ENERGY INFRASTRUCTURE & TRANSPORTATIONS AGRIBUSINESS INDUSTRIES, TRADE & SERVICES TELECOMMUNICATION SPORT LIFESTYLE HOTEL AUTOMOTIF TOURISM FAMILY BOOK & CINEMA DINING OUT PROFIL COSMOPOLITAN WAWANCARA
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip
Kunjungi kami di twitter facebook

Banyak Remaja Tak Perhatikan Kesehatan Reproduksi
Senin, 30 April 2012 | 16:26

YOGYAKARTA- Sebagian besar remaja di Indonesia tidak memperhatikan kesehatan reproduksi, sehingga berisiko berperilaku tidak sehat dan cenderung hamil di luar nikah, kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief.

"Jumlah remaja di Indonesia saat ini mencapai 64 juta orang atau 27,6 persen jumlah penduduk. Namun rendahnya kesadaran kesehatan reproduksi telah menimbulkan kerawanan pada reproduksi yang hampir dialami mayoritas remaja," katanya di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Senin (30/4).

Menurut dia pada seminar virginitas, berdasarkan survei Australian National University (ANU) dan Universitas Indonesia (UI) 2010 pada remaja di wilayah Jabotabek sekitar 20,9 persen remaja usia 17-24 tahun mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah.

"Selain itu, sekitar 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Padahal dari segi usia sebenarnya mereka belum siap," katanya.

Ia mengatakan, kerawanan kasus perilaku tidak sehat remaja juga ditunjukkan dengan tingginya penyebaran AIDS di kalangan remaja. Secara kumulatif, kasus AIDS sampai Juni 2011 sebanyak 26.483 kasus, sekitar 45,9 persen di antaranya kelompok usia remaja antara 20-29 tahun.

"Perilaku hidup tidak sehat pada remaja juga dipengaruhi faktor kurang harmonisnya keluarga, lingkungan sekolah yang semakin kompetitif, masyarakat yang semakin individualistik, media yang makin permisif, dan lingkungan pertemanan yang semakin liberal," katanya.

Rektor UAD Kasiyarno mengatakan, saat ini persoalan kesehatan reproduksi remaja terutama terkait virginitas sudah menjadi problem yang mengemuka di berbagai kalangan.

Oleh karena itu, menurut dia, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini untuk mengurangi risiko kasus perilaku menyimpang di kalangan remaja.

Ia mengatakan, banyaknya kasus penyimpangan perilaku remaja juga dipengaruhi oleh lemahnya norma sosial, minimnya pengawalan agama, dan pengaruh budaya asing yang luar biasa.

"Dalam hal ini penting bagi generasi muda untuk membekali diri dengan pengetahuan kesehatan reproduksi," katanya.(ant/hrb)




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!




Close