ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 26 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

Kekerasan Seksual di Tempat Kerja Seperti Gunung Es
Kamis, 8 Maret 2012 | 12:53

JAKARTA- Kekerasan seksual terhadap perempuan di tempat kerja, khususnya yang terjadi pada perempuan bagaikan fenomena gunung es, karena hanya sedikit dari para korban yang berani melapor.

Hal tersebut diungkapkan oleh juru bicara aksi demonstrasi "Negara Ikut Memperkosa Perempuan" yang dimotori oleh kelompok Forum Keadilan Perempuan di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis pagi (8/3).

"Ada banyak hal yang menyebabkan 'silence' pada korban kekerasan seksual, diantaranya adalah ketidakberpihakan sistem hukum di Indonesia dan pandangan masyarakat kita yang masih menganggap korban pelecehan seksual sebagai tidak bermoral dan barang kotor," kata juru bicara aksi, Iswarini, Jakarta, Kamis.

Iswarini mengatakan, ada beberapa pelecehan seksual yang dilaporkan oleh buruh perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual di tempat kerja.

"Beberapa mengatakan ada yang harus tidur dengan atasan kalau mau naik jabatan, atau bahkan ada yang diperiksa celana dalamnya untuk membuktikan kebenaran saat mereka meminta cuti haid, itu hanya sedikit yang berani mengungkapkan, saya yakin masih banyak kasus pelecehan yang tidak terungkap karena ketidakberpihakan sistim," kata Iswarini.

Lebih lanjut Iswarini mengungkapkan bahwa 50 persen kekerasan seksual yang dilaporkan merupakan perkosaan.

"Ada 400.939 kasus kekerasan yang dilaporkan kepada polisi, 93.960 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual yang 50 persen dari data tersebut adalah jenis kasus perkosaan," kata Iswarini.

Menurut Iswarini, sosialisasi untuk membongkar ke-diam-an para korban pelecehan seksual perlu dilakukan terus menerus agar pandangan patriarkis mengenai perempuan hilang.

"Selama ini ada perspektif bahwa tubuh perempuan adalah pengundang pelecehan seksual di masyarakat kita, salah satu bukti nyatanya adalah pernyataan Marzuki Alie soal rok mini beberapa waktu lalu itu," kata Iswarini.

Melakukan aksi demonstrasi, menurut Iswarini, adalah salah satu cara yang efektif untuk mengembalikan kesadaran masyarakat mengenai cara pandang yang benar dalam menyikapi kekerasan seksual terhadap perempuan.

"Bukan salah tubuh perempuan kalau terjadi kasus pelecehan, kami ingin suatu saat nanti perempuan bisa berjalan dengan aman meski memakai rok mini," kata Iswarini.

Demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok Forum Keadilan Perempuan tersebut bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional.

Tanggal 8 Maret adalah Hari Perempuan Internasional. Itu adalah sebuah hari besar yang dirayakan di seluruh dunia untuk memperingati keberhasilan kaum perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial.(ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!