemari pendingin (kulkas) untuk menyimpan ASI perahan.

"Di tempat kerja harus ada ruang menyusui yang ada lemari esnya. Tanpa lemari es, ASI bisa basi," kata Budiharja. (gor/ant)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close