ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 Juli 2014
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook Google+

BBPOM: Ikan Berformalin Penyebab Kanker
Selasa, 8 Maret 2011 | 9:08

MEDAN-Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Sumatera Utara menyatakan ikan yang mengandung formalin dapat menyebabkan kanker bagi yang mengkonsumsinya dalam jangka panjang.

"Mengonsumsi ikan formalin dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan penyakit kanker, seperti misalnya kanker ginjal. Untuk itu masyarakat harus benar-benar teliti sebelum membeli ikan," kata Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM Sumut, Sacramento Tarigan, di Medan, Senin (7/3).

Ia mengatakan, selain dapat menyebabkan kanker bila mengkonsumsi ikan berformalin dalam jangka waktu yang lama, untuk jangka pendek, masyarakat yang mengkonsumsi ikan berformalin dapat mengalami diare dan terjadinya pengikisan lambung secara berangsur-angsur.

"Ini merupakan jangka pendek akibat mengonsumsi ikan berformalin. Kalau jangka panjangnya bisa menderita kanker," katanya.

Menurut dia, tanggungjawab BBPOM Sumut hanya sebatas produk ikan yang sudah ter olah dan dikemas serta sudah terdaftar di Badan POM.

"Di luar dari itu bukan merupakan tanggungjawab kita. Untuk itu lebih baik kidonfirmasi ke Dinas Perikanan dan Dinas Perdagangan," katanya.

Meski bukan merupakan tanggungjawab BBPOM, ia mencoba memberikan gambaran bagiaman bentuk dan rupa ikan yang mengandung formalin. Antara lain, aroma ikan tidak menimbulkan bau dan kelihatan masih segar dalam jangka waktu yang panjang.

"Ikan hanya mempunyai ketahanan selama dua hari. Lebih dari itu akan menimbulkan bau tidak sedap dan sudah tidak segar lagi. Kalau pun masih kelihatan segar dan tidak bau harus tetap waspada dengan catatan ikan tersebut tidak disimpan di tempat pendingin," katanya.

Namun demikian, lanjutnya, bila diperlukan bisa berkoordinasi dengan BBPOM, misalnya uji laboratorium dan dalam penyuluhan tentang keamanan pangan. (ant/hrb)


Google+


Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!