ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL WAWANCARA COSMOPOLITAN
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 18 Mei 2012
Pencarian Arsip

Flying Health Care untuk Masyarakat Papua
Selasa, 21 Februari 2012 | 8:00

JAYAPURA- Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mencanangkan pelaksanaan peningkatan akses pelayanan kesehatan untuk masyarakat Papua melalui "Flying Health Care" (layanan kesehatan terbang).

"Ada dua kegiatan baru yang tercantum dalam Rencana Aksi 2012-2014, yaitu pelaksanaan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Papua dan pelaksanaan peningkatan akses pelayanan kesehatan melalui 'Flying Health Care'. Kedua kegiatan ini dimulai tahun 2012," ujar Menkes ketika membuka Rakerkesda Provinsi Papua di Jayapura, Senin malam (20/2).

Pembentukan layanan kesehatan "terbang" itu disebut Menkes dibutuhkan khusus bagi daerah seperti Papua yang daerahnya luas dengan jumlah penduduk kecil sehingga akses layanan masyarakat tidak dapat disediakan dengan sistem konvensional, seperti pembangunan puskesmas atau rumah sakit.

"Tantangan untuk penyediaan layanan kesehatan ini bukan pada jumlah penduduk yang besar karena jumlahnya 'hanya' 2,8 juta orang, melainkan pada kondisi geografisnya," ujar Menkes.

Ia mengatakan bahwa perhitungan secara rasio antara jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk di Papua sudah mencukupi. Namun, karena luasnya daerah itu sehingga belum semua penduduk memiliki akses terhadap layanan kesehatan.

Dengan "Flying Health Care", dia berharap agar layanan kesehatan masyarakat di daerah terpencil dapat disediakan oleh satu tim yang akan berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selain membentuk "Flying Health Care" yang akan melengkapi puskesmas keliling maupun puskesmas terapung yang sudah ada sebelumnya, untuk kondisi Papua, Menkes menyebut pihaknya juga membangun RS pratama yang pembangunannya tidak memakan waktu lama dan dapat dipindahkan dengan cepat jika dibutuhkan.

"RS pratama ini adalah rumah sakit tanpa kelas atau kelas 3 semuanya. Pembangunannya secara 'knock down' dalam dua bulan dibangun sudah dapat dioperasikan lengkap dengan laboratorium dan ruang operasi," papar Menkes.

Program-program baru dalam peningkatan akses kesehatan di Papua itu disebut Menkes sebagai upaya untuk menaikkan derajat kesehatan masyarakat Provinsi Papua yang dinilai belum menggembirakan.

Beberapa indikator disebut Menkes adalah di Papua angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, prevalensi gizi buruk, dan prevalensi gizi kurang di Papua masih di atas angka rata-rata nasional.

"Meskipun kita telah melaksanakan pembangunan kesehatan di Papua selama beberapa dasawarsa, tetapi ternyata kita masih harus bekerja lebih keras dan lebih cerdas lagi," kata Menkes.

Ia meminta agar pemda dapat memberikan perhatian bagi masalah itu.

Untuk meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat, Kementerian Kesehatan telah menyususn Rencana Aksi untuk periode 2012-2014 yang terdiri 16 kegiatan.

Lima kegiatan di antaranya terkait dengan penguatan SDM dan peningkatan akses Program Jamkesmas, yaitu penyediaan tim pelayanan kesehatan bergerak (mobile clinic), penyediaan jaminan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Papua di Kelas 3 rumah sakit dan puskesmas melalui Program Jamkesmas dan Jamkesda.

Selain itu, lanjut dia, pembukaan Program Studi Kebidanan dan Keperawatan untuk memenuhi kebutuhan bidan dan perawat, kemudian peningkatan pelayanan medis spesialistik dengan menugaskan residen senior ke beberapa kabupaten/ kota.

Kegiatan lain, penambahan jumlah dokter, dokter gigi, bidan PTT di seluruh kabupaten/kota serta penempatan sanitarian, ahli gizi, analis kesehatan, perawat dan bidan di beberapa kabupaten/kota.

Lima kegiatan berikutnya terkait dengan peningkatan sarana pelayanan kesehatan, yaitu peningkatan rumah sakit pendidikan, revitalisasi rumah sakit rujukan, revitalisasi rumah sakit umum daerah dan pendirian rumah sakit bergerak, peningkatan jumlah puskesmas pembantu, peningkatan jumlah puskesmas perawatan, dan penyediaan rumah bagi tenaga medis.

Enam kegiatan selanjutnya terkait dengan percepatan pencapaian MDG dan intensifikasi pengendalian penyakit tidak menular, yaitu peningkatan status gizi masyarakat melalui Program Makanan Tambahan Anak Sekolah.

Di samping itu, kata dia, peningkatan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular, pengoperasian pos malaria desa, pemenuhan kebutuhan obat dan vaksin di puskesmas dan rumah sakit, intensifikasi penyuluhan kesehatan lingkungan, dan percepatan peningkatan cakupan dan mutu program imunisasi.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Semua Bisa Jadi Investor
Data tidak tersedia.
Close